Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Komunitas Karang Taruna di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat Sari Mariyati Dewi Nataprawira; David Limanan; Alexander Halim Santoso; Muhammad Fikri Dzakwan
JPMNT JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT NIAN TANA Vol. 3 No. 3 (2025): Juli: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nian Tana
Publisher : Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59603/jpmnt.v3i3.997

Abstract

Cardiac arrest is a critical medical emergency with a high mortality rate that requires immediate and appropriate action to increase the chances of survival. One key factor in improving survival outcomes is the involvement of bystanders, particularly young people, in providing Basic Life Support (BLS). This community service activity was carried out to improve the knowledge and practical skills of youth organization members (Karang Taruna) in Kota Bambu Subdistrict, West Jakarta, in recognizing and responding to cardiac arrest using BLS procedures. The activity adopted the PDCA (Plan-Do-Check-Act) approach. The planning stage involved the preparation of materials and training tools for both theoretical and practical learning. The implementation phase included a 45-minute health education session covering the basics of BLS, especially cardiopulmonary resuscitation (CPR), followed by hands-on training. Participants were divided into small groups and guided through practical CPR simulations using manikins, facilitated by six trained nursing students. The activity was conducted on June 14, 2025, and attended by 57 participants, with 27 actively participating in the CPR practice session. The evaluation stage revealed a notable increase in the participants’ understanding and ability to perform CPR effectively. This indicates that community-based BLS training can be a powerful tool in improving emergency response at the grassroots level. In addition to raising awareness, the activity also empowered the youth as first responders in their community, strengthening their role in emergency preparedness and response. The follow-up stage emphasized the importance of sustainability through continued collaboration between local health professionals and community organizations. In conclusion, BLS education and training programs for youth can significantly enhance community resilience and are recommended for broader implementation in other regions.
Skrining Tekanan Darah Berbasis Komunitas sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Jantung Koroner di Kota Bambu, Jakarta Barat: Community-Based Blood Pressure Screening as a Preventive Strategy Against Coronary Heart Disease in Kota Bambu, West Jakarta Priyana, Andria; Santoso, Alexander; Daniel Goh; Muhammad Fikri Dzakwan; Rifandra Rifqi Adi Hendrianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.112

Abstract

Pendahuluan: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian utama di dunia dengan hipertensi sebagai faktor risiko penting. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini menghambat pencegahan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan mendukung deteksi dini hipertensi di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat. Metode: Pada kegiatan ini digunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA). Tahap Plan dilakukan melalui koordinasi dengan kader dan penyusunan materi edukasi. Tahap Do berupa penyuluhan interaktif mengenai pencegahan PJK dan pemeriksaan tekanan darah dengan tensimeter digital. Tahap Check mencakup analisis hasil pemeriksaan serta evaluasi pemahaman melalui pre-test dan post-test. Tahap Action dilakukan dengan rujukan ke fasilitas kesehatan bagi peserta yang teridentifikasi hipertensi. Hasil: Kegiatan melibatkan 168 peserta dengan rata-rata usia 49,1 tahun. Berdasarkan klasifikasi ACC/AHA 2025, 46,4% berada pada kategori normal, sementara hipertensi grade I dan II masing-masing 26,2% dan 22,6%. Diskusi: Proporsi hipertensi yang cukup tinggi, sejalan dengan pola risiko di masyarakat perkotaan akibat gaya hidup sedentari, konsumsi garam berlebih, dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini, edukasi pola hidup sehat, dan integrasi skrining rutin ke dalam layanan kesehatan primer Kesimpulan: Program ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan PJK serta menemukan kasus hipertensi yang memerlukan tindak lanjut, sehingga skrining komunitas layak diteruskan secara berkesinambungan.
Edukasi dan Skrining Status Gizi melalui Pengukuran IMT dan Komposisi Tubuh di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat: Education and Screening of Nutritional Status through BMI and Body Composition in Kelurahan Kota Bambu, West Jakarta Ruslim, Daniel; Santoso, Alexander; Daniel Goh; Muhammad Fikri Dzakwan; Rifandra Rifqi Adi Hendrianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.113

Abstract

Pendahuluan: Obesitas merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan berhubungan dengan risiko penyakit metabolik serta kardiovaskular. Di Indonesia, prevalensi obesitas pada orang dewasa mengalami peningkatan signifikan, terutama di wilayah perkotaan dengan gaya hidup sedentari. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai status gizi dan kesehatan metabolik melalui edukasi serta pemeriksaan komposisi tubuh. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat pada Juni 2025 dengan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA), melibatkan 168 peserta. Pemeriksaan dilakukan menggunakan timbangan digital berbasis bioelectrical impedance analysis (BIA) untuk mengukur indeks massa tubuh (IMT), lemak tubuh, lemak viseral, restiung metabolic rate dan usia metabolisme. Hasil: Hasil menunjukkan rata-rata IMT 26,74 kg/m², lemak tubuh 31,46%, lemak viseral 11,46%, RMR 1426.01 kkal dan usia metabolisme 53,42 tahun, lebih tinggi dibandingkan usia kronologis. Sebagian besar peserta termasuk kategori obesitas (62,5%). Diskusi: Penelitian ini menekankan bahwa obesitas tidak hanya dapat dinilai dari IMT, tetapi juga dari parameter metabolik yang lebih komprehensif. Edukasi, skrining, dan intervensi berkelanjutan diperlukan untuk mencegah dampak jangka panjang obesitas. Kesimpulan: Kegiatan ini efektif meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai status gizi dan risiko metabolik, sekaligus menegaskan pentingnya upaya preventif di komunitas perkotaan.