Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ethics of the Use of Artificial Intelligence (AI) in the Paradigm of Islamic Law Mulki Firdaus Alamsyah; Yayuli; Ahmad Remanda
Solo International Collaboration and Publication of Social Sciences and Humanities Vol. 4 No. 01 (2026): Main Theme: Contextualized Global Collaboration in Humanities and Social Scien
Publisher : Walidem Institute and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61455/sicopus.v4i01.393

Abstract

Objective: The principal objective of this scholarly inquiry is to meticulously examine the ethical implications of artificial intelligence (AI) within the context of Islamic jurisprudence, with a distinct focus on the principles of maqosid al-shari‘ah (the paramount objectives of Islamic law) serving as a moral and legal foundation for the evaluation of AI applications. Theoretical framework: The theoretical foundations of this investigation are derived from Islamic legal and ethical philosophy, specifically the five fundamental values of maqosid al-shari‘ah, safeguarding of faith, life, intellect, lineage, and property employed as evaluative criteria to assess the integration of technology within Muslim societies. Literature review: A diverse array of primary sources, including the Qur’an and Hadith, is meticulously scrutinized alongside contemporary Islamic scholarship that addresses the intersection of ethics and technology. Previous research on Islamic ethics in the digital and biomedical spheres is referenced, elaborated upon, and critically appraised to ensure a contemporary and contextually relevant analysis. Methods: This investigation adopts a qualitative methodology based on an exhaustive literature review. Primary religious texts and secondary academic discourses concerning AI ethics and Islamic law are analyzed through thematic content analysis to develop a normative framework that harmonizes Shariah principles with emerging AI technologies. Results: The findings of this research indicate that while AI offers substantial benefits in areas such as healthcare, education, and governance, it simultaneously presents ethical challenges, including issues related to surveillance, algorithmic bias, and a reduction in human accountability. From an Islamic standpoint, AI should not replace human moral agency but rather enhance it. Justice, accountability, and the welfare of the community must remain of utmost importance in its application. Implications: This study highlights the urgent need for interdisciplinary dialogue between Islamic scholars and technology developers, the promotion of Islamic ethical awareness among Muslim AI practitioners, and the establishment of fatwas and Shariah-compliant regulatory frameworks to ensure the ethical incorporation of AI into Muslim societies. Novelty: This research offers a noteworthy contribution to the burgeoning field of Islamic AI ethics by providing a structured, Shariah-aligned ethical framework for the assessment and guidance of AI technologies. It underscores the adaptability of Islamic jurisprudence in addressing contemporary innovations while remaining steadfastly anchored in enduring ethical principles.
Kajian Tafsir Sedekah Bagi Pengemudi Ojek Online dan Masyarakat Paruh Baya Melalui Media Radio Yayuli; Veronika Candra Dewi; Athief, Fauzul Hanif Noor; Luthfiyyah Nurul Izzah
Abdi Psikonomi Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/psikonomi.vi.1180

Abstract

Alquran diturunkan dengan Bahasa Arab sehingga membutuhkan ulama yang mampu menjelaskan isinya. Mengkaji secara mandiri tidak jarang justru membuat seseorang salah memahami isi Alquran. Di sisi lain, sumber daya penyuluh agama dan tempat pengajian tafsir tidaklah banyak. Sumber pengajian memang bisa disimak dari berbagai media sosial, akan tetapi warga yang berumur 40 tahun masih banyak yang belum melek teknologi. Adapun para pengemudi ojek online tidak terlalu sempat untuk membuka YouTube dan media sejenis. Radio menjadi solusi paling tepat untuk masyarakat berumur 40 tahun ke atas dan para pengemudi ojek online. Maka dari itu diperlukan upaya pembuatan kajian tafsir melalui media radio agar bisa didengarkan oleh masyarakat dengan segmen tersebut. Upaya tersebut kemudian dijalankan dengan cara mengadakan kajian tafsir terkait sedekah/infak dikarenakan topik tersebut sangat dekat dengan masyarakat. Ayat yang dipilih adalah Surah Al-Baqarah ayat 254-271. Pengajian dilakukan bekerjasama dengan PT. Radio Gema Mentari Surakarta (Mentari FM) yang dilaksanakan selama 10 kali pertemuan. Setiap pertemuan membahas 1 hingga 3 ayat dalam surah Al-Baqarah. Pengajian dilakukan setiap hari Jumat 1 kali dalam 1 minggu. Setiap pertemuan memiliki durasi 30 menit, yaitu dimulai pada pukul 17.00 hingga 17.30 WIB. Hasil dari kegiatan ini didapati bahwa berdasarkan laporan direktur Mentari FM, antusias masyarakat sangat tinggi dan tanggapan masyarakat sangat baik dikarenakan mereka bisa lebih jauh memahami hal-hal terkait sedekah/infak.
Program Pengabdian Masyarakat Internasional di Sekolah Bersepadu Musa-Asiah (Sepama) Cambodia: Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Arab Pegon Febriandika, Nur Rizqi; Imron Rosyadi; Yayuli
Abdi Psikonomi Vol 4, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/psikonomi.vi.1996

Abstract

Kamboja merupakan suatu negara yang masih dalam area Asia Tenggara dan berbentuk kesatuandengan penduduknya secara mayoritas berkeyakinan agama budha (97%). Walaupun demikiandi bagian wilayah kamboja yakni daerah cham mayoritas beragama Islam dengan corak budayamelayu. Di Champ berdiri lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis kepada keislamaanyang digunakan masyarakat Muslim Kamboja Khususnya dari ras melayu mendidik anakanaknyaatau generasi sebagai penerus perjuangan Islam masihlah sedikit. Tidak jarang jugamasyarakat kamboja mengirimkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan di Indonesiayang notabenya sebagai Negara Islam yang lebih maju. Walaupun demikian jumlah maysrakatMuslim yang bisa berbahasa Indonesia atau melayu masihlah sedikit dan minim mengingatmereka juga banyak tertarik melanjutkan studi di perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia.Walaupun demikian mereka mengalami kesulitan dalam belajar bahasa asing yang notabenenyamenggunakan huruf alfabet sebab bahasa kamboja memiliki huruf sendiri yang berbeda denganhuruf alfabet. Oleh sebab itu kami akan melaksanakan pengabdian masyarakat selama 6 bulandi Sekolah Bersepadu Musa-Asiah (SEPAMA) Cambodia yang merupakan satu-satunya sekolahmuslim swasta yang dikelola oleh Yayasan Musa-Asiah Fondation. Pengabdiana masyarakat ini dalam bentuk pendampingan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan arab pegon karenadinilai lebih efektif dalam mengajarkan bahasa indonesia sebab sebagai seorang muslim merekasudah dibekali pembelajaran aksara arab sebelum masuk sekolah dasar. Tim pengabdian akanbekerjasama dengan pihak sekolah dalam merumuskan pembelajaran arab pegon yang sesuaidengan jenjang pendidikan. Setelah itu, mahasiswa akan diterjunkan di kamboja selama 6 bulansebagai penutur asing guna mengajarkan dan mencontohkan pembelajaran arab pegon.