Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Optimalisasi Pupuk NPK 16-16-16 untuk Meningkatkan Produksi Benih Tiga Varietas Alpukat dengan Teknik Sambung Pucuk: Strategy of Optimization of NPK Fertilizer 16-16-16 to Improve Seed Production of Three Avocado Varieties Using the Grafting Technique Yasinta Rohmawati; Nicky Oktav Fauziah; Agus Wartapa
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 2 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i2.5910

Abstract

Pemupukan pada benih alpukat di Kabupaten Kulon Progo belum memperhatikan kebutuhan dari setiap varietas yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk yang sesuai kebutuhan pada beberapa varietas alpukat yakni varietas Miki, Kendil dan Mega Gagauan sehingga diharapkan mampu meningkatkan produksi benih alpukat. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor yaitu varietas alpukat yang terdiri dari 3 taraf (VA1=Miki, VA2=Kendil dan VA3=Mega gaguan) dan dosis pupuk NPK 16:16:16 yang terdiri dari 5 taraf (DP0=0 g/tanaman, DP1= 1 g/tanaman, DP2= 2 g/tanaman, DP3= 3 g/tanaman, DP4=4 g/tanaman)  yang diulang sebanyak 3 kali, sehingga total terdapat 45 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk NPK secara optimal dapat meningkatkan pertumbuhan diameter batang pada kombinasi perlakuan VA1DP0 (Miki+NPK 0 g/tanaman), VA2DP0 (Kendil+NPK 0 g/tanaman), dan VA3DP2 (Mega Gaguan+NPK 2 g/tanaman). Kemudian, tinggi batang atas dan jumlah daun pada kombinasi perlakuan V1DP2 (Miki+NPK 2 g/tanaman), V3DP3 (Mega Gaguan+NPK 3 g/tanaman), dan V2DP0 (Kendil+ NPK 0 g/tanaman). Selanjutnya, volume akar dan panjang akar pada kombinasi perlakuan VA1DP0 (Miki+NPK 0 g/tanaman), VA2DP3 (Kendil+NPK 3 g/tanaman), dan VA3DP3 (Mega Gaguan+NPK 3 g/tanaman). The fertilization of avocado seedlings in Kulon Progo has not yet taken into account the specific needs of each variety used. This study aims to determine the optimal fertilizer dosage for several avocado varieties, namely Miki, Kendil, and Mega Gagauan, with the expectation of enhancing avocado seedling production. The research method employed a Factorial Randomized Block Design (FRBD) with two factors: avocado varieties consisting of three levels (VA1 = Miki, VA2 = Kendil, and VA3 = Mega Gagauan) and NPK fertilizer doses of 16:16:16 consisting of five levels (DP0 = 0 g/plant, DP1 = 1 g/plant, DP2 = 2 g/plant, DP3 = 3 g/ plant, DP4 = 4 g/plant), repeated three times, resulting in a total of 45 experimental units. The results indicate that the optimal use of NPK fertilizer can enhance the growth of stem diameter in the combinations of treatments VA1DP0 (Miki+NPK 0 g/plant), VA2DP0 (Kendil+NPK 0 g/plant), and VA3DP2 (Mega Gagauan+NPK 2 g/plant). Furthermore, the height of the upper stem and the number of leaves were improved in the combinations of treatments V1DP2 (Miki+NPK 2 g/plant), V3DP3 (Mega Gagauan+NPK 3 g/plant), and V2DP0 (Kendil+NPK 0 g/ plant). Additionally, root volume and root length were positively affected by the combinations of treatments VA1DP0 (Miki+NPK 0 g/plant), VA2DP3 (Kendil+NPK 3 g/plant), and VA3DP3 (Mega Gagauan+NPK 3 g/plant).
Teologi Abrahamik sebagai Titik Temu: Analisis Historis atas Relasi Yahudi, Kristen dan Islam Yasinta Rohmawati; Dino; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/qjbtkg48

Abstract

Abrahamic theology serves as a conceptual framework that positions the Prophet Abraham (Abraham) as a central figure in the Jewish, Christian, and Islamic religious traditions. These three religions have interconnected genealogical and theological roots, particularly in the affirmation of monotheism, respect for the prophetic tradition, and a moral commitment to the values ​​of justice and ethical responsibility. Abraham is seen as an exemplar of devout faith in God, so that narratives about him form a strong theological foundation for each religion, although interpreted through different doctrinal perspectives. Throughout history, relations between Judaism, Christianity, and Islam have developed dynamically. These relationships have been characterized not only by dialogue and intellectual exchange, but also by tensions triggered by theological differences, political interests, and the surrounding socio-cultural context. Differing views on prophecy, salvation, and the authority of revelation often trigger conflict, but at the same time also open up space for critical reflection and the enrichment of religious thought. The results of this study indicate that behind these fundamental differences, there are universal Abrahamic values. The values ​​of monotheism, justice, compassion, and moral responsibility constitute a common foundation that can serve as a meeting point between faiths. In the context of contemporary pluralistic societies, Abrahamic theology offers a relevant ethical framework for responding to the challenges of intolerance, identity conflict, and religious radicalism. By emphasizing shared fundamental values, this theology has the potential to strengthen interfaith dialogue, foster harmonious coexistence, and foster sustainable reconciliation and peace. Abstrak Teologi Abrahamik berfungsi sebagai kerangka konseptual yang menempatkan Nabi Ibrahim (Abraham) sebagai figur sentral dalam tradisi keagamaan Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama ini memiliki akar genealogis dan teologis yang saling berkaitan, terutama dalam penegasan ajaran monoteisme, penghormatan terhadap tradisi kenabian, serta komitmen moral terhadap nilai keadilan dan tanggung jawab etis. Ibrahim dipandang sebagai teladan iman yang taat kepada Tuhan, sehingga narasi tentang dirinya membentuk fondasi teologis yang kuat bagi masing-masing agama, meskipun ditafsirkan melalui perspektif doktrinal yang berbeda. Dalam perjalanan sejarah, relasi antara Yahudi, Kristen, dan Islam berkembang secara dinamis. Hubungan tersebut tidak hanya diwarnai oleh dialog dan pertukaran intelektual, tetapi juga oleh ketegangan yang dipicu oleh perbedaan teologis, kepentingan politik, serta konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Perbedaan pandangan tentang kenabian, keselamatan, dan otoritas wahyu sering kali menjadi faktor pemicu konflik, namun pada saat yang sama juga membuka ruang bagi refleksi kritis dan pengayaan pemikiran keagamaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di balik perbedaan fundamental tersebut, terdapat nilai-nilai Abrahamik yang bersifat universal. Nilai tauhid, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral merupakan landasan bersama yang dapat menjadi titik temu antariman. Dalam konteks masyarakat plural kontemporer, teologi Abrahamik menawarkan kerangka etis yang relevan untuk merespons tantangan intoleransi, konflik identitas, dan radikalisme keagamaan. Dengan menekankan persamaan nilai dasar, teologi ini berpotensi memperkuat dialog antaragama, menumbuhkan kehidupan bersama yang harmonis, serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian yang berkelanjutan