Pencemaran lingkungan yang terjadi di kawasan teluk Youtefa menjadi salah satu penyebab utama rusaknya ekosistem laut di wilayah tersebut, hal itu juga berdampak pada hasil tangkapan ikan yang dikonsumsi menjadi beracun juga menyulitkan penduduk lokal untuk mencari ikat dan menurunnya kesehatan air laut hingga berdampak pada konsumsi air bagi masyarakat asli. Hal ini terjadi karena masih masyarakat yang mendiami kawasan sekitar teluk Youtefa membuang sampah secara sembarang. Sampah tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan bahan yang berbeda-beda. Di samping itu, karena keunikan dan keindahannya, kawasan teluk Youtefa sebagai tempat tujuan wisata banyak menarik wisatawan menikmati pantai dan kesejukan serta keindahannya. Hal ini pun berdampak buruk pada kebersihan lingkungan karena banyak pengunjung yang membuang sampah sembarang. Sering juga rusaknya lingkungan teluk Youtefa karena sampah botol minuman keras yang dibuang sembarang oleh peminum dan pemabuk yang sering menjadikan kesunyian malam kawasan tersebut sebagai lokasi miras yang cocok. Realitas di atas kemudian sangat bertolak belakang dengan arah pembangunan kota Jayapura sesuai moto pembangunan ”Hen T’cahi Yo Onomi Tmar Ini Hanassed”, moto ini menyiratkan bahwa seluruh elemen masyarakat dan pemerintah kota Jayapura untuk membangun kota demi kemuliaan Tuhan. Membuang sampah sembarangan merupakan wujud tindakan yang mencoreng moto pembangunan dan tidak sejalan dengan arah pembangunan kota Jayapura. Berkaitan dengan persoalan di atas, tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyoroti pencemaran lingkungan teluk Youtefa dari sudut pandang teologi, dan langkah-langkah strategis yang perlu dilihat dan dilakukan bersama. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data Observasi, Wawancara dan studi pustaka. Seluruh laporan hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk deskripsi bagi pembaca.