Apsari, Bitania Sekar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PERTANIAN BERKELANJUTAN: PENERAPAN APH BEAUVERIA BASSIANA DAN PSEUDOMONAS FLUORESCENS DESA KRANJINGAN Wagiyana; Alicia Putri Fatikasari; Apsari, Bitania Sekar
Dharma: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/dlppm.v6i1.13852

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menerapkan penggunaan Agens Pengendali Hayati (APH) Beauveria bassiana dan Pseudomonas fluorescens di Desa Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Permasalahan utama yang dihadapi petani lokal mencakup ketergantungan pada pupuk anorganik dan pestisida sintetis yang menurunkan kualitas tanah serta kendala dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Metode yang digunakan meliputi observasi, pembuatan APH, sosialisasi, aplikasi di lapangan, dan evaluasi. Hasilnya menunjukkan bahwa petani mulai menyadari pentingnya metode pertanian yang berkelanjutan. Keberhasilan program ditunjukkan oleh peningkatan kualitas APH yang telah diuji dan diproduksi, serta perubahan sikap petani terhadap penggunaan teknologi hayati.Kata Kunci: agen pengontrol hayati, beauveria bassiana, pertanian berkelanjutan, pseudomonas fluorescens
Sebaran Kekeringan Meteorologis dan Implikasinya di Kabupaten Jember Apsari, Bitania Sekar; Fitriani, Vivi; Yuristiawan, Septian Tegar
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.108615

Abstract

Abstrak Kekeringan meteorologis merupakan indikator awal yang krusial dalam mendeteksi tekanan iklim yang berpotensi memicu gangguan pada sektor pertanian dan sumber daya air. Kabupaten Jember sebagai wilayah dengan dominasi lahan pertanian tadah hujan memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fluktuasi curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola temporal dan sebaran spasial kekeringan meteorologis di Kabupaten Jember selama periode 2004–2023 menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI) multiskala (1, 3, 6, 9, dan 12 bulan). Data curah hujan dari 77 stasiun diuji homogenitasnya menggunakan Buishand Range Test, dengan 71 stasiun dinyatakan layak analisis. Pemetaan dilakukan menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW) dalam Sistem Informasi Geografis. Hasil menunjukkan bahwa kekeringan terjadi berulang hampir setiap tahun dengan cakupan spasial yang luas dan intensitas berbeda pada tiap skala waktu. Luasan kekeringan tertinggi tercatat pada SPI 6 bulan sebesar 329.100 ha (Mei), menunjukkan tekanan akumulatif terhadap sistem irigasi dan cadangan air. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan SPI multiskala efektif sebagai dasar sistem peringatan dini dan perencanaan adaptasi berbasis wilayah, khususnya untuk pengelolaan pertanian dan sumber daya air di tingkat kabupaten. Abstract.Meteorological drought serves as a critical early indicator of climate stress that can disrupt agricultural systems and water resources. Jember Regency, characterized by extensive rainfed agricultural land, is highly vulnerable to rainfall variability. This study aims to analyze the temporal patterns and spatial distribution of meteorological drought in Jember Regency during the 2004–2023 period using the multi-timescale Standardized Precipitation Index (SPI) at 1-, 3-, 6-, 9-, and 12-month intervals. Monthly rainfall data from 77 stations were tested for homogeneity using the Buishand Range Test, with 71 stations deemed suitable for further analysis. Spatial mapping was conducted using the Inverse Distance Weighted (IDW) interpolation method within a Geographic Information System framework. The results indicate that drought events occurred recurrently almost every year, with varying spatial extent and intensity across timescales. The most extensive drought area was identified under the 6-month SPI in May, covering 329,100 ha, reflecting cumulative stress on irrigation systems and water reserves. These findings demonstrate that the multi-timescale SPI approach provides a robust basis for early warning systems and spatially informed adaptation planning, particularly for agricultural and water resource management at the regency level. Submitted:2025-07-01 Revisions: 2025-11-07 Accepted:2026-03-02 Published:2026-03-10