Holida, Siti Solihat
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Sosialisasi SADARI sebagai strategi efektif membangun ketahanan kesehatan reproduksi Holida, Siti Solihat; Yusdian, Yudi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1265

Abstract

Background: Pest control with pesticides effectively increases agricultural yields, but exposure to synthetic compounds such as organophosphates carries the risk of neurological damage, reproductive disorders, and carcinogenesis, including increased incidence of breast cancer. Students from the Faculty of Agriculture, Bale University, Bandung, are vulnerable to exposure during field practice, while their knowledge of early breast cancer detection remains low. The Breast Self-Examination (SADARI) education program is proposed as a low-cost and practical preventive measure to increase awareness and early detection skills. This initiative supports students' role as agents of change in strengthening the health of rural communities. Purpose: To increase knowledge and awareness among students from the Faculty of Agriculture, Bale University, Bandung, regarding reproductive health and SADARI as an early detection method for breast cancer. Method: The type of activity carried out was health education to the community with the theme "Socialization of BSE and Clinical Breast Examination: An Effective Strategy to Build Reproductive Health Resilience in Agricultural Students." The target of this activity was 23 third-semester students, who were of productive age and vulnerable to various reproductive health risks. The first activity was held on Saturday, March 23, 2024, from 08.00 WIB to 15.00 WIB. at the Faculty of Agriculture Experimental Garden, in the form of demonstrations and direct practice by participants, such as breast self-examination (BSE) simulations, which are an important part in developing participants' practical skills. The second activity was held on Monday, April 1, 2024, from 08.00 WIB to 15.00 WIB. in the classroom, participants were given educational materials regarding reproductive health, breast cancer risk factors, and steps to perform BSE correctly, which were delivered through presentations, educational videos, and interactive discussions to explore participants' understanding and provide a question and answer space. Results: The pre-test showed that 7 (30.4%) respondents' knowledge of early detection and breast cancer risk was in the good category, 12 (52.2%), and 4 (17.4%) were in the poor category. Meanwhile, the post-test respondents' knowledge of early detection and breast cancer risk was all in the good category, at 23 (100.0%). Conclusion: The community service activity themed Breast Self-Examination (SADARI) education and outreach for agricultural students was implemented smoothly and successfully increased participants' knowledge, awareness, and skills in maintaining reproductive health and conducting early breast cancer detection. Through a combination of theoretical counseling and direct practice, students gained conceptual understanding and practical experience as health education agents in the community, particularly in rural areas. Suggestion: It is hoped that this activity will be carried out continuously by participants, thereby encouraging independent SADARI practice and disseminating information and correct health practices in rural areas and the agricultural sector, which will be the participants' primary service areas, as a form of preventive behavior in maintaining reproductive health. Keywords: Breast cancer prevention; Pesticide exposure; Reproductive health; SADARI method Pendahuluan: Pengendalian hama dengan pestisida efektif meningkatkan hasil pertanian, namun paparan senyawa sintetik seperti organofosfat berisiko memicu kerusakan neurologis, gangguan reproduksi, dan karsinogenesis, termasuk meningkatnya insiden kanker payudara. Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Bale Bandung rentan terpapar saat praktik lapangan, sementara pengetahuan deteksi dini kanker payudara di kalangan mereka masih rendah. Program edukasi mandiri SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) diusulkan sebagai langkah preventif murah dan praktis untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan deteksi dini. Inisiatif ini mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam memperkuat kesehatan masyarakat pedesaan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran Mahasiswa fakultas pertanian Universitas Bale Bandung  tentang kesehatan reproduksi dan SADARI sebagai upaya deteksi dini terhadap kanker payudara. Metode: Jenis kegiatan yang dilaksanakan berupa pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan mengusung tema “Sosialisasi SADARI dan Pemeriksaan Klinis Payudara: Strategi Efektif Membangun Ketahanan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa Pertanian.” Sasaran kegiatan ini adalah 23 mahasiswa semester III, yang berada pada usia produktif dan rentan terhadap berbagai risiko kesehatan reproduksi. Kegiatan pertama dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 23 Maret 2024, mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, berupa demonstrasi dan praktik langsung oleh peserta, seperti simulasi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), yang menjadi bagian penting dalam membentuk keterampilan praktis peserta. Kegiatan kedua dilaksanakan pada hari senin tanggal 1 April 2024, pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. di ruang kelas, peserta diberikan materi edukatif mengenai kesehatan reproduksi, faktor risiko kanker payudara, serta langkah-langkah melakukan SADARI dengan benar, yang disampaikan melalui presentasi, video edukatif, dan diskusi interaktif untuk menggali pemahaman peserta serta memberikan ruang tanya jawab. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang deteksi dini dan risiko kanker payudara pre-test dalam kategori baik sebanyak 7 (30.4%), kategori cukup sebanyak 12 (52.2%), dan kategori kurang sebanyak 4 (17.4%). Sedangkan tingkat pengetahuan responden tentang deteksi dini dan risiko kanker payudara post-test semuanya dalam kategori baik yaitu sebanyak 23 (100.0%). Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat bertema edukasi dan sosialisasi SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) bagi mahasiswa pertanian telah terlaksana dengan lancar dan berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan peserta dalam menjaga kesehatan reproduksi serta melakukan deteksi dini kanker payudara. Melalui kombinasi penyuluhan teori dan praktik langsung, mahasiswa memperoleh pemahaman konseptual sekaligus pengalaman aplikatif sebagai agen edukasi kesehatan di masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Saran: Diharapkan kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan oleh peserta, sehingga dapat mendorong praktik SADARI secara mandiri dan menyebarluaskan informasi serta praktik kesehatan yang benar di lingkungan pedesaan dan sektor pertanian yang menjadi wilayah pengabdian utama peserta kelak, sebagai bentuk perilaku preventif dalam menjaga kesehatan reproduksi.
Peningkatan pengetahuan pola makan sehat untuk pencegahan gastritis pada petani Holida, Siti Solihat; Safari, Ganjar; Yuliana, Lia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2606

Abstract

Background: Gastritis is a common digestive health problem among productive age groups, including farmers, due to irregular eating patterns and inappropriate food choices. Farmers' physically demanding work activities and long working hours often lead to delayed mealtimes, increasing the risk of gastritis. Purpose: To increase farmers' knowledge about healthy eating habits as a means of preventing gastritis. Method: This community service activity was conducted on January 18th in Mekarsari Village, Cimaung District, involving 10 farmers as respondents. This community service activity used an educational and participatory approach based on community nursing, oriented towards increasing knowledge and empowering farmers in gastritis prevention efforts through the implementation of healthy eating habits. The extension material was delivered through interactive lectures supported by posters and leaflets, combined with discussions and questions and answers. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). A descriptive qualitative evaluation was conducted by comparing changes in respondents' knowledge levels between before and after the educational activity. Results: The average age of respondents was 39.2 years with a standard deviation of ±8.79 years. Most respondents were aged 40–49 years (40.0%). 50.0% of respondents were male and 50.0% were female. The educational level of respondents was 40.0% elementary school graduates, 40.0% junior high school graduates, and 20.0% high school graduates. The majority of respondents had worked as farmers for >10 years (6 respondents) and most respondents had a history of stomach complaints (8 respondents) (80.0%). There was an increase in respondents' knowledge about diet and gastritis prevention to 80.0% (post-test) in the good category from 60.0% before the educational activity (pre-test). Conclusion: The Community Service (PKM) activity, which provided education on healthy eating patterns for farmers, effectively increased participants' knowledge of healthy eating principles and gastritis prevention efforts. This activity also provided relevant benefits that can be continued and developed as a promotional and preventive program in the community, particularly for groups of farmers at risk of gastric health problems, thereby contributing to improving community health. Suggestion: It is hoped that the community will apply and share health information related to the knowledge gained regarding regular mealtimes and selecting safe foods for the stomach in their daily lives. Community Health Centers are also expected to collaborate with relevant parties to ensure the sustainability of community-based health education programs as a promotional and preventive effort, particularly in preventing gastritis. Keywords: Health education; Gastritis; Community health; Farmers; Healthy eating patterns Pendahuluan: Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran cerna yang sering dialami oleh kelompok usia produktif, termasuk petani, akibat pola makan yang tidak teratur dan pemilihan makanan yang kurang sesuai. Aktivitas kerja petani yang menuntut fisik tinggi dan waktu kerja panjang sering kali menyebabkan keterlambatan waktu makan sehingga meningkatkan risiko terjadinya gastritis. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan petani mengenai pola makan sehat sebagai upaya pencegahan gastritis. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 18 Januari di Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung, dengan melibatkan 10 orang petani sebagai responden. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif berbasis keperawatan komunitas, yang berorientasi pada peningkatan pengetahuan serta pemberdayaan petani dalam upaya pencegahan gastritis melalui penerapan pola makan sehat. Materi penyuluhan disampaikan melalui ceramah interaktif yang dibantu media poster dan leaflet serta dikombinasikan dengan diskusi dan tanya-jawab. Tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi secara deskriptif kualitatif dengan membandingkan perubahan tingkat pengeteahuan responden antara sebelum kegiatan edukasi dengan sesudah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 39.2 tahun dengan standar deviasi ±8.79 tahun, sebagian besar responden berusia 40–49 tahun sebesar 40.0%. Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 50.0% dan berjenis kelamin perempuan juga sebesar 50.0%. Tingkat pendidikan responden yaitu sebesar 40.0% adalah tamatan SD, sebesar 40.0% adalah tamatan SMP, dan sebesar 20.0% adalah tamatan SMA. Mayoritas responden memiliki status pekerjaan sebagai petani selama >10 tahun yaitu sebesar 60.0%, dan sebagian besar responden memiliki riwayat keluhan pada lambungnya yaitu sebanyak 8 responden (80.0%). Terdapat peningkatan pengetahuan responden tentang pola makan dan pencegahan gastritis dalam kategori baik menjadi sebesar 80.0% (post-test) dari sebesar 60.0% sebelum kegiatan edukasi (pre-test). Simpulan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa edukasi pola makan sehat pada petani secara efektif memberikan peningkatan pengetahuan peserta mengenai prinsip pola makan sehat dan upaya pencegahan gastritis. Kegiatan ini juga memberikan manfaat yang relevan untuk dilanjutkan dan dikembangkan sebagai program promotif dan preventif di masyarakat, khususnya pada kelompok petani dengan risiko gangguan kesehatan lambung sehingga berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Saran: Diharapkan kepada masyarakat dapat menerapkan dan saling berbagi informasi kesehatan terkait pengetahuan yang telah diperoleh mengenai keteraturan waktu makan dan pemilihan jenis makanan yang aman bagi lambung dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan juga kepada Puskesmas untuk melakukan kolaborasi dengan pihak terkait dalam menjamin program edukasi kesehatan berbasis komunitas dapat berjalan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif, khususnya dalam pencegahan penyakit gastritis.