Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Suhu Kalsinasi terhadap Karakteristik Komposit Forsterit-Karbon Tersintesis dalam Medium Gas Argon Solihudin Solihudin; Haryono Haryono; Atiek Rostika Noviyanti; Muhammad Rizky Ridwansyah
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 16, No 2 (2020): September
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.16.2.34845.163-170

Abstract

Komposit forsterit-karbon merupakan salah satu material modifikasi dari forsterit yang berpotensi memiliki sifat isolator panas baik. Karbon dalam komposit dapat mengisi cacat titik pada kristal forsterit. Arang sekam padi (residu gasifikasi) mengandung SiO2 amorf dan karbon yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh suhu kalsinasi dalam medium gas inert (dengan pengaliran gas argon) terhadap karakteristik komposit forsterit-karbon dari arang sekam padi dan magnesium karbonat. Metode penelitian meliputi preparasi arang sekam padi hasil gasifikasi, dan sintesis forsterit-karbon. Proses sintesis komposit forsterit karbon dilakukan dengan cara mencampurkan arang sekam padi dengan kalium karbonat pada rasio mol magmesium terhadap silikon sebesar 2 : 1 kemudian dikalsinasi dengan suhu divariasikan (700, 800, 900, dan 1000 oC). Selanjutnya sampel hasil sintesis dikarakterisasi dengan Fourier-transform infrared (FTIR), X-ray diffraction (XRD), dan scanning electron microscope-energy dispersive spectroscopy (SEM-EDS). Hasil karakterisasi dengan FTIR dan XRD diperoleh kesimpulan bahwa forsterit mulai terbentuk pada suhu kalisiasi 800 oC dan sempurna pada suhu 1000 oC, karenanya komposit yang terbentuk pada 1000 oC dimungkinkan sebagai forsterit-karbon, di mana unsur-unsur yang terkandung ditunjukkan oleh SEM-EDS. The Effect of Calcination Temperature on the Characteristics of Forsterite-Carbon Composites Synthesized in Argon Gas Medium. Forsterite-carbon composite is one of the material modifications of forsterite, which potentially has a good heat insulation property. Carbon in composites can fill point defects in forsterite crystals. Rice husk charcoal, as gasification residues, contains high amorphous SiO2 and carbon. This study aims to determine the effect of temperature on the calcination of a mixture of rice husk charcoal and magnesium carbonate under an inert gas (argon gas) on the characteristics of the forsterite-carbon composite produced. The experimental research performed includes the preparation of gasified rice husk charcoal and the synthesis of the carbon-forsterite composite. The synthesis process of the carbon-forsterite composites was carried out by mixing rice husk charcoal with potassium carbonate at a mole ratio of magnesium to silicon of 2 : 1. The mixture was then calcined with varying temperatures (700, 800, 900, and 1000 °C). Furthermore, the synthesized sample was characterized by Fourier-transform infrared (FTIR), X-ray diffraction (XRD), and scanning electron microscope-energy dispersive spectroscopy (SEM-EDS). The FTIR and XRD analysis show that the forsterites began to form at a calcination temperature of 800 °C and perfectly formed at a temperature of 1000 °C; therefore, the composite formed at 1000 °C is possible as forsterite-carbon, in which the contained elements were indicated by SEM-EDS.
Cellulose Acetate of Rice Husk Blend Membranes: Preparation, Morphology and Application Meri Suhartini; Engela Evy Ernawati; Anisa Roshanova; Haryono Haryono; June Mellawati
Indonesian Journal of Chemistry Vol 20, No 5 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.488 KB) | DOI: 10.22146/ijc.47185

Abstract

Cellulose acetate blend membranes in this study synthesized from cellulose acetate (CA) of rice husk and NaA zeolites (Z) with N,N’-Methylene bis acrylamide (MBA) as cross-linker agent and gamma-rays from cobalt-60 source as a reaction initiator. Application of the membrane was carried out to increase the concentration of vetiverol in vetiver oil. The steps in this study were isolation the cellulose rice husk with alkali treatment, delignification, acetylation, preparation the cellulose acetate-NaA zeolites NaA-membrane by inverse phase technique, addition N,N’-Methylene bis acrylamide, and irradiation by gamma-rays. Swelling degree, crosslinking yield, tensile strength, membrane performance, FTIR, and SEM analysis were observed. The results obtained that the optimal irradiation dose for synthesis CA-Z-MBA membrane is 20 kGy. The CA-Z-MBA membrane has swelling degree of 4.44%, the tensile strength of 656.40 kg/cm2, and crosslinking yield of 6.61%. Performance of the CA-Z-MBA membrane reached the flux of 60.58 g/m2.h, and permeate concentration (CP) of 11.67%, the CP increase 5 times from 2.40% to 11.67%.
Kalsium Silikat sebagai Bahan Komposit Biosemen Gigi dengan Penyiapan Silika dari Sekam Padi melalui Metode Sol-Gel Haryono MT; Diana Rakhmawaty Eddy; Atiek Rostika Noviyanti; Solihudin Solihudin; Laelaturrohmah Laelaturrohmah
Jurnal Kartika Kimia Vol 1 No 1 (2018): Jurnal Kartika Kimia
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Sciences and Informatics, Jenderal Achmad Yani University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.245 KB) | DOI: 10.26874/jkk.v1i1.4

Abstract

Rice husk has the content of organic and inorganic compounds that have not been utilized maximally, one of them is silica. High silica content in rice husks can be used as an alternative source of potential silica for the synthesis of calcium silicate as a base material of Trioxide Aggregate mineral composites in tooth biocement. In this study, calcium silicate was obtained through two stages of the process, namely silica isolation from rice husk ash by sol-gel method, and reacting between silica and calcium oxide. Silica and calcium oxide are reacted to the mole ratio between silica to calcium oxide of 7:3, 6:4, 4:6, and 3:7. The isolated silica is characterized by the distribution of the size and composition of each element with Particle Size Analyzer (PSA) and EDS. The formation of calcium silicate and its size distribution from the synthesis stage is determined by XRD and PSA. The result showed that silica isolation from rice husk ash with sol-gel method obtained silica with content and particle size of 71.6% and 52.82 mm. While the optimum condition of calcium silicate synthesis was achieved at the mole ratio of silica to calcium oxide by 4:6. In the mole ratios obtained calcium silicate type b-dicalcium silicate with an average particle size of 102.2 mm.
KARAKTERISTIK PRODUK DARI ESTERIFIKASI DENGAN BANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK TERHADAP MINYAK BIJI KAPUK TEROZONASI Haryono Haryono; Engela Evy Ernawati; Atiek Rostika Noviyanti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 3 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.3.144-154

Abstract

Minyak biji kapuk merupakan minyak non-pangan, sehingga sangat menguntungkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Namun minyak biji kapuk didominasi oleh asam lemak rantai panjang dan tak jenuh. Jenis asam lemak tersebut cenderung akan mengurangi kualitas biodiesel yang dihasilkan, yaitu rendahnya bilangan setana dan dapat memicu reaksi polimerisasi selama pembakaran. Ozonasi dapat diterapkan untuk memperpendek rantai karbon dan jumlah ikatan rangkap pada asam lemak dari minyak biji kapuk. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu ozonasi pada tahap penyiapan minyak biji kapuk terhadap karakteristik produk dari tahap esterifikasi dengan bantuan ultrasonikasi. Waktu ozonasi divariasikan selama 60, 90, dan 120 menit. Esterifikasi dilakukan selama 30 menit pada suhu 60°C dengan bantuan gelombang ultrasonik pada frekuensi 35 kHz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu ozonasi dihasilkan minyak biji kapuk dengan bilangan asam semakin meningkat. Peningkatan bilangan asam dari minyak biji kapuk tersebut dan diverifikasi dengan komposisi asam lemak dari hasil analisis dengan Khromatografi Gas-Spektroskopi Massa, menunjukkan bahwa struktur asam lemak pada minyak biji kapuk menjadi lebih sederhana. Esterifikasi selama 30 menit terhadap minyak biji kapuk yang telah diozonasi menghasilkan fase minyak dengan bilangan asam 10,6 mg KOH/g, bilangan penyabunan 112 mg KOH/g, dan densitas 903 kg/m3.
KARAKTERISTIK PRODUK DARI ESTERIFIKASI DENGAN BANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK TERHADAP MINYAK BIJI KAPUK TEROZONASI Haryono Haryono; Engela Evy Ernawati; Atiek Rostika Noviyanti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 3 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.3.144-154

Abstract

Minyak biji kapuk merupakan minyak non-pangan, sehingga sangat menguntungkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Namun minyak biji kapuk didominasi oleh asam lemak rantai panjang dan tak jenuh. Jenis asam lemak tersebut cenderung akan mengurangi kualitas biodiesel yang dihasilkan, yaitu rendahnya bilangan setana dan dapat memicu reaksi polimerisasi selama pembakaran. Ozonasi dapat diterapkan untuk memperpendek rantai karbon dan jumlah ikatan rangkap pada asam lemak dari minyak biji kapuk. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu ozonasi pada tahap penyiapan minyak biji kapuk terhadap karakteristik produk dari tahap esterifikasi dengan bantuan ultrasonikasi. Waktu ozonasi divariasikan selama 60, 90, dan 120 menit. Esterifikasi dilakukan selama 30 menit pada suhu 60°C dengan bantuan gelombang ultrasonik pada frekuensi 35 kHz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu ozonasi dihasilkan minyak biji kapuk dengan bilangan asam semakin meningkat. Peningkatan bilangan asam dari minyak biji kapuk tersebut dan diverifikasi dengan komposisi asam lemak dari hasil analisis dengan Khromatografi Gas-Spektroskopi Massa, menunjukkan bahwa struktur asam lemak pada minyak biji kapuk menjadi lebih sederhana. Esterifikasi selama 30 menit terhadap minyak biji kapuk yang telah diozonasi menghasilkan fase minyak dengan bilangan asam 10,6 mg KOH/g, bilangan penyabunan 112 mg KOH/g, dan densitas 903 kg/m3.
RECOVERY PANAS DARI GASIFIKASI SEKAM PADI SEBAGAI MEDIA PENGHANGAT DOC (DAY OLD CHICKS) DI UNIT USAHA DESA PASAWAHAN, GARUT Solihudin Solihudin; Haryono Haryono
Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Vol 12, No 1 (2023): Maret, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i1.24454

Abstract

Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut memiliki potensi biomassa relatif berlimpah berupa sekam padi. Selain itu, desa tersebut juga memiliki unit usaha peternakan ayam petelur. Pada tahap pembesaran anakan ayam atau Day Old Chicks diperlukan sistem pemanas untuk mengkondisikan udara di kanadang pembesaran anakan ayam tetap hangat. Pemakaian sistem pemanas dengan lampu listrik relatif membebani biaya pemeliharaan ayam. Alternatif potensial untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sistem pemanas dengan memanfaatkan panas dari proses gasifikasi sekam padi. Tujuan program pengabdian kepada masyarakat ini adalah merancang, membuat, dan menginstalasi sistem pengambilan kembali panas gasifikasi sekam padi untuk memenuhi kebutuhan panas sebagai media penghangat anakan ayam. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan perancangan peralatan proses dengan metode short cut. Program ini telah berhasil merancang dan membuat peralatan dan sistem proses pengambilan kembali panas gasifikasi dari sekam padi tersebut.
KALSIUM OKSIDA MIKROPARTIKEL DARI CANGKANG TELUR SEBAGAI KATALIS PADA SINTESIS BIODIESEL DARI MINYAK GORENG BEKAS HARYONO HARYONO; CHRISTI LIAMITA NATANAEL; RUKIAH RUKIAH; YATI B YULIANTI
Jurnal Material dan Energi Indonesia Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.35 KB) | DOI: 10.24198/jmei.v8i01.17865

Abstract

Biodiesel telah berhasil disintesis dari minyak goreng bekas dengan katalis kalsium oksida mikropartikel yang dikalsinasi dari cangkang telur. Cangkang telur sebagai sumber kalsium karbonat disiapkan melalui tahap pencucian, pengeringan, pengecilan ukuran, dan pengayakan untuk diperoleh ukuran lolos 100 mesh. Serbuk cangkang telur kemudian dikalsinasi pada suhu 900oC selama 8 jam. Setelah didinginkan, hasil kalsinasi selanjutnya diperkecil ukurannya kembali dengan menggunakan planetary ball mill. CaO hasil pengecilan lanjut, kemudian dikarakterisasi dengan particle size analyzer, XRD, dan adsorpsi BET untuk menentukan ukuran partikel, derajat kristalinitas, luas permukaan spesifik, dan distribusi ukuran porinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik CaO dari hasil kalsinasi dengan perlakuan pengecilan ukuran lanjut lebih baik dibandingkan dengan tanpa perlakuan pengecilan lanjut. Ukuran partikel rata-rata, luas permukaan spesifik, diameter rata-rata pori, dan volume spesifik rata-rata pori dari CaO dengan pengecilan lanjut berturut-turut adalah 4,128 m, 16,244 m2/g, 42,282 Å, dan 410,0 x 10-3 cc/g. Biodiesel dengan katalis CaO tanpa pengecilan lanjut sebanyak 10% diperoleh sebanyak 71,91%. Sedangkan penggunaan CaO mikropartikel yang hanya 3% mampu menghasilkan biodiesel dari minyak goreng dengan yield 77,76%.
Kinerja Metode Elektroflotasi pada Pengolahan Air Limbah Pewarna Tekstil Dispersi Haryono ST, MT
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.276 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v5i2.33108

Abstract

Air limbah tekstil mengandung berbagai jenis senyawa polutan yang bersifat racun, dapat terdekomposisi menjadi senyawa karsinogenik dan mutagenik, dan sulit terurai secara alami. Oleh karena itu, pembuangan air limbah tekstil di atas batas maksimal baku mutu ke lingkungan akan menimbulkan banyak dampak negatif terhadap ekosistem di lingkungan. Industri tekstil memanfaatkan sekitar 2/3 total produk pewarna. Dan pada proses produksi tekstil, sekitar 10-15% dari penggunaa zat warna tersebut terbuang sebagai air limbah. Zat warna dispersi merupakan salah satu jenis pewarna sintetik yang relatif luas dimanfaat di industri tekstil, khususnya pada produksi tekstil jenis poliester dan poliamida. Zat warna dispersi tersebut bersifat tidak larut dalam air dan memiliki ketahanan kimia relatif tinggi. Salah satu metode yang sesuai diterapkan untuk mengolah air limbah pewarna tekstil dispersi tersebut adalah elektroflotasi. Elektroflotasi bekerja dengan prinsip dasar sebagai sel elektrolisis. Kinerja elektroflotasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah beda potensial listrik dan lama waktu elektroflotasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh beda potensial listrik dan lama proses terhadap kinerja metode elektroflotasi pada pengolahan air limbah pewarna tekstil dispersi. Pada penelitian ini, kinerja elektroflotasi diukur berdasarkan kemampuan metode tersebut dalam menurunkan nilai COD (Chemical Oxygen Demand) dan tingkat warna dari air limbah tekstil yang diolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi elektroflotasi terbaik dicapai pada penggunaan beda potensial listrik sebesar 12 V dan waktu elektroflotasi selama 60 menit. Pada kondisi elektroflotasi terbaik tersebut, nilai COD dan tingkat warna dari air limbah tekstil dapat diturunkan dengan derajat pembuangan berturut-turut sebesar 88,9% dan 93,3%.
Rendemen dan Karakteristik Kimia Fisik Biodiesel dari Transesterifikasi Minyak Biji Kapuk Terozonasi dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik - Haryono
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.803 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v6i1.37207

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif ramah lingkungan dan bersifat terbarukan. Biodiesel secara substansi kimia merupakan metil atau etil ester dari asam lemak rantai panjang sehingga dapat disintesis dari berbagai jenis sumber asam lemak hayati. Minyak biji kapuk adalah salah satu sumber asam lemak hayati potensial karena umumnya memiliki kadar asam lemak bebas tinggi sehingga terkelompok sebagai minyak non pangan. Sintesis biodiesel dapat dilakukan dengan berbagai modifikasi metode, salah satunya dengan memanfaatkan ozon sebagai agen pengoksidasi untuk menyederhanakan struktur molekul trigliserida dari minyak, dan melibatkan pemakaian gelombang ultrasonik untuk membantu proses pencampuran antar bahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh tahap ozonasi dan lama waktu transesterifikasi dengan bantuan gelombang ultrasonik terhadap karakteristik biodiesel yang dihasilkan dari minyak biji kapuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ozonasi terhadap minyak biji kapuk selama 120 menit telah berhasil menyederhanakan struktur molekul trigliserida dari minyak. Transesterifikasi selama 180 menit terhadap minyak biji kapuk dengan bantuan gelombang ultrasonik pada frekuensi 25 kHz menghasilkan rendemen biodiesel tertinggi. Biodiesel yang dihasilkan dari semua variasi lama waktu transesterifikasi telah memenuhi Standar Biodiesel berdasarkan parameter bilangan asam, titik nyala, dan densitas. Namun beradasarkan parameter viskositas belum memenuhi syarat.
Uji Kualitas Briket dari Tongkol Jagung dengan Perekat Kanji/PET dan Komposisi Gas Buang Pembakarannya Haryono Haryono; Evy Ernawati; Solihudin Solihudin; Diah Ayu Susilowati
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.895 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v4i2.28606

Abstract

Limbah tongkol jagung merupakah salah satu limbah biomassa potensial di Indonesia sebagai bahan baku pembuatan briket. Briket termasuk bahan bakar terbarukan yang relatif lebih ramah ligkungan. Kualitas briket sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah jenis biomassa sebagai sumber karbon, jenis bahan pengikat, dan komposisi antara biomassa terhadap bahan pengikat. Polimer sintetik polietilen tereptalat memiliki sifat sebagai bahan pengikat pada pembuatan briket. Polietilen tereptalat banyak dijumpai sebagai limbah plastik. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah berupa tongkol jagung dan plastik polietilen tereptalat sebagai bahan pembuatan briket, dan mempelajari pengaruh komposisi arang tongkol jagung dan plastik polietilen tereptalat terhadap kualitas (sifat psikokimia) dan komposisi gas buang pembakaran briket. Komposisi bahan pembuatan briket divariasikan pada rasio berat arang tongkol jagung terhadap plastik sebesar 95:5, 90:10, dan 85:15. Kualitas briket diuji dan dibandingkan dengan SNI 01-6235-2000 tentang Briket Arang Kayu berdasarkan parameter nilai kalor, kadar air, kadar abu, dan kadar volatile matter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi campuran bahan pembuat pada rasio berat antara arang tongkol jagung terhadap plastik polietilen tereptalat sebesar 95:5 menghasilkan briket dengan kualitas terbaik. Briket pada komposisi tersebut memenuhi standar kualitas menurut SNI briket arang kayu dan mengemisikan gas buang berupa hidrokarbon, karbon monoksida, dan nitrogen oksida dengan kadar paling rendah.