Konsumsi alkohol terus meningkat dengan laju peningkatan yang konsinten setiap 15 tahun sekali yaitu mencapai 106,7%, dengan jenis minuman keras, bir, wine dan lain-lain. Data lain menyebutkan setiap tahunnya alkohol bertanggung jawab atas sekitar 2,3 juta kematian dini di seluruh dunia. Tujuan dari kajian pustaka ini adalah untuk mengkaji pengembangan biosensor untuk deteksi alkohol dengan senssitivitas yang tinggi, murah dan produksinya yang mudah dan ramah lingkungan. Metode kajian ini berdasarkan studi literatur dengan menggunakan jurnal international yang terspesifikasi PubMed, ScienceDirect, Frontiers, dan MDPI. Hasil didapatkan bahwa biosensor yang dapat mendeteksi alkohol dalam spesimen darah, saliva dan keringat meliputi Sparfloxacin-Capped Gold Nanoparicle, Enzim amperometrik dengan alkohol dehydrogenase (AOX), alkohol dehydrogenase (ADH), wearable electrochemical alcohol biosensor, dan breathalyzer. Biosensor berbasis Sparfloxacin-Capped Gold Nanoparicle memilki kemampuan deteksi mencapai 25 hingga 350 µM lebih sensitif karena mengandung partikel nano yang disintesis dengan agen antijamur dan bakteri sparfloxacin. Pada biosensor Enzim amperometrik batas deteksi dapat mecapai 0.01% hingga 0.1% (100-1000 mg/dL) yang cukup sensitif untuk dijadikan sebagai biosensor dalam deteksi alkohol. Wearable electrochemical alcohol biosensor memiliki batas deteksi kisaran 0,1-1,0 g/d, ,sedangkan breathalyzer batas deteksi kadar etanol dalam napas setara dengan kadar alkohol dalam darah (BAC) dari 0,01% hingga 0,2% (100-2000 mg/dL). Kesimpulan menunujukan bahwa pengembangan biosensor untuk deteksi alkohol memilki sensitivitas yang tinggi yang bermanfaat dalam aplikasi bioforensik atau deteksi kesehatan lainnya. Sensitivitas biosensor ini meliputi biosensor berbasis Sparfloxacin-Capped Gold Nanoparicle, kemudian biosensor berbasis enzim amperometrik, biosensor berbasis wearable electrochemical alcohol biosensor dan breathlizer.