Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Akselerasi Penanggulangan Tuberkulosis melalui Pendekatan Public-Private Mix di Indonesia: Sebuah Tinjauan Pustaka: Nanda Fitri Wardani Wardani, Nanda Fitri
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp50-56

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan tantangan utama berupa rendahnya angkadeteksi kasus dan kurangnya pelaporan dari sektor swasta. Artikel inimenyajikan tinjauan pustaka terhadap implementasi pendekatan Public-Private Mix (PPM) dalam penanggulangan TB, baik secara global maupun di Indonesia. Pendekatan PPM bertujuan mengintegrasikanseluruh penyedia layanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta kedalam sistem pengendalian TB nasional untuk memperkuat notifikasikasus, menjamin tata laksana yang sesuai standar, dan meningkatkancapaian pengobatan. Studi dari berbagai negara seperti India, Korea Selatan, dan Filipina menunjukkan bahwa pelibatan aktif sektor swastamelalui insentif, sistem pelaporan digital, dan akreditasi fasilitaskesehatan dapat meningkatkan angka keberhasilan pengobatan sertamengurangi pasien putus berobat. Di Indonesia, pelaksanaan PPM melalui strategi District-based PPM telah menunjukkan hasil positifnamun masih menghadapi tantangan dalam koordinasi, pendanaan, dan kapasitas daerah. Dengan mengadopsi praktik terbaik global dan menyesuaikannya dengan konteks lokal, PPM memiliki potensi besaruntuk mempercepat eliminasi TB di Indonesia pada 2030. Tinjauan inimenekankan perlunya dukungan politik, penguatan regulasi, dan kolaborasi multisektoral sebagai fondasi keberhasilan implementasi PPM di masa mendatang. Kata kunci: Tuberkulosis, Public-Private Mix, Eliminasi TB, SistemKesehatan
UPAYA PENINGKATAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DUSUN BANJAREJO, DESA MERAK BATIN, KECAMATAN NATAR, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Sutarto, Sutarto; Wardani, Nanda Fitri; Puspita Sari, Ratna Dewi; Utama, Winda Trijayanthi; Indriyani, Reni
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 9 No. 2 (2024): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v9i2.3343

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan kebutuhan vital bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupan, namun cakupan pemberiannya di Indonesia masih rendah, khususnya di daerah dengan keterbatasan akses informasi kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman ibu hamil dan menyusui tentang pentingnya ASI eksklusif di Dusun Banjarejo, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Metode yang digunakan dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat (PKM) ini terdiri dari tiga tahap: persiapan dengan kajian literatur dan survei awal, pelaksanaan penyuluhan melalui ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi praktik, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta secara signifikan, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 3,33 yang meningkat menjadi 6,73 pada post-test, menghasilkan total peningkatan sebesar 102%. Peningkatan paling signifikan terlihat pada pertanyaan tentang cara mengatasi pembengkakan payudara dan durasi pemberian ASI eksklusif. Hasil ini mengindikasikan keberhasilan metode penyuluhan dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai ASI eksklusif dan praktik menyusui yang benar. Kesimpulannya, kegiatan PKM ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif, dan untuk keberlanjutan program, disarankan dilakukan penyuluhan rutin serta penguatan akses terhadap informasi dan fasilitas yang mendukung, agar target kesehatan nasional dapat tercapai dengan baik.
STRATEGI EDUKASI BERBASIS POSYANDU DALAM PENCEGAHAN KANKER SERVIKS PADA PEREMPUAN DI DESA HAJIMENA KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Wardani, Nanda Fitri
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i2.3741

Abstract

Kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Rendahnya cakupan pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan vaksinasi HPV terutama disebabkan oleh kurangnya informasi, rasa malu, serta minimnya kesadaran terhadap pentingnya deteksi dini. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perempuan tentang pencegahan kanker serviks melalui penyuluhan edukasi CERVIKA (Cegah Risiko Kanker Serviks Sejak Dini). Sasaran kegiatan adalah 21 perempuan usia produktif di Posyandu Cemara, Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan dilakukan dengan metode penyampaian materi dan diskusi interaktif mengenai risiko kanker serviks, deteksi dini IVA, serta pentingnya vaksinasi HPV. Evaluasi dilakukan melalui pre–post test menggunakan kuesioner 10 butir pilihan ganda. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pengetahuan peserta dengan rerata skor meningkat dari 30,95 menjadi 50,48 setelah penyuluhan, serta seluruh peserta menunjukkan peningkatan skor pengetahuan. Dengan demikian, kegiatan edukasi CERVIKA terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta tentang pencegahan kanker serviks. Keberhasilan ini diharapkan menjadi langkah awal peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini secara teratur.
Tinjauan Literatur : Interaksi Berbagai Faktor Risiko Gangguan Pendengaran Akibat Bising “Noise-Induced Hearing Loss” (NIHL) Calista Putri Maharani; Trijayanthi Utama, Winda; Wardani, Nanda Fitri; Sutarto, Sutarto
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v9i1.4115

Abstract

Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) is one of the most prevalent occupational diseases worldwide, yet prevention efforts remain suboptimal. Traditional linear models focusing solely on noise intensity have failed to capture the multifactorial nature of this condition. This study is a narrative literature review aimed at analyzing the multifactorial interactions among biological, environmental, and behavioral factors contributing to NIHL. Literature was searched through PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar databases using inclusion criteria for studies published between 2010 and 2024. Of 86 identified articles, five key studies were selected for synthesis. The findings reveal that NIHL is primarily triggered by high-intensity noise exposure, further amplified by temporal characteristics of noise (kurtosis), combined exposure to dust or ototoxic chemicals, and modulated by age, work duration, and individual behaviors such as smoking and compliance with hearing protection. In conclusion, NIHL is best understood as the outcome of a multifactorial risk network, emphasizing the need for a paradigm shift toward holistic, personalized, and evidence-based prevention strategies. Keywords: Hearing Loss; Noisy, NIHL; multifactorial risk; literature review
Determinasi Faktor Lingkungan dan Individu terhadap Kejadian Sick Building Syndrome: Tinjauan Literatur Asyifa Dinda Putri; Trijayanthi Utama, Winda; Wardani, Nanda Fitri; Sutarto, Sutarto
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v9i1.4118

Abstract

ABSTRAK Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kumpulan gejala yang muncul akibat kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat. Faktor lingkungan fisik, karakteristik individu, dan aspek psikososial diketahui berperan penting terhadap kejadian SBS di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kejadian SBS berdasarkan hasil tinjauan literatur terkini di Indonesia. Metode penelitian menggunakan literature review terhadap lima artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu membahas hubungan antara kondisi lingkungan fisik, faktor individu, dan aspek psikososial dengan kejadian SBS pada pekerja perkantoran. Hasil telaah menunjukkan bahwa suhu udara, pencahayaan, kadar debu, dan paparan formaldehida merupakan faktor lingkungan utama penyebab SBS. Faktor individu seperti umur, jenis kelamin, masa kerja, dan perilaku merokok berperan memperkuat pengaruh lingkungan, sedangkan stres kerja dan kepuasan kerja rendah memperburuk persepsi gejala. SBS merupakan kondisi multifaktorial yang muncul akibat interaksi antara faktor lingkungan, individu, dan psikososial. Pencegahan dan pengendalian SBS perlu dilakukan melalui pendekatan biopsikososial yang terintegrasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Kata kunci :Sick Building Syndrome; faktor lingkungan; biopsikososial
Faktor risiko kebersihan makanan dan sanitasi rumah tangga terhadap kejadian demam tifoid Rajagukguk, Nanda Frisila; Sutarto, Sutarto; Wardani, Nanda Fitri; Windarti, Indri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2160

Abstract

Background: Food hygiene and household sanitation practices have a significant impact on the spread of typhoid fever, which remains a major public health problem in low- and middle-income countries. Evidence from four studies examining risk factors for typhoid fever related to food and household sanitation is summarized in this synthesis. Purpose: To examine the impact of household sanitation conditions and food hygiene practices on the prevalence of typhoid fever, offering evidence that can guide community initiatives and policy improvements. Method: A systematic review was conducted to examine the results of cross-sectional, cohort, and case-control studies. Key factors for typhoid transmission were identified by extracting reported associations, such as odds ratios (ORs), adjusted odds ratios (aORs), and risk ratios (RRs). Results: Several studies have shown that consuming raw, unwashed vegetables, food from street vendors, and street food are all strongly associated with an increased risk of contracting typhoid. This increased risk is also associated with access to hazardous drinking water, poor sanitation facilities, and household water treatment has been found to have a protective effect. Conclusion: Consistent evidence from several study designs suggests that food hygiene, water safety, and household sanitation play a significant role in the spread of typhoid fever. Keywords: Typhoid Fever; Risk Factors; Food Hygiene; Household Sanitation. Pendahuluan: Praktik higiene makanan dan sanitasi rumah memiliki dampak besar terhadap penyebaran demam tifoid yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bukti dari empat penelitian yang mengkaji faktor risiko demam tifoid terkait makanan dan sanitasi rumah tangga dirangkum dalam sintesis ini. Tujuan: Untuk mengkaji dampak kondisi sanitasi rumah tangga dan praktik higiene makanan terhadap prevalensi demam tifoid dengan menawarkan bukti yang dapat memandu inisiatif masyarakat dan peningkatan kebijakan. Metode: Penelitian dengan pendekatan systematic review dilakukan untuk mengkaji hasil dari studi potong lintang, kohort, dan kasus-kontrol. Faktor-faktor kunci penularan tifoid diidentifikasi dengan mengekstraksi asosiasi yang dilaporkan, seperti rasio peluang (OR), rasio peluang yang disesuaikan (aOR), dan rasio risiko (RR). Hasil: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi sayuran mentah yang tidak dicuci, makanan dari pedagang kaki lima, dan makanan jajanan semuanya sangat terkait dengan peningkatan risiko tertular tifoid. Peningkatan risiko juga dikaitkan dengan akses air minum yang berbahaya, fasilitas sanitasi yang buruk serta pengolahan air rumah tangga ditemukan memiliki efek perlindungan. Simpulan: Terdapat bukti konsisten dari beberapa desain studi yang menunjukkan bahwa higiene makanan, keamanan air, dan sanitasi rumah tangga berperan penting dalam penyebaran demam tifoid. Kata Kunci: Demam Tifoid; Faktor Resiko; Kebersihan Makanan; Sanitasi Rumah Tangga.      
Literature Review: Peran Aseptik dan Antiseptik Dalam Pencegahan Infeksi Daerah Operasi: Muhammad Geges Afrila, Nanda Fitri Wardani, Giska Tri Putri Wardani, Nanda Fitri
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp266-272

Abstract

Prinsip septik dan antiseptik merupakan landasan penting dalam praktik kedokteran yang bertujuan untuk melindungi pasien dari infeksi terkait pelayanan kesehatan. Meskipun demikian, kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ini tetap menjadi tantangan global yang signifikan. Tinjauan pustaka ini menyintesis dan menganalisis bukti-bukti ilmiah untuk menegaskan kembali peran krusial dari praktik aseptik dan antiseptik. Analisis menunjukkan bahwa kebersihan tangan adalah intervensi tunggal yang paling efektif dan hemat biaya dalam mencegah transmisi patogen, meskipun kepatuhan yang rendah masih menjadi masalah yang persisten. Kegagalan dalam sterilisasi peralatan dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak tepat terbukti menyebabkan berbagai kerugian, termasuk wabah infeksi dan kerugian hukum yang besar. Lebih jauh lagi, ketidakpatuhan menimbulkan beban klinis dan ekonomi yang sangat besar, yang dimanifestasikan oleh peningkatan morbiditas, mortalitas, perpanjangan masa rawat inap, dan biaya perawatan yang membengkak. Pada akhirnya, disimpulkan bahwa praktik aseptik dan antiseptik bukan sekadar prosedur teknis, melainkan pilar esensial dalam membangun budaya keselamatan pasien yang kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan komitmen berlapis dari praktisi klinis, manajemen fasilitas kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk memastikan implementasi yang ketat dan mengatasi tantangan yang ada. Kata Kunci: Aseptik, Antiseptik, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (HAIs), Kebersihan Tangan, Infeksi Daerah Operasi (IDO), Budaya Keselamatan Pasien.