Arri Handayani
Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REBUILDING SELF-ESTEEM DURING COMMUNITY-BASED DRUG REHABILITATION IN INDONESIA: A PHENOMENOLOGICAL STUDY OF POWER, VIRTUE, COMPETENCE, AND SIGNIFICANCE IN IBM CLIENTS Sinta Almaidah; Arri Handayani; Siti Fitriana
EDUCATIONE Volume 4, Issue 1, January 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i1.186

Abstract

Community-based drug rehabilitation programs expose clients to everyday social realities, including stigma, peer pressure, and family dynamics, which may shape how self-esteem is rebuilt during recovery. Yet, research on self-esteem in community-based intervention contexts remains limited compared with studies in formal rehabilitation institutions. This study aimed to explore the meaning of self-esteem among clients undergoing rehabilitation in a Community-Based Intervention (IBM) program in an Indonesian village, using Coopersmith’s framework (power, virtue, competence, and significance). A qualitative phenomenological design was employed. Two IBM clients who had participated in rehabilitation for more than three months were selected, and data were collected through in-depth interviews, supplemented by triangulation with family members and recovery agents. Data were analyzed using Miles and Huberman’s procedures (data reduction, display, and conclusion drawing). The findings revealed four interrelated themes: power (variations in self-control and relapse-prevention strategies), virtue (uneven moral–religious change facilitated by mentoring), competence (growth in technical and/or social skills linked to confidence and reintegration), and significance (self-worth shaped by family support, community acceptance, and shifts in stigma). The study concludes that self-esteem in IBM clients is not merely an internal trait but is co-constructed through psychological regulation, skill development, and social recognition within the community ecology. Practically, IBM services should integrate structured self-esteem strengthening through relapse-management coaching, competency training, and stigma-reduction initiatives involving families and local communities. Future research should involve larger samples, longitudinal designs, and comparative analyses across community versus institutional rehabilitation settings.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN KEMATANGAN EMOSI SISWA SMA Pipit Nur Khoiriyah; Arri Handayani; Agus Setiawan
JP3 (Jurnal Pendidikan dan Profesi Pendidik) Vol. 12 No. 1 (2026): JP3 (Jurnal Pendidikan dan Profesi Pendidik)
Publisher : Lembaga Pengembangan Profesi Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jp3.v12i1.635

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan kematangan emosi siswa SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis korelasional. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Dari 167 siswa yang terpilih, data lengkap yang dianalisis berjumlah 117 siswa. Data dikumpulkan menggunakan skala efikasi diri dan skala kematangan emosi. Skala efikasi diri terdiri atas 19 item valid dengan reliabilitas 0,832, sedangkan skala kematangan emosi terdiri atas 28 item valid dengan reliabilitas 0,907. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji prasyarat, dan uji korelasi Pearson product-moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara efikasi diri dan kematangan emosi dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,577 dan signifikansi 0,000. Hubungan tersebut berada dalam kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi efikasi diri siswa, semakin tinggi pula kematangan emosinya. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi guru bimbingan dan konseling dalam mengembangkan layanan pribadi-sosial yang berfokus pada penguatan keyakinan diri dan pengelolaan emosi siswa.