Rahayu, Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Disseminated Herpes Zoster Subsequent to Ocular Shingles in an Immunocompetent Young Man Following Facial Trauma: A Case Report Grady, Grady; Rahayu, Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha; Saraswati, Putu Dyah Ayu
Indonesian Health Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Indonesian Health Journal
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/ihj.v4i2.726

Abstract

Herpes zoster (HZ) results from the reactivation of latent varicella-zoster virus (VZV), typically triggered by aging or immunosuppression. Herpes zoster ophthalmicus (HZO) affects the ophthalmic branch of the trigeminal nerve (V1), posing a risk of ocular complications. Disseminated herpes zoster (DHZ), a rare form of HZ, is defined by ?20 vesicular lesions beyond the primary and adjacent dermatomes, potentially leading to systemic complications and increased morbidity. Case Presentation: A 36-year-old immunocompetent male presented with disseminated vesicular eruptions across the body, sparing the knees and lower legs, four days after the initial appearance of vesicles along the left ophthalmic (V1) branch of the trigeminal nerve. Notably, the patient had a history of minor trauma at the same site one week prior. A comprehensive evaluation and multidisciplinary management were undertaken, involving ophthalmologists, dermatologists, and neurologists. By the third day of treatment, his pain had significantly subsided, no new lesions had developed, and was discharged. Conclusion: DHZ can occur in immunocompetent individuals at any age, but is more common in older patients. A meticulous history and physical examination are essential, as dermatomal herpes zoster may progress to dissemination. Additionally, the potential link between recent trauma and zoster reactivation may play a contributory role, highlighting the importance of early recognition for prompt intervention.
Studi STUDI RETROSPEKTIF PROFIL KONDILOMA AKUMINATA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD WANGAYA DENPASAR PERIODE NOVEMBER 2023 - NOVEMBER 2024: Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha Rahayu1, Grady1, dr. Tjok Dalem Pemayun, Sp. D.V.E., FINSDV, FAADV2 1Dokter Magang di Rumah Sakit Umum Wangaya Denpasar, Bali, Indonesia 2Departemen Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar, Bali, Indonesia *Penulis Koresponden: Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha Rahayu Email: Mithaparamitha185@gmail.c RAHAYU, Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha; Grady, Grady; Pemayun, Tjok Dalem
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.585

Abstract

Pendahuluan: Kutil anogenital (KAG), dikenal sebagai kondiloma akuminata, adalah infeksi menular seksual yang paling umum di seluruh dunia, disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), tipe 6 dan 11 yang ditularkan melalui hubungan seksual. Tingginya angka kejadian KAG, disertai ketidaknyamanan lokal, gangguan psikososial, dan risiko transformasi maligna menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Akan tetapi, karakteristik demografis dan klinis pasien KAG di rumah sakit daerah di Indonesia, khususnya di Bali, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik epidemiologi dan pola tata laksana KAG di poliklinik kulit dan kelamin sebuah rumah sakit rujukan daerah di Denpasar, guna memberikan data dasar bagi pengembangan strategi pencegahan dan penatalaksanaan yang lebih efektif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif pasien KAG yang berkunjung ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Wangaya Denpasar pada periode November 2023 hingga November 2024. Data pasien diperoleh dan diekstraksi dari rekam medis elektronik RSUD Wangaya. Hasil: Selama periode penelitian 1 tahun, dari total 762 pasien yang berkunjung, sebanyak 32 pasien didiagnosis kutil anogenital, dengan prevalensi 4,19%. KAG lebih banyak ditemukan pada laki-laki (59,4%), dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 17–25 tahun (43,8%). Sebagian besar pasien berpendidikan terakhir SMA (56,2%) dan bekerja di sektor swasta (56,3%). Riwayat hubungan seksual lebih dari satu pasangan dilaporkan 53,1% pasien. Terapi yang umum diberikan adalah asam trikloroasetat (TCA) (56,2%). Kesimpulan: Prevalensi kutil anogenital di rumah sakit tergolong tinggi, dengan variasi karakteristik pasien yang cukup luas. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi pencegahan dan tata laksana yang lebih efektif.