Individual development from birth to adulthood involves different complexities and responsibilities at each stage. Adolescence, as a crucial transition to adulthood, emphasizes the importance of readiness to face the world of work. In this context, students, as part of the adolescent group, have the responsibility to develop academic knowledge and abilities. Optimal academic achievement is not only beneficial for students but also for society. This study focuses on the relationship between academic resilience and wisdom in high-achieving students who experience impostor syndrome, as well as the role of self-esteem in this dynamic. This quantitative study with a correlational design involved 379 high-achieving students ranging in age from 18 to 26 years. Data were collected using the Academic Resilience Scale, Rosenberg Self-esteem Scale, Clance Impostor Phenomenon Scale, and Brief Self-Assessed Wisdom Scale. The results showed that academic resilience had a significant positive contribution to wisdom in students with impostor syndrome. In contrast, self-esteem was not found to contribute significantly to wisdom in the same group of students. These findings underscore the importance of academic resilience in fostering wisdom among high-achieving students who face the challenges of impostor syndrome. ABSTRAKPerkembangan individu dari lahir hingga dewasa melibatkan kompleksitas dan tanggung jawab yang berbeda pada setiap tahapnya. Masa remaja, sebagai transisi krusial menuju kedewasaan, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi dunia kerja. Dalam konteks ini, mahasiswa, sebagai bagian dari kelompok remaja, memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan akademik. Prestasi akademik yang optimal tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa tetapi juga bagi masyarakat. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara resiliensi akademik dan kebijaksanaan pada mahasiswa berprestasi tinggi yang mengalami impostor syndrome, serta peran harga diri dalam dinamika ini. Studi kuantitatif dengan desain korelasional ini melibatkan 379 mahasiswa berprestasi tinggi dengan rentang usia 18 hingga 26 tahun. Data dikumpulkan menggunakan Skala Resiliensi Akademik, Rosenberg Self-esteem Scale, Clance Impostor Phenomenon Scale, dan Brief Self-Assessed Wisdom Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi akademik memiliki kontribusi positif yang signifikan terhadap kebijaksanaan pada mahasiswa dengan impostor syndrome. Sebaliknya, harga diri tidak ditemukan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kebijaksanaan pada kelompok mahasiswa yang sama. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya resiliensi akademik dalam menumbuhkan kebijaksanaan di kalangan mahasiswa berprestasi yang menghadapi tantangan impostor syndrome.