Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Filosofi Dewa Ruci dalam Dua Wahana Berbeda: (Perbandingan antara Film Animasi dan Serial Drama Televisi) Rositama, Whida
JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 01 (2021): Artikel Riset Periode November 2021
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jbsi.v1i01.1392

Abstract

Filosofi atau filsafat mengenai Dewa Ruci yang tenar di masyarakat Jawa melalui teks Jawa Kuno dan menyimpan banyak kandungan moral di dalamnya kini diproduksi menjadi film animasi dan serial drama televisi. Kandungan ilmu dalam filosofi tersebut adalah konsep Manunggaling Kawulo Gusti atau bersatunya hamba dengan Tuhannya. Konsep tersebut kemudian mengalami perluasan makna saat filosofi Dewa Ruci disampaikan dalam dua wahana yang berbeda, yaitu film animasi dan serial drama televisi. Penelitian dilakukan dengan kajian studi bandingan antara film animasi dan serial drama televisi untuk menemukan pemahaman baru akan filosofi Dewa Ruci. Dengan membandingkan dua karya tersebut, penulis menemukan persamaan dan perbedaan di dalam dua jenis peralihan wahana itu. Simpulan dari hasil studi ini adalah bahwa 1) alih wahana terhadap filosofi Dewa Ruci menjadi film animasi terjadi karena kepentingan pendidikan, sedangkan serial drama televisi untuk kepentingan komersil, 2) filosofi Dewa Ruci mengalami perluasan makna dengan adanya alih wahana tersebut.
Perbandingan Film Ayat Ayat Cinta 1 dan 2 Adzim, Ahmad Syahrul; Aulia, Qarina Vitri; Rositama, Whida
JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 3 No. 01 (2023): Artikel Riset Periode Mei 2023
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jbsi.v3i01.2451

Abstract

Film merupakan salah satu dari media massa yang saat ini digandrungi oleh masyarakat karena sebagai sarana hiburan untuk melepaskan penat. Selain itu, film juga sebagai media penggambaran realitas sosial yang mana dapat menggambarkan kondisi politik, agama, sosial, dan budaya sehingga penonton bisa merenungi dan mendapatkan hikmah dari sebuah film. Tidak heran jika film seringkali diadaptasi dari cerita nyata atau kejadian yang terjadi dalam kehidupan nyata dengan tujuan untuk menggugah emosi dan memotivasi para penonton. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, isu religi sangat menarik untuk diangkat menjadi sebuah film. Film ayat ayat cinta 1 dan 2 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo merupakan salah satu contoh film yang sangat kental mengangkat nilai religiusitas sebagai tema utamanya. Film ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy, sosok penulis berkebangsaan Indonesia yang terkenal akan karyanya yang bernuansa Islami. Oleh karena itu, disini penulis akan membandingkan film ayat ayat cinta 1 dan 2 dengan menggunakan studi bandingan. Dengan membandingkan dua film tersebut, penulis menemukan perbedaan dan persamaan dari unsur intrinsik. Penelitian ini akan menggunakan deskriptif kualitatif sebagai metode penelitian. Kata kunci: Ayat ayat cinta, film, perbandingan, religi
Hair symbols as representations of love and loss in Nizar Qobbani's poetry: A semiotic study of Roland Barthes Sakti, Bima; Surur, Misbahus; Ali, Moh. Mahrush; Rositama, Whida
Leksika: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajarannya Vol. 20 No. 3 (2026): Forthcoming Issue
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/lks.v20i3.29444

Abstract

The study aims to demonstrate how Nizar Qabbani's poem Tauud Sya'rii Alaika uses hair as a symbol to depict love and close relationships and the experience of losing someone. The study employs Roland Barthes' semiotic framework to demonstrate how hair transforms from its basic meaning to its deeper cultural meaning. The poem uses hair as a physical body part to create a symbolic framework that conveys emotional experiences and painful memories and future aspirations. The research employed descriptive qualitative methods together with Barthes' semiotic analysis technique, which examines the signs and meanings and myths present in the poem's text. The primary data source is the poem from the Al-Hubb poetry anthology, which contains the Nizar Qabbani work about love. The secondary data sources included relevant books and scientific articles and journals. The researchers collected data through literature study and text analysis while using the Miles and Huberman model to analyze data through three steps, which included data reduction and data presentation and drawing conclusions through the verification process. The analysis shows that a woman's hair is not merely understood as a physical part of her body but rather transcends its biological dimension with her lover. Hair is presented as a symbol of love, emotional closeness, and loss, enriched by the imagery of autumn and the stars as a representation of the woman's inner journey and emotional story. This simple yet meaningful symbol is used to express the dynamics of the profound journey of love and separation between herself and her lover, while also reflecting the values and cultural traditions surrounding them.