Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN MODUL LITERASI BUDAYA BERBASIS CERITA KEARIFAN LOKAL I Wayan Ardita; I Nengah Sueca
Jurnal Pendidikan DEIKSIS Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan DEIKSIS
Publisher : ITP Marakandeya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59789/deiksis.v7i2.361

Abstract

Globalisasi telah menyatukan berbagai latar belakang budaya dalam dunia yang semakin terhubung, sehingga menuntut pemahaman yang lebih dalam mengenai keragaman budaya. Literasi budaya berperan penting dalam proses ini, karena dapat membantu individu memahami, menghargai, dan menghormati kekayaan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan modul literasi budaya berbasis cerita kearifan lokal di SMA Hindu Astika Dharma. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan R&D (Research & Develoment). Metode penelitian R&D (Research & Develoment) adalah pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengembangkan produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada. Menurut Sugiyono, R&D adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Berdasarkan hasil dari identifikasi masalah literasi budaya di SMA Hindu (UW) Astika Dharma, Desa Pempatan menunjukkan bahwa siswa kelas menengah di sana tidak memiliki bahan literasi budaya sehingga kemampuan literasi mereka sangat rendah terutama berkaitan dengan literasi budaya. Oleh karena itu dikembangkanlah modul literasi budaya berbasis cerita kearifan lokal dengan tujuan untuk membantu siswa belajar mengenai literasi budaya di sekolah. Kesimpulan dari pembahasan mengenai pengembangan modul literasi budaya berbasis cerita kearifan lokal di SMA Hindu Astika Dharma menunjukkan bahwa rendahnya literasi siswa disebabkan oleh kurangnya sumber ajar yang memadai dan kegiatan pembelajaran yang monoton. Observasi dan wawancara dengan siswa menunjukkan kebutuhan akan bahan bacaan yang menarik dan relevan dengan konteks budaya mereka.
Transformasi Model Bisnis GBE Silver Class Taro Menuju Wisata Edukasi Berbasis Kearifan Lokal I Wayan Ardita; Ni Kadek Winda Yanti
YUME : Journal of Management Vol 9, No 1
Publisher : Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/yume.v9i1.10762

Abstract

This study aims to describe and analyze the business model transformation process of GBE Silver Class Taro from a conventional silver craft business into an educational tourism destination, identify supporting and hindering factors, and analyze the role of local wisdom in creating added value and tourism appeal. This research uses a descriptive qualitative method. Data collection was carried out through observation, in-depth interviews, and documentation. Research informants were selected purposively, consisting of the owner, artisans, tour guides, domestic and foreign tourists, and local residents. The data analysis technique used the Miles & Huberman interactive model (data reduction, data display, and conclusion drawing). The results show that GBE Silver Class successfully transformed from a product-based business model to an experience-based one (experiential tourism). This process was supported by the strength of local wisdom (Tri Hita Karana philosophy), community support, and digital marketing adaptation. Hindering factors include limitations in human resource communication skills and tourism market fluctuations. Local wisdom became the main competitive advantage, providing authentic value and market differentiation. The GBE Silver Class transformation model can serve as a reference for other SMEs in Bali in developing creative tourism that integrates cultural values, local economic empowerment, and sustainability.Keywords: business model transformation, educational tourism, local wisdom, gbe silver class, sme.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis proses transformasi model bisnis GBE Silver Class Taro dari usaha kerajinan perak konvensional menjadi destinasi wisata edukasi, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta menganalisis peran kearifan lokal dalam menciptakan nilai tambah dan daya tarik wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian dipilih secara purposif, terdiri dari pemilik, pengrajin, pemandu wisata, wisatawan domestik dan mancanegara, serta masyarakat lokal. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa GBE Silver Class berhasil bertransformasi dari model bisnis berbasis produk menjadi berbasis pengalaman (experiential tourism). Proses ini didukung oleh kekuatan kearifan lokal (falsafah Tri Hita Karana), dukungan masyarakat, dan adaptasi pemasaran digital. Faktor penghambat yang muncul antara lain keterbatasan kemampuan komunikasi sumber daya manusia serta fluktuasi pasar pariwisata. Kearifan lokal menjadi keunggulan kompetitif utama yang memberikan nilai autentik dan diferensiasi pasar. Model transformasi GBE Silver Class dapat menjadi rujukan bagi UMKM lain di Bali dalam mengembangkan wisata kreatif yang mengintegrasikan nilai budaya, pemberdayaan ekonomi lokal, dan prinsip keberlanjutan. Kata kunci: transformasi model bisnis, wisata edukasi, kearifan lokal, GBE Silver Class, UMKM.