p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal IPSSJ
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KUALITATIF TERHADAP RESPONS TUMBUHAN OBAT TERHADAP PERLAKUAN BUDIDAYA TRADISIONAL DI LAHAN PERBUKITAN Resti Safitri
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 2 No. 2 April (2025): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kearifan lokal dalam budidaya tanaman obat masih menjadi praktik utama di berbagai wilayah perbukitan Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Masyarakat setempat meyakini bahwa teknik budidaya tradisional, seperti penggunaan pupuk alami, pengaturan waktu tanam berdasarkan kalender alam, dan pola tanam tumpang sari, mampu meningkatkan kualitas dan efektivitas tanaman obat secara alami. Namun, studi ilmiah yang mendokumentasikan respons fisiologis tanaman terhadap perlakuan ini masih terbatas, khususnya dari pendekatan kualitatif yang menggali pemahaman lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons tumbuhan obat terhadap perlakuan budidaya tradisional yang diterapkan oleh masyarakat di wilayah perbukitan Desa Sumber Urip, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Lahan perbukitan dengan karakteristik tanah yang bervariasi serta kondisi iklim mikro yang khas menjadi faktor penting dalam pengamatan ini. Fokus utama penelitian adalah melihat bagaimana metode-metode tradisional seperti penanaman berbasis rotasi alami, penggunaan pupuk organik lokal, dan pengendalian hama secara alami memengaruhi pertumbuhan dan vitalitas berbagai jenis tumbuhan obat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan data dari berbagai rujukan. Data yang dikumpulkan dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola respons tumbuhan terhadap praktik budidaya tradisional tersebut. Jenis-jenis tumbuhan obat yang diamati antara lain sambiloto (Andrographis paniculata), jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), dan kumis kucing (Orthosiphon aristatus). Respons tumbuhan dievaluasi berdasarkan indikator visual seperti kekuatan batang, warna daun, intensitas pertumbuhan, serta potensi produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik budidaya tradisional yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan keselarasan dengan alam memiliki dampak positif terhadap kesehatan dan daya tumbuh tumbuhan obat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan tradisional memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam konteks pertanian ramah lingkungan dan pelestarian tanaman obat lokal, terutama di wilayah perbukitan yang memiliki kondisi ekologi unik.
KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN ANATOMI BEBERAPA KULTIVAR CABAI (capsicum annuum L.) DALAM MENANGGAPI CEKAMAN KEKERINGAN Resti Safitri
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 1 No. 01 Agustus (2024): Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ)
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan respons morfologis dan anatomi dari empat kultivar cabai (Capsicum annuum L.), yaitu Lado F1, TM 999, Kastilo, dan Bhaskara, terhadap cekaman kekeringan yang terjadi selama musim kemarau. Permasalahan kekeringan merupakan salah satu tantangan utama dalam budidaya cabai, khususnya di daerah pertanian terbuka seperti Kabupaten Lampung Selatan yang memiliki curah hujan tidak merata sepanjang tahun. Pemahaman terhadap karakter adaptif tanaman melalui pendekatan morfologis dan anatomi menjadi landasan penting dalam upaya pemilihan kultivar yang tahan terhadap stres abiotik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, metode penelitian yang digunakan adalah studi literaturdengan mengumpulkan data dari berbagai rujukan. Data yang dikumpulkan dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola respons empat kultivar cabai (Capsicum annuum L.) terhadap cekaman kekeringan. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi karakter khas dari masing-masing kultivar dalam merespons kondisi defisit air, baik secara visual maupun struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat kultivar memberikan respons yang bervariasi terhadap cekaman kekeringan. Kultivar Bhaskara menunjukkan tingkat toleransi yang paling tinggi, ditandai dengan morfologi daun yang sempit dan berwarna hijau gelap, serta anatomi jaringan yang lebih adaptif seperti penebalan dinding sel dan efisiensi jumlah stomata. Kultivar Kastilo memperlihatkan tingkat toleransi sedang, sementara TM 999 dan Lado F1 cenderung menunjukkan gejala stres lebih cepat, antara lain berupa kelayuan, kutikula yang tipis, serta jaringan spons yang kurang kompak. Selain pengamatan biologis, persepsi petani terhadap performa masing-masing kultivar turut diperoleh melalui studi literatur, yang menunjukkan kesesuaian antara pengamatan lapangan dan pengalaman empiris petani. Kesimpulan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam karakter adaptif antar kultivar cabai terhadap cekaman kekeringan. Kultivar Bhaskara dapat direkomendasikan sebagai varietas unggul untuk dikembangkan pada lahan kering, mengingat kemampuan adaptasi morfologi dan anatominya yang lebih baik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan varietas cabai adaptif dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan di daerah rawan kekeringan.