Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN K-MEANS DAN K-MEDOIDS DALAM PENGELOMPOKKAN TINGKAT KEJAHATAN PADA PROVINSI JAWA TENGAH Pratama, Bayu Satria; Purwanto, Gatot
IDEALIS : InDonEsiA journaL Information System Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal IDEALIS Juli 2025
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/idealis.v8i2.3562

Abstract

Tindak kejahatan merupakan pelanggaran hukum dan norma sosial yang menimbulkan keresahan masyarakat serta mencerminkan dinamika sosial yang terus berkembang. Sepanjang tahun 2023, Provinsi Jawa Tengah mencatat 7.606 kasus kejahatan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah pada website https://jateng.bps.go.id/id. Jenis kejahatan yang tercakup dalam data merupakan kejahatan konvensional, seperti pencurian, penganiayaan, dan penipuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan data kriminalitas menggunakan algoritma clustering K-Means dan K-Medoids guna mengidentifikasi pola kejahatan berdasarkan karakteristik wilayah. Data yang digunakan meliputi jumlah kejahatan, jumlah penduduk, dan jumlah penduduk tidak bekerja per kabupaten/kota, serta dua atribut turunan, yaitu Rasio_Kejahatan_Penduduk dan Rasio_Kejahatan_Tidak_Bekerja. Seluruh data numerik dinormalisasi menggunakan metode Min-Max agar memiliki skala yang sebanding. Pemilihan algoritma K-Means dan K-Medoids dilakukan karena keduanya merupakan metode partitional clustering yang banyak digunakan, namun memiliki pendekatan yang berbeda dalam menentukan pusat klaster, sehingga memberikan perbandingan hasil yang relevan. Evaluasi hasil klaster dilakukan dengan Davies-Bouldin Index (DBI) karena metrik ini mampu menilai validitas klaster berdasarkan tingkat kedekatan dan keterpisahan antar klaster. Klasterisasi dilakukan dengan jumlah klaster 3, 4, dan 5. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pembentukan 3 klaster adalah yang paling optimal, dengan nilai DBI terendah pada K-Means sebesar 0,082, sedikit lebih baik dibandingkan K-Medoids sebesar 0,084. Nilai DBI yang lebih rendah menunjukkan K-Means menghasilkan klaster yang lebih terpisah secara baik. Oleh karena itu, K-Means dipilih sebagai algoritma terbaik dalam penelitian ini. Hasil pengelompokan diharapkan menjadi dasar dalam pepersamaanan kebijakan.
Inovasi Mobile Application Sebagai Sarana Pelaporan dan Penanganan Bullying di Lingkungan Pendidikan Indah Puspasari Handayani; Fadila, Nadia Intan; Purwanto, Gatot
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat TEKNO (JAM-TEKNO) Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026 In Progress
Publisher : Ikatan Ahli Informatika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29207/jamtekno.v7i1.7708

Abstract

Fenomena bullying masih menjadi masalah serius di sekolah, sebagai lingkungan pendidikan di Indonesia, menurut data KPAI dan JPPI menujukkan bahwa adanya peningkatan drastis pada kasus bullying pada 2023-2024. Meskipun tingginya angka kasus tersebut, masih banyak siswa/i yang enggan untuk melapor karena takut, malu, atau tidak mengetahui mekanisme pelaporan yang aman. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem pelaporan kasus bullying di sekolah masih belum berjalan efektif dan belum sepenuhnya melindungi korban. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membantu sekolah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berpihak pada korban bullying, dengan menghadirkan penyuluhan berbasis kriminologi yang berfokus pada pemahaman mengenai bullying, serta cara membantu korban, dan juga penyuluhan berbasis aplikasi digital berupa mobile application pelaporan dan penanganan kasus bullying untuk mempermudah pelaporan kasus secara aman dengan menjaga kerahasiaan pelapor dan penanganan kasus bullying. Dengan adanya fitur keamanan data dan antarmuka yang ramah pengguna, aplikasi ini dapat mendorong keberanian peserta didik untuk melapor tanpa rasa takut atau stigma sosial. Selain itu, sistem ini akan mempermudah pihak sekolah dalam melakukan monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut terhadap setiap laporan yang masuk secara transparan dan terstruktur. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta merasa sosialisasi yang dilakukan sangat relevan dengan permasalahan remaja saat ini di lingkungan sekolah. Implementasi mobile application sebagai sarana pelaporan bullying turut meningkatkan rasa aman siswa di sekolah (80,6 persen responden menyatakan sangat setuju). Kegiatan ini juga bermanfaat secara signifikan, di mana mayoritas peserta sangat setuju bahwa kegiatan ini meningkatkan pemahaman serta kesadaran terkait pelaporan dan penanganan kasus bullying di lingkungan sekolah.