Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Tafsir Sedekah Bagi Pengemudi Ojek Online dan Masyarakat Paruh Baya Melalui Media Radio Yayuli; Veronika Candra Dewi; Athief, Fauzul Hanif Noor; Luthfiyyah Nurul Izzah
Abdi Psikonomi Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/psikonomi.vi.1180

Abstract

Alquran diturunkan dengan Bahasa Arab sehingga membutuhkan ulama yang mampu menjelaskan isinya. Mengkaji secara mandiri tidak jarang justru membuat seseorang salah memahami isi Alquran. Di sisi lain, sumber daya penyuluh agama dan tempat pengajian tafsir tidaklah banyak. Sumber pengajian memang bisa disimak dari berbagai media sosial, akan tetapi warga yang berumur 40 tahun masih banyak yang belum melek teknologi. Adapun para pengemudi ojek online tidak terlalu sempat untuk membuka YouTube dan media sejenis. Radio menjadi solusi paling tepat untuk masyarakat berumur 40 tahun ke atas dan para pengemudi ojek online. Maka dari itu diperlukan upaya pembuatan kajian tafsir melalui media radio agar bisa didengarkan oleh masyarakat dengan segmen tersebut. Upaya tersebut kemudian dijalankan dengan cara mengadakan kajian tafsir terkait sedekah/infak dikarenakan topik tersebut sangat dekat dengan masyarakat. Ayat yang dipilih adalah Surah Al-Baqarah ayat 254-271. Pengajian dilakukan bekerjasama dengan PT. Radio Gema Mentari Surakarta (Mentari FM) yang dilaksanakan selama 10 kali pertemuan. Setiap pertemuan membahas 1 hingga 3 ayat dalam surah Al-Baqarah. Pengajian dilakukan setiap hari Jumat 1 kali dalam 1 minggu. Setiap pertemuan memiliki durasi 30 menit, yaitu dimulai pada pukul 17.00 hingga 17.30 WIB. Hasil dari kegiatan ini didapati bahwa berdasarkan laporan direktur Mentari FM, antusias masyarakat sangat tinggi dan tanggapan masyarakat sangat baik dikarenakan mereka bisa lebih jauh memahami hal-hal terkait sedekah/infak.
Program Pengabdian Masyarakat Internasional di Sekolah Bersepadu Musa-Asiah (Sepama) Cambodia: Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Arab Pegon Febriandika, Nur Rizqi; Imron Rosyadi; Yayuli
Abdi Psikonomi Vol 4, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/psikonomi.vi.1996

Abstract

Kamboja merupakan suatu negara yang masih dalam area Asia Tenggara dan berbentuk kesatuandengan penduduknya secara mayoritas berkeyakinan agama budha (97%). Walaupun demikiandi bagian wilayah kamboja yakni daerah cham mayoritas beragama Islam dengan corak budayamelayu. Di Champ berdiri lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis kepada keislamaanyang digunakan masyarakat Muslim Kamboja Khususnya dari ras melayu mendidik anakanaknyaatau generasi sebagai penerus perjuangan Islam masihlah sedikit. Tidak jarang jugamasyarakat kamboja mengirimkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan di Indonesiayang notabenya sebagai Negara Islam yang lebih maju. Walaupun demikian jumlah maysrakatMuslim yang bisa berbahasa Indonesia atau melayu masihlah sedikit dan minim mengingatmereka juga banyak tertarik melanjutkan studi di perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia.Walaupun demikian mereka mengalami kesulitan dalam belajar bahasa asing yang notabenenyamenggunakan huruf alfabet sebab bahasa kamboja memiliki huruf sendiri yang berbeda denganhuruf alfabet. Oleh sebab itu kami akan melaksanakan pengabdian masyarakat selama 6 bulandi Sekolah Bersepadu Musa-Asiah (SEPAMA) Cambodia yang merupakan satu-satunya sekolahmuslim swasta yang dikelola oleh Yayasan Musa-Asiah Fondation. Pengabdiana masyarakat ini dalam bentuk pendampingan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan arab pegon karenadinilai lebih efektif dalam mengajarkan bahasa indonesia sebab sebagai seorang muslim merekasudah dibekali pembelajaran aksara arab sebelum masuk sekolah dasar. Tim pengabdian akanbekerjasama dengan pihak sekolah dalam merumuskan pembelajaran arab pegon yang sesuaidengan jenjang pendidikan. Setelah itu, mahasiswa akan diterjunkan di kamboja selama 6 bulansebagai penutur asing guna mengajarkan dan mencontohkan pembelajaran arab pegon.  
Addressing Digital Content Fraud and Ethical Monetization: from the DSN-MUI Perspective Mubarok, Jaih; Rahmat; Rosyadi, Imron; Yayuli; Elvri, Rini
Indonesian Journal of Islamic Economic Law Vol. 3 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ijoel.v3i1.13523

Abstract

This study aims to reinterpret the methodology of the Indonesian Ulema Council's National Sharia Board (DSN-MUI) Fatwa No. 62/2007 on Ju'alah and Fatwa No. 116/2017 on Sharia Electronic Money in the context of the modern digital economy, particularly in dealing with the phenomenon of content fraud on monetisation platforms such as TikTok. Using a qualitative approach, this study employe Islamic legal analysisto assess how the Ju'alah contract can shift from a normative-individual interpretation to a socio-structural understanding. The results of the study show that the reinterpretation of the two fatwas expands the function of the Ju'alah contract into a digital ethical and legal framework that emphasises justice, trust, transparency, and collective responsibility between creators, platforms, and regulators. The integration of Sharia principles with modern technologies such as blockchain, traceability systems, AI transparency, and homomorphic encryption enables the creation of an accountable digital monetisation system that is free from elements of gharar, tadlīs, and maysir. This study also confirms that the implementation of maqāṣid al-syarī‘ah values can form the basis for the establishment of a fair and sustainable digital economic governance system. However, this research is still conceptual and requires further empirical validation through algorithmic audits and the development of Sharia smart contracts. The results of this study are expected to be an important contribution to the development of a digital Islamic economic paradigm that is adaptive to technology, while remaining based on the principles of justice and public benefit.