Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Reinterpretasi Pembagian Waris dalam Q.S. An-Nisa’ Ayat 11: Studi Analisis Hermeneutika Muhammad Syahrur Khoiriyah, Inayah; Saerozi, Ahmad
el Buhuth: Borneo Journal of Islamic Studies el Buhuth: Borneo Journal of Islamic Studies, 8(2), December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Center for Research and Community Services), Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/el-buhuth.v8i2.11050

Abstract

This study examines the reinterpretation of the division of inheritance in Q.S. An-Nisa’ verse 11 using Muhammad Syahrur’s hermeneutical approach. The primary focus is on the part of the verse which states that if there are two or more daughters and no sons, they are entitled to two-thirds of the inheritance. Classical interpretations generally understand this verse literally. However, Muhammad Syahrur offers a markedly different perspective by applying his boundary-based hermeneutics (al-hudud). He interprets the provision not as a fixed amount but as a maximum limit, meaning that two-thirds is the upper boundary while one-third represents the lower boundary. Consequently, the distribution of inheritance becomes flexible and contextual, aligning with the evolving circumstances of modern times. This research aims to understand how Syahrur's approach offers a new perspective on Islamic inheritance law and to assess the compatibility of his views with the principles of gender justice and contemporary social developments. The method employed in this study is library research with a descriptive-qualitative approach. The findings reveal that Syahrur’s interpretation provides a more flexible understanding of Qur'anic verses. Through his boundary theory, Syahrur proposes a proportional distribution of inheritance between men and women. According to him, the "two shares for the male" is a maximum limit that must not be exceeded but may be reduced. Conversely, the "one share for the female" is a minimum limit that must not be diminished but may be increased. This theoretical approach is considered relevant to the principle of social justice, especially in situations where women serve as the primary breadwinners in the family. In such cases, women's inheritance rights may be enhanced, provided they remain within the bounds of divine law. Keywords: Muhammad Syahrur, Q.S. An-Nisa’ 11, Reinterpretation. Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang reinterpretasi pembagian waris dalam Q.S. An-Nisa’ ayat 11 dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Muhammad Syahrur. Fokus utamanya adalah pada bagian ayat yang menyatakan bahwa jika terdapat dua orang anak perempuan atau lebih dan tidak ada anak laki-laki, maka mereka berhak menerima dua pertiga dari harta warisan. Dalam penafsiran klasik umumnya memahami ayat tersebut secara literal, namun, sangat berbeda dengan Muhammad Syahrur yang memahami ayat tersebut menggunakan pendekatan hermeneutika batas (al-hudud), ia menafsirkan bahwa ketentuan tersebut bukan angka tetap, melainkan batas maksimal yang boleh diberikan, yang artinya dua pertiga adalah batas atas, sementara satu pertiga menjadi batas bawah, sehingga dalam pembagian waris bersifat fleksibel dan kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pendekatan Muhammad Syahrur dalam menawarkan perspektif baru terhadap hukum waris islam, serta menilai dengan kesesuaian pandangannya dalam prinsip keadilan gender dan perkembangan sosial kontemporer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka (library rescarch) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Muhammad Syahrur memberikan pemahaman yang lebih fleksibel terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Melalui teori batas yang ia kemukakan, Syahrur menawarkan konsep pembagian warisan yang proporsional antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, bagian dua untuk anak laki-laki merupakan batas maksimum yang tidak boleh dilampaui, namun bisa dikurangi. Sebaliknya, bagian satu untuk anak perempuan adalah batas minimum yang tidak boleh dikurangi, tetapi masih memungkinkan untuk ditambah. Pendekatan teori ini dianggap relevan dengan prinsip keadilan sosial, terutama ketika perempuan berperan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dalam situasi seperti itu, hak perempuan dapat ditingkatkan selama tetap berada dalam batas-batas hukum Allah. Kata kunci : Muhammad Syahrur, Q.S. An-Nisa’ 11, Reinterpretasi