Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Diri Mahasiswa Sebagai Komunikator Dalam Proses Pembelajaran (Studi Kasus Peserta Kampus Mengajar 2) Grace Immanuella Pascauli Hasugian
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 2 (2025): June-September 2025
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i2.1507

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa membentuk konsep diri mereka selama mengikuti program “Kampus Mengajar Dua” serta menelaah efektivitas peran mereka sebagai komunikator dalam proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Terdapat lima informan yang dilibatkan, yaitu Fadli, Tari, Fatimah, Timotius, dan Avrida. Penelitian ini didasari oleh sejumlah teori, antara lain teori komunikasi, peran komunikator, konsep diri, komunikasi dalam pendidikan, strategi komunikasi pembelajaran, pola interaksi komunikasi dalam kegiatan belajar-mengajar, serta prinsip kesantunan dalam komunikasi pendidikan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian informasi, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian mengungkap bahwa kelima informan memiliki konsep diri yang positif, yang terbentuk dari dua faktor utama: faktor internal (diri sendiri) dan faktor eksternal (lingkungan sekitar). Masing-masing informan telah memahami identitas pribadi mereka, termasuk potensi, karakter, dan kondisi fisik, sehingga mampu menunjukkan kepercayaan diri dan eksistensi secara aktif dalam kegiatan mengajar di sekolah. Faktor lingkungan juga terbukti berkontribusi besar dalam memperkuat konsep diri mereka. Strategi komunikasi yang diterapkan lebih banyak berbentuk komunikasi langsung (tatap muka), yang membangun kedekatan emosional dan komunikasi efektif antara seluruh pihak yang terlibat dalam program Kampus Mengajar Dua. Dengan demikian, baik faktor individu maupun lingkungan memainkan peran penting dalam proses pembentukan konsep diri para peserta.
Budaya Meme Sebagai Media Kritik Sosial Generasi Z Di Kota Medan Rahmad Nur Munthe; Khairul Ansor Nasution; Grace Immanuella Pascauli Hasugian; Chiristiani Natalia Br Surbakti; Marito Nasution; Doni Hermawan; Maulana Andinata Dalimunthe
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4069

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam pola komunikasi publik, termasuk munculnya budaya meme sebagai medium penyampaian pesan sosial dan politik yang cepat, ringkas, dan mudah dipahami. Generasi Z, sebagai kelompok yang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial, memanfaatkan meme tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana ekspresi dan kritik terhadap berbagai isu sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Generasi Z di Kota Medan memaknai, memproduksi, serta mendistribusikan meme sebagai media kritik sosial, serta mengidentifikasi isu-isu dominan yang muncul dalam meme tersebut. Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten terhadap informan berusia 17–25 tahun yang aktif menggunakan media sosial, penelitian ini menemukan bahwa meme memiliki dua fungsi utama bagi Gen Z: sebagai hiburan dan sebagai alat kritik sosial. Para informan menunjukkan pola konsumsi meme yang intens dan menekankan pentingnya integrasi teks, visual, dan konteks sosial dalam memahami makna meme. Isu-isu sosial yang dominan dalam meme Gen Z Medan meliputi politik, ekonomi, kemacetan dan infrastruktur kota, pendidikan, budaya lokal, serta dinamika kehidupan sehari-hari. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meme cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran sosial karena sifatnya yang humoris, tidak konfrontatif, dan mudah viral, meskipun efektivitasnya lebih kuat pada level penyadaran dibandingkan mendorong aksi nyata. Dengan demikian, budaya meme berperan penting sebagai medium refleksi sosial dan komunikasi kritis dalam ekosistem digital anak muda Kota Medan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian komunikasi digital, budaya populer, serta praktik literasi media di tingkat lokal.