Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Program Kolintang Masuk Gereja: Meningkatkan Pemahaman Musik dan Mengembangkan Aspek Mental-Spiritual-Kolaboratif di Gereja Pantekosta di Indonesia Soegiarto Hartono; Djoko Santoso; Antonius Suparno
JURNAL Comunità Servizio : Jurnal Terkait Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, terkhusus bidang Teknologi, Kewirausahaan dan Sosial Kemasyarakatan Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Univesitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/cs.v7i1.6788

Abstract

This community service program aims to implement kolintang in church settings to enhance congregational understanding of music while fostering mental, spiritual, social, and collaborative aspects. The method used is community education and training through Kolintang Pedagogy, which integrates body movements, visuals, rhythm, and harmonic patterns to facilitate musical comprehension. This approach also utilizes Directional Chord Symbols, an intuitive harmonic notation system that enables participants to grasp the relationships between notes and chords more effectively in kolintang performance. The program was conducted among women’s and children’s groups in three Pentecostal churches in Indonesia (Banten and East Java). The results showed significant improvements: (1) musical harmony comprehension increased from 25% to 85%, (2) kolintang playing skills improved from 5% to 70%, (3) kolintang was successfully integrated into church worship, and (4) community bonding was strengthened through collective musical activities. This program not only preserves Indonesia’s cultural heritage but also enriches the congregation’s spiritual experience through an inclusive and innovative musical approach.
Kritik Teologis terhadap Murphy’s Law, Relevansi dan Batasannya dalam Doktrin Kedaulatan Allah Djoko Santoso; Ilona Olvy Karamoy; Thirsa Octavianti
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 2 (2026): Philoxenia: Jurnal Pendidikan Kristiani dan Teologi - Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philoxenia.v4i2.49

Abstract

Murphy’s Law, often stated as “anything that can go wrong will go wrong,” is widely used to explain failure and uncertainty, including among Christians. This raises a key question: is it compatible with the doctrine of divine sovereignty? This study examines Murphy’s Law using a qualitative approach that integrates systematic theology, biblical analysis, and philosophical reflection, with focus on Job, Ecclesiastes, Romans 8:28, and Genesis 50:20. The study finds that Murphy’s Law reflects aspects of a fallen world, where failure and disorder occur. However, its value is only descriptive and limited. It is not theologically adequate and cannot function as a normative framework. If accepted uncritically, it may lead to fatalism and distort the understanding of suffering. In contrast, the doctrine of divine sovereignty affirms that God works in all events with purpose. Therefore, Murphy’s Law should be treated as an observation, not a theological principle. This study proposes a framework that places human experience within the doctrine of providence while critically engaging cultural assumptions.   Abstrak Murphy’s Law, yang sering dirumuskan sebagai “segala sesuatu yang bisa salah akan salah,” banyak digunakan untuk menjelaskan kegagalan dan ketidakpastian, termasuk di kalangan Kristen. Hal ini menimbulkan pertanyaan teologis tentang kesesuaiannya dengan doktrin kedaulatan Allah. Penelitian ini mengkaji legitimasi dan batas penerapan Murphy’s Law dalam teologi Kristen. Metode yang digunakan adalah kualitatif, melalui analisis teologi sistematis, studi Alkitab, dan refleksi filosofis. Teks yang dikaji meliputi Ayub, Pengkhotbah, Roma 8:28, dan Kejadian 50:20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Murphy’s Law mencerminkan sebagian realitas dunia yang telah jatuh, sehingga memiliki nilai deskriptif terbatas. Namun, secara teologis, prinsip ini tidak memadai dan tidak dapat menjadi kerangka normatif. Jika diterima tanpa kritik, ia dapat mendorong fatalisme dan merusak pemahaman tentang penderitaan dan pemeliharaan Allah. Sebaliknya, doktrin kedaulatan Allah menegaskan bahwa Tuhan bekerja dalam semua peristiwa dengan tujuan. Karena itu, Murphy’s Law harus dipahami sebagai pengamatan terbatas, bukan prinsip teologis. Penelitian ini menawarkan kerangka yang menempatkan pengalaman manusia dalam doktrin providensi, sambil mengkritisi pemahaman budaya populer.
Second Line Leadership: Kajian Biblika dan Refleksi Kepemimpinan dari Kisah Bujang Gideon Djoko Santoso; Elisa Nimbo Sumual; Budi Maruli Sitompul
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.595

Abstract

Leadership is often understood as a role centered on the primary figure, causing second-line leadership to be frequently overlooked. Yet the biblical narrative of Gideon in Judges 6–8 reveals that the supporting figure, Gideon's servant, plays a strategic and transformative role in sustaining the success of a divine mission. This study aims to examine second-line leadership through a biblical analysis of Gideon's relationship with his servant and reflect on its relevance for contemporary leadership. A qualitative descriptive method was employed through a literature review with a hermeneutical approach. The findings indicate that Gideon's servant represents second-line leadership that yields significant impact through loyalty, readiness, and collective courage. These findings are reinforced through the metaphors of conductor and co-pilot as models of modern collaborative leadership. The study concludes that second-line leadership is an essential element in sustaining vision continuity and organizational stability. This research contributes a theological-practical framework for the church in sustainably empowering second-line leaders.   Abstrak  Kepemimpinan kerap dipahami sebagai peran yang terpusat pada figur utama, sehingga di-mensi second line leadership sering terabaikan. Padahal, narasi Alkitab melalui kisah Gideon dalam Kitab Hakim-Hakim 6–8 menunjukkan bahwa figur pendamping, yakni bujang Gideon, memiliki peran strategis dan transformatif dalam menopang keberhasilan misi ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep second line leadership melalui analisis biblika terhadap relasi Gideon dan bujangnya serta merefleksikan relevansinya bagi kepemimpinan kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bujang Gideon merepresentasikan kepemimpinan lapis kedua yang berdampak besar melalui loyalitas, kesiapsiagaan, dan keberanian kolektif. Temuan ini diperkuat melalui metafora conductor dan co-pilot sebagai model kepemimpinan kolaboratif modern. Kesimpulannya, second line leadership merupakan elemen esensial yang menjaga kesinambungan visi dan stabilitas organisasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teologis-praktis bagi Gereja-gereja dalam pemberdayaan pemimpin lapis kedua secara berkelanjutan.