Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Menggunakan Metode SCOR dan TOPSIS Anggreini, Vania; Pandia, Nanda Zahra Humairoh; Sembiring, Anita Christine
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 4 No. 1 (2025): Edisi Juli
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v4i1.1004

Abstract

Pengukuran Kinerja rantai pasok komoditas pertanian khususnya Sayuran sawi putih, memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan produk berkualitas dengan harga terjangkau. Pengukuran kinerja di Pasar Lau Cih Medan untuk pengelolaan rantai pasok sayuran seperti sawi putih masih menghadapi berbagai kendala, dan manajemen rantai pasok yang kurang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja rantai pasok sayuran sawi putih di Pasar Lau Cih Medan dengan menggunakan metode Metode SCOR (Supply Chain Operation Reference)  kriteria pengukuran kinerja rantai pasok sayuran yang diidentifikasi dan TOPSIS (Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution) Bobot kriteria pengukuran kinerja rantai pasok sayuran yang dihitung menggunakan yang merupakan metode sistem pendukung keputusan untuk menentukan alternatif rantai pasok yang paling optimal. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan para pelaku rantai pasok. Hasil analisis menunjukkan bahwa distributor dari Medan, memiliki kinerja rantai pasok yang lebih optimal dibandingkan pemasok lokal. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja rantai pasok pada distributor medan adalah biaya (40%), ketersediaan (78%), keamanan produk (98%), kualitas produk (78%) dan waktu pengiriman (40%). Sedangkan pada pemasok lokal adalah biaya (20%), ketersediaan (84%), keamanan produk (90%), kualitas produk (98%) dan waktu pengiriman (20%).  Kesimpulannya, untuk komoditas Sayuran Sawi Putih di Pasar Lau Cih Medan dengan hasilnya Kinerja rantai pasok masih belum optimal, dengan nilai SCOR untuk distributor medan sebesar 67% dan untuk pemasok lokal sebesar 62%. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada peluang untuk perbaikan dalam proses pengolahan dan distribusi sawi putih hasilnya sampai ke pelanggan dengan baik.