Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mitigasi di Desa Santur Sawahlunto: Upaya Mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang dalam Pemetaan Rawan Bencana Tanah Longsor, Angin Putting Beliung dan Kebakaran: Mitigation in Santur Village, Sawahlunto: Efforts of KKN Students of Padang State University in Mapping Disaster Risk of Landslides, Whirlwinds and Fires Dewa Meuro Pangihutan; Andini Oktary; Indah Wulan Warnesti; Muhammad Dyosa Rifqi; Muhammad Al Adaby; Metha Kemala Rahayu
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 5: Mei 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i5.7572

Abstract

Desa Santur, yang terletak di Kota Sawahlunto, merupakan daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, terutama tanah longsor, angin puting beliung, dan kebakaran. Kondisi geografis yang berbukit serta perubahan iklim yang tidak menentu meningkatkan risiko bencana yang dapat mengancam keselamatan masyarakat. Oleh karena itu, mitigasi bencana menjadi langkah penting dalam upaya mengurangi dampak yang ditimbulkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Padang melaksanakan program pemetaan daerah rawan bencana sebagai langkah mitigasi berbasis partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi titik-titik rawan bencana dan memberikan rekomendasi strategis guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat setempat, serta analisis data historis kejadian bencana. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Desa Santur memiliki tingkat risiko tinggi terhadap tanah longsor akibat kondisi tanah yang labil dan curah hujan tinggi. Selain itu, angin puting beliung kerap terjadi di daerah terbuka dengan vegetasi rendah, sementara kebakaran lebih sering terjadi di permukiman padat penduduk yang memiliki keterbatasan dalam sistem pencegahan kebakaran. Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa merekomendasikan berbagai strategi mitigasi, seperti pembuatan jalur evakuasi, pemasangan rambu peringatan, edukasi kesiapsiagaan bencana, serta peningkatan sistem peringatan dini. Kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan bahwa pemetaan daerah rawan bencana dapat menjadi langkah awal yang efektif dalam mitigasi bencana di tingkat desa, dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Implementasi Teknik Compositing Film Animasi Hybrid “Tingkuluak: Pusaka Perempuan Minang dalam Sehelai Kain" Muhammad Dyosa Rifqi; Sheanny Ocmi Sakti
YASIN Vol 6 No 5 (2026): YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i5.11608

Abstract

Although the use of hybrid animation to convey cultural values continues to develop, studies on the application of compositing that integrates visual and audio elements in Tingkuluak-themed animated films remain limited. This study aimed to describe the implementation of compositing techniques in the hybrid animated film “Tingkuluak: Pusaka Perempuan Minang dalam Sehelai Kain” and assess their contribution to audiovisual unity. The study employed a qualitative descriptive approach with a design-based practice and animation pipeline design. Data were collected through online questionnaires administered to adolescents, school students, and university students, an interview with one key informant, a literature review, production documentation, alpha testing, and beta testing by animation experts. The data were analyzed descriptively and thematically. The results showed that compositing techniques were able to integrate 2D and 3D animation, motion graphics, voice-over, sound effects, background music, and simple visual effects through layer arrangement, color grading, audio processing, and audiovisual integration. The testing results identified three technical aspects requiring improvement, namely visual composition, transitions, and lighting, as well as five expert recommendations covering title design, subtitles, text animation, color consistency, and character expressions. These findings confirm that compositing serves as both a technical and creative stage in establishing audiovisual unity and supporting the communicative delivery of Minangkabau cultural messages.