Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Praktik Konsumsi dan Pemaknaan terhadap Komik “Garudayana” Karya Is Yuniarto oleh Anak Muda Penggemar Manga sebagai Agen Pelestarian Wayang Rahaditya Puspa Kirana
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.42 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10227

Abstract

Komik Jepang terjemahan atau yang disebut dengan manga telah menjadi salah satu budaya popular di Indonesia. Dalam skala nasional, telah muncul anak muda yang mulai memproduksi komik sendiri, yaitu Is Yuniarto, yang telah mengangkat pewayangan sebagai latar belakang cerita dalam komiknya dengan gaya gambar seperti halnya manga atau komik Jepang. Komik Garudayana karya Is Yuniarto menunjukkan bahwa komik yang merupakan budaya populer dan wayang yang merupakan seni tradisional Indonesia dapat bersatu dengan harmonis. Oleh karena itu, penelitian ini membahas bagaimana penerimaan generasi muda terutama penggemar manga terhadap komik Garudayana. Dengan menggunakan kerangka metode kualitatif, penelitian ini mengambil data penelitian melalui wawancara dengan anak muda penggemar manga yang  juga merupakan anggota komunitas pecinta budaya Jepang di Surabaya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori resepsi (Encoding Decoding) dari Stuart Hall dan teori identitas Jenkins. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakanak muda tersebut melakukan praktik konsumsi tidak hanya dengan membaca komiknya saja tetapi juga memproduksi makna baru dari kegiatan konsumsi mereka dengan melakukan cosplay. Cosplay Garudayana tersebut menunjukkan bahwa bentuk konsumsi tersebut menciptakan identitas baru bagi mereka yaitu sebagai agen pelestari seni budaya tradisional Indonesia, yaitu wayang. Mereka merupakan penggemar budaya populer Jepang yang juga turut melestarikan seni budaya wayang pada saat yang bersamaan.
ANALISIS MASKULINITAS PADA TOKOH PRIA DALAM DRAMA HANAZAKARI NO KIMITACHI E REMAKE Meinar Amelia Asoka; Kirana, Rahaditya Puspa
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 2 (2020): Cultural Symbols of Japan in Mass Media
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i2.51561

Abstract

Panjangnya jam kerja pria di Jepang pada saat gelembung ekonomi membuat pria menjadi jauh dari keluarganya dan terpaksa menjalani gaya hidup sebagai penggila kerja yang mengakibatnya terjadinya karoushi (kematian mendadak). Setelah itu pada tahun 1990an, saat gelembung ekonomi jatuh juga semakin memberikan tekanan yang berat bagi pria di Jepang sehingga banyak pria paruh baya yang melakukan bunuh diri. Dari kejadian tersebut, menyebabkan pergerakan pria generasi selanjutnya mulai berkembang karena mereka tidak ingin menjadi seperti ayahnya atau pria paruh baya lainnya. Hal ini mengakibatkan sedikit demi sedikit sistem patriarki yang diidentikkan dengan suami sebagai pencari nafkah dan wanita mengurus pekerjaan rumah tangga serta membesarkan anak semakin melemah. Sehingga maskulinitas di Jepang semakin bergeser dan memunculkan pemuda dengan maskulinitas baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan representasi maskulinitas baru Jepang pada tokoh pria dalam drama Jepang Hanazakari no Kimitachi e Remake. Penelitian menggunakan metode kualitatif beserta teori semiologi Barthes untuk mendeskripsikan dan menganalisa makna dan tanda maskulinitas dalam drama. Hasilnya menunjukkan tokoh yang memiliki karakteristik maskulinitas berbeda yaitu maskulinitas baru soushokukei danshi. The length of man's working hours in Japan at the time of the economic bubble, left men far from his family and forced to live a lifestyle as a workaholic that resulted in the occurrence of karoushi (sudden death). After that, in the 1990s, as the economic bubble fell, it also put more pressure on men in Japan, so many middle-aged men committed suicide. From that case, causing the movement of the next generation of men began to develop because they do not want to be like his father or other middle-aged man. This resulted in little by little the patriarchal system identified with the husband as the breadwinner and the woman taking care of household chores and raising the child further weakened. So that masculinity in Japan is increasingly faded and gave rise to youth with new masculinity. The purpose of this study was to describe a new Japanese masculine representation of male characters in the Japanese drama Hanazakari no Kimitachi e Remake. The study used qualitative methods along with Barthes's semiology theory to describe and analyze the meaning and sign of masculinity in drama. The results show there characters who have different masculinity characteristics of new masculinity, it is soushokukei danshi.
ANALISIS RESEPSI HARAJUKU STREET FASHION SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN: STUDI KASUS ANGGOTA KOMUNITAS HARAJUKU STREET SURABAYA Poppy Putri Hardanti; Kirana, Rahaditya Puspa
Japanology: The Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 1 (2019): Japanese Urban Language and Culture in Literature, Mass Media, and Commercial M
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jjs.v8i1.51567

Abstract

Harajuku street fashion is a popular street fashion among youngster.This fashion's popularity is very high, not only in Japan, but almost in around the world. Harajuku street fashion has many various types of styles, such as visual kei, decora, Ura-Harajuku, lolita, Mori kei, and fairy kei.Each of these styles has different meaning also have different reasons to the one who wear it. One of reasons the fans of this fashion in Japan is they wear it as a form of rebellion.  This research aims to describes the acceptance of the members of the Harajuku Street Surabaya community towards harajuku street fashion.This research is conducted by using qualitative research method through case study approach also used an interview method as a data collecting methods. This research used Stuart Hall's reception theory (encoding-decoding) to find the acceptance positions conducted by informants. The results obtained there are two positions which occupied by informants, dominant-hegemonic and negotiated. The informants whom in dominant-hegemonic position, approve the messages brought by the encoder (harajuku street fashion) and reinterpret the messages according to the encoding rules. While the informants who are in a negotiated position accept and understand the messages, but they have exceptions and make their own rules.