Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Manajemen Terapi Bakterial Meningitis Akut pada Pasien Anak (Fokus Terapi Antibiotik dan Kortikosteroid): Management of AcuteBacterial Meningitis Therapy in Pediatric Patients (Focus on Antibioticand Corticosteroid Therapy) Pandu Laksono; Pande Made Ayu Aprianti; Patricia Valery Rahaded; Hidayati Adi Putri; Rizqiyanti Ramadhani; Jainuri Erik Pratama; Antonius Adji Prayitno Setiadi; Marisca Evalina Gondokesumo
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 5 No. 6 (2023): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v5i6.1974

Abstract

Acute bacterial meningitis is an inflammatory condition of the brain that develops rapidly due to bacterial infection in the lining of the brain (meninges) or in the subarachnoid space (fluid-filled space between the meninges). Common clinical manifestations include headache, fever, convulsions, and nuchal rigidity with diagnosis based on cerebrospinal fluid analysis. Management of cases of acute bacterial meningitis, especially in pediatric patients, focuses on selecting antibiotics and corticosteroids as the key treatment, followed by other supportive therapies such as antifever and anticonvulsants. There is a case of a 1-year-old child with a diagnosis of bacterial meningitis, this case report aims to examine the selection, dosage, method of administration, and monitoring of the effectiveness of antibiotics and corticosteroids as therapy in this case. The patient received treatment at RSUD Dr. Soetomo for 4 days by receiving ceftriaxone and dexamethasone injections per kg of body weight. In this case, observation was carried out in the form of observing the patient's clinical condition every day until the patient experienced an improvement in seizures and fever from the 2nd day of treatment. On the 4th day, the patient was allowed to go home and continue oral therapy for outpatient treatment. In conclusion, patients with acute bacterial meningitis need to be given antibiotics which must be started as soon as possible, aimed at eradicating bacteria that infect the lining of the brain, while corticosteroid injections are aimed at reducing the inflammatory response that occurs in the brain so as not to worsen the prognosis of the disease in my condition. Keywords:          bacterial meningitis, ceftriaxone, dexamethasone   Abstrak Meningitis bakterial akut adalah kondisi peradangan otak yang berkembang dengan cepat akibat infeksi bakteri pada selaput otak (meningen) atau pada ruang subarachnoid (ruang berisi cairan di antara meningen). Manifestasi klinis yang umum meliputi sakit kepala, demam, kejang dan kakukuduk dengan penegakan diagnosis berdasarkan analisis cairan serebrospinal. Penatalaksanaan kasus bakterial meningitis akut, khususnya pada pasien anak-anak difokuskan pada pemilihan antibiotik dan kortikostreroid sebagai kunci pengobatan, diikuti dengan terapi suportif lain seperti antidemam dan antikonvulsi. Terdapat kasus anak berusia 1 tahun dengan diagnosa bakterial meningitis, laporan kasus  ini  bertujuan  untuk mengkaji pemilihan, dosis, cara pemberian serta monitoring efektivitas antibiotik dan kortikosteroid sebagai terapi pada kasus ini. Pasien mendapatkan perawatan di RSUD Dr. Soetomo selama 4 hari dengan mendapatkan injeksi ceftriaxone dan deksametason per kg berat badan. Pada kasus ini dilakukan pengamatan berupa observasi kondisi klinis pasien setiap harinya hingga pasien mengalami perbaikan kejang dan demam sejak hari ke-2 perawatan. Pada hari ke-4, pasien diperbolehkan pulang dengan melanjutkan terapi per oral untuk menjalani rawat jalan. Kesimpulannya, pasien dengan meningitis bakterial akut perlu pemberian antibiotik yang harus dimulai sesegera mungkin yang ditujukan untuk eradikasi bakteri penginfeksi selaput otak sedangkan pemberian injeksi kortikosteroid ditujukan untuk menurunkan respon inflamasi yang terjadi di otak agar tidak memperparah prognosis penyakit pada kondisi akut Kata Kunci:         bakterial meningitis, ceftriaxone, deksametason
Evaluasi Rasionalitas Tepat Pasien dan Tepat Indikasi Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Tabanan I Wayan Weda Aryawan; Putu Ika Indah Indraswari; Pande Made Ayu Aprianti
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 3 No. 3 (2025): Juli : Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v3i3.5419

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (DM) is a disease caused by impaired insulin function, impaired insulin secretion, or both, resulting in a hyperglycemic condition. Patients with type 2 DM generally exhibit characteristics such as a Random Blood Glucose level exceeding 200 mg/dL and an HbA1c level exceeding 6.5%. The accuracy of medication administration to patients must also consider the rationality of antidiabetic therapy in order to influence the success rate of optimal therapy. This study aims to evaluate the rationality of patient appropriateness and indication appropriateness in outpatients with type 2 DM at Tabanan Regional Public Hospital (RSUD Tabanan). This study employed a semi-quantitative observational research design with a retrospective approach by reviewing patient medical records from the initiation of therapy. Sampling was conducted using purposive sampling, whereby samples had to meet predetermined inclusion criteria. The results indicated that the age group with the highest prevalence of DM patients at RSUD Tabanan was over 56 years old (74%), with a predominance of females (63%). The most common comorbidity among DM patients was hypertension alone (24.5%). Based on the findings, the percentage of patient appropriateness rationality among DM outpatients at RSUD Tabanan was 97.5%, while the percentage of indication appropriateness rationality in type 2 DM outpatients at RSUD Tabanan was 98.5%.
Evaluasi Rasionalitas Tepat Pasien dan Tepat Indikasi Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Tabanan I Wayan Weda Aryawan; Putu Ika Indah Indraswari; Pande Made Ayu Aprianti
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 3 No. 5 (2025): September : OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v3i5.1572

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (DM) is a disease caused by impaired insulin function, impaired insulin secretion, or both, resulting in a hyperglycemic condition. Patients with type 2 DM generally exhibit characteristics such as a Random Blood Glucose level exceeding 200 mg/dL and an HbA1c level exceeding 6.5%. The accuracy of medication administration to patients must also consider the rationality of antidiabetic therapy in order to influence the success rate of optimal therapy. This study aims to evaluate the rationality of patient appropriateness and indication appropriateness in outpatients with type 2 DM at Tabanan Regional Public Hospital (RSUD Tabanan). This study employed a semi-quantitative observational research design with a retrospective approach by reviewing patient medical records from the initiation of therapy. Sampling was conducted using purposive sampling, whereby samples had to meet predetermined inclusion criteria. The results indicated that the age group with the highest prevalence of DM patients at RSUD Tabanan was over 56 years old (74%), with a predominance of females (63%). The most common comorbidity among DM patients was hypertension alone (24.5%). Based on the findings, the percentage of patient appropriateness rationality among DM outpatients at RSUD Tabanan was 97.5%, while the percentage of indication appropriateness rationality in type 2 DM outpatients at RSUD Tabanan was 98.5%.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DAN CARA MINUM OBAT DENGAN KEPATUHAN TERAPI PADA PASIEN HIPERTENSI Aprianti, Pande Made Ayu; Maharani, Kadek Kartika Putri; Marangyana, I Gede Bagus Indra
JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 5 No. 1 (2025): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/farmasainkes.v5i1.5209

Abstract

Penyakit hipertensi adalah faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kepatuhan terapi obat dianggap sebagai faktor penting dalam mencegah perburukan kondisi pasien hipertensi. Tingkat pengetahuan mengenai penyakit hipertensi dan cara minum obat diduga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang hipertensi dan cara minum obat dengan kepatuhan terapi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit X Denpasar. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner pengetahuan hipertensi, kuesioner pengetahuan cara minum obat, dan kuesioner kepatuhan MMAS-8. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian melibatkan 70 responden, menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan cukup tentang hipertensi (37 responden atau 52,86%) dan pengetahuan baik tentang cara minum obat (60 responden atau 85,71%). Tingkat kepatuhan terapi sebagian besar berada pada kategori sedang (44 responden atau 62,86%). Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang hipertensi dengan kepatuhan terapi (p = 0,000; r = 0,483) dan antara pengetahuan tentang cara minum obat dengan kepatuhan terapi (p = 0,002; r = 0,360). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai hipertensi dan cara minum obat dengan kepatuhan terapi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit X.
Overview of Factors Influencing Medication Adherence in Elderly Hypertension Patients Aprianti, Pande Made Ayu; Marangyana, I Gede Bagus Indra; Sudiastini, Ni Ketut Ayu
Jurnal Skala Husada : The Journal of Health Vol 22, No 1 (2025): Jurnal Skala Husada (JSH): The Journal of Health
Publisher : Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/jsh:tjoh.v22i1.4177

Abstract

Hypertension is defined as a sustained increase in blood pressure with a systolic value of ≥140 mmHg and/or a diastolic value of ≥90 mmHg. The risk of developing hypertension increases progressively with age, with a prevalence of more than 60% among individuals over 60 years old (elderly). Treatment success for hypertension depends not only on accurate diagnosis and appropriate therapy but also on patients' adherence to antihypertensive medication. This study aimed to examine the relationship between factors such as knowledge about hypertension and family support with medication adherence among elderly hypertensive patients. Methods: This was an analytical observational study with a cross-sectional design conducted at Hospital X in Denpasar. A total of 70 elderly hypertensive patients participated in the study. Data were collected using the MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) to assess medication adherence, and validated questionnaires to measure knowledge of hypertension and family support. Data analysis was performed using the Spearman correlation test. Results: A significant relationship was found between knowledge about hypertension and medication adherence (p=0.000), with a Spearman correlation coefficient of r=0.657, indicating a strong correlation. A significant relationship was also found between family support and medication adherence (p=0.000), with a correlation coefficient of r=0.546, indicating a moderate correlation. Conclusion: Higher levels of knowledge about hypertension and stronger family support are significantly associated with better medication adherence among elderly hypertensive patients. Educational efforts and family involvement are recommended to improve adherence to antihypertensive therapy.
Sinergisme Farmasi Klinis Dalam Optimalisasi Obat Herbal Lokal Menuju Kemandirian Obat Nasional Dan Revitalisasi Paradigma Pada Masyarakat Kontemporer Pande Made Ayu Aprianti; I Made Rian Putra Gunawan; Putu Melista Putri
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 15, No 1 (2026): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v15i1.10219

Abstract

Ketergantungan terhadap bahan baku obat impor menjadi tantangan besar bagi ketahanan kesehatan nasional. Optimalisasi obat herbal lokal melalui sinergisme farmasi klinis di fasilitas kesehatan merupakan strategi kunci menuju kemandirian obat dan revitalisasi paradigma pengobatan pada masyarakat kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan obat herbal lokal, keterlibatan farmasi klinis dalam pemantauan terapi, serta mengukur kesiapan dan implementasi peran farmasis dalam integrasi obat herbal di Rumah Sakit “X”. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan tiga pendekatan data: (1) analisis retrospektif resep yang mengandung obat herbal selama satu bulan terakhir di berbagai unit pelayanan, (2) analisis kualitatif terhadap dokumentasi SOAP dalam Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), dan (3) survei melalui kuesioner tertutup kepada 11 responden farmasi klinis untuk menilai efikasi diri, praktik klinis, dan persepsi lingkungan kerja. Hasil penelitian ini menjunjukan: Data retrospektif menunjukkan pemanfaatan obat herbal lokal (Fitofarmaka dan OHT) telah terimplementasi di unit Rawat Jalan, Rawat Inap, ICU, Pediatrik, dan Maternity, dengan penggunaan dominan pada kasus hepatoprotektor, hipoalbuminemia, imunomodulator dan nefrolitiasis. Analisis CPPT mengungkapkan bahwa farmasi klinis telah melakukan sinergisme melalui pemantauan interaksi obat dan keamanan terapi herbal secara terintegrasi. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa farmasis memiliki efikasi diri yang tinggi (rata-rata skor kategori tinggi) dan didukung oleh budaya organisasi yang terbuka terhadap penggunaan herbal, meskipun frekuensi praktik klinis harian masih memerlukan optimalisasi berkelanjutan. Kesimpulan penelitian ini adalah sinergisme farmasi klinis di Rumah Sakit “X” berperan signifikan dalam mengoptimalkan penggunaan obat herbal lokal melalui pendekatan saintifik. Integrasi ini mendukung terciptanya kemandirian obat nasional dan mentransformasi paradigma masyarakat kontemporer terhadap obat bahan alam yang modern dan berbasis bukti (evidence-based).