Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Family Communication Education Related to Children's Emotion Regulation Through New Media Tiktok Rizky, Dimas Ageng; -, Talitha Ulfa Raissa
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1298

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana akun TikTok @dhannicha dimanfaatkan sebagai media edukasi komunikasi keluarga, khususnya dalam membantu orang tua mengelola temper tantrum anak melalui regulasi emosi yang sehat. Studi ini menganalisis pola komunikasi keluarga dengan orientasi percakapan dan gaya pengasuhan otoritatif yang ditampilkan dalam konten tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk memahami bagaimana konten tersebut mendukung edukasi parenting yang responsif dan empatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi komunikasi verbal dan non-verbal berperan penting dalam membangun interaksi yang responsif dan empatik antara orang tua dan anak. Validasi emosi membantu anak mengenali serta memahami perasaannya, sementara arahan konstruktif dan batasan perilaku memberikan struktur yang mendukung pengendalian emosi secara adaptif. Selain itu, bentuk komunikasi non-verbal seperti kontak fisik memperkuat ikatan emosional dan menciptakan rasa aman bagi anak. Penelitian ini menegaskan bahwa TikTok bukan hanya platform hiburan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sarana edukasi parenting yang interaktif, praktis, dan relevan dengan kebutuhan keluarga modern. Temuan ini memberikan wawasan bagi orang tua dan praktisi pendidikan mengenai pemanfaatan media sosial dalam membangun pola asuh yang lebih responsif terhadap perkembangan emosional anak. This study explores how @dhannicha's TikTok account is utilized as an educational medium for family communication, particularly in helping parents manage children's temper tantrums through healthy emotion regulation. This study analyzes family communication patterns with a conversational orientation and authoritative parenting style displayed in the content. This research uses qualitative content analysis method to understand how the content supports responsive and empathic parenting education. The results show that a combination of verbal and non-verbal communication plays an important role in building responsive and empathic interactions between parents and children. Emotion validation helps children recognize and understand their feelings, while constructive directives and behavioral boundaries provide a structure that supports adaptive emotional control. In addition, non-verbal forms of communication such as physical contact  strengthen emotional bonds and create a sense of security for children. This study highlights that TikTok is not merely an entertainment platform but also serves as an interactive, practical, and relevant parenting education tool for modern families. hese findings offer valuable insights for parents and educational practitioners regarding the utilization of social media in fostering a more responsive parenting approach to children's emotional development.
The Use of Graphic Medicine (Comics) by Taulebih as A Tool to Promote Health Literacy About Reproductive Health -, Talitha Ulfa Raissa
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1316

Abstract

Studi ini mengeksplorasi penggunaan graphic medicine, khususnya komik, untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja terkait kesehatan reproduksi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komik, dengan kombinasi elemen visual dan narasi, secara efektif mengomunikasikan topik kesehatan yang kompleks dengan cara yang sensitif terhadap budaya dan menarik. Menggunakan metode analisis konten kualitatif, penelitian ini mengkaji konten Instagram dari Taulebih, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada edukasi kesehatan seksual dan reproduksi. Data dikumpulkan melalui tangkapan layar komik dan dilengkapi dengan literatur yang relevan.Hasil penelitian menunjukkan efektivitas komik dalam menyederhanakan informasi medis yang kompleks, membangun koneksi emosional melalui karakter yang relatable, serta menggunakan bahasa dan visual yang sesuai dengan budaya. Elemen-elemen ini secara efektif mengangkat topik kesehatan yang sensitif, seperti endometriosis dan HIV/AIDS, dengan menantang kesalahpahaman serta mendorong edukasi kesehatan sejak dini.Komik tidak hanya meningkatkan pemahaman pesan, tetapi juga mendorong perilaku kesehatan yang proaktif, termasuk berkonsultasi dengan tenaga medis dan menormalkan diskusi tentang kesehatan reproduksi.Studi ini menekankan potensi graphic medicine dalam merevolusi pendidikan kesehatan, terutama bagi audiens muda dan individu dengan literasi kesehatan yang rendah, dengan menggabungkan aksesibilitas, keterkaitan, dan relevansi budaya. This study explores the use of graphic medicine, specifically comics, to enhance adolescents' health literacy regarding reproductive health in Indonesia. The research aims to analyze how comics, with their combination of visual elements and narrative, effectively communicate complex health topics in a culturally sensitive and engaging manner. Using qualitative content analysis, the study examined Instagram content from Taulebih, a non-profit organization focused on sexual and reproductive health education. Data were collected through screenshots of comics and supplemented with relevant literature. The findings demonstrate the effectiveness of comics in simplifying complex medical information, fostering emotional connections through relatable characters, and using culturally appropriate language and visuals. These elements effectively address sensitive health topics, such as endometriosis and HIV/AIDS, by challenging misconceptions and promoting early health education. Comics not only improve message comprehension but also encourage proactive health behaviors, including consulting medical professionals and normalizing discussions on reproductive health. This study underscores the potential of graphic medicine to revolutionize health education, particularly among young audiences and those with lower health literacy, by combining accessibility, relatability, and cultural relevance.