Syamsudini, M.
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemikiran Politik Niccolò Machiavelli dan Politik Islam: Sebuah Studi Perbandingan: Niccolò Machiavelli’s Political Thought and Islamic Politics: A Comparative Study Syamsudini, M.
Fenomena Vol 4 No 2 (2005): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v4i2.373

Abstract

-
Konsep Kerukunan Masyarakat Multikultural Kabupaten Banyuwangi: The Concept of Harmony in the Multicultural Society of Banyuwangi Regency Syamsudini, M.
Fenomena Vol 7 No 1 (2008): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i1.421

Abstract

-
Partisipasi Politik Kiai NU dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010: Political Participation of NU Kiai in the Regional Election of Banyuwangi Regency in 2010 Syamsudini, M.
Fenomena Vol 9 No 1 (2010): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v9i1.461

Abstract

This research examines the political participation of NU kiai in the Banyuwangi Regional Election in 2010. The research subjects were selected purposively. The aim of this study is to describe the forms of NU kiai participation as religious elites. This topic is interesting because many NU kiai were directly or indirectly involved in politics in Banyuwangi in 2010, despite their agreement that NU as an organization should return to khithah as its struggle paradigm. Theoretically, the analysis of kiai participation in politics is discussed through several theoretical approaches. This research employs a qualitative approach to portray dynamic social phenomena. The findings indicate that the socio-political situation of Banyuwangi society during the 2010 Regional Election can be described as a community that dislikes violence, even when differing in ideology, and resolves issues peacefully. The participation of NU kiai in the 2010 Regional Election varied, including voting, political party membership, involvement in social organizations, youth organization training, and participation in festivals, workshops, and multi-party events. Penelitian ini mengangkat masalah tentang partisipasi politik kiai NU dalam Pemilukada Kabupaten Banyuwangi tahun 2010. Subjek penelitian dipilih secara purposif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk partisipasi kiai NU sebagai elite agama. Topik ini menjadi menarik karena banyak kiai NU yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam politik di Banyuwangi pada tahun 2010, meskipun mereka telah sepakat bahwa NU sebagai organisasi harus kembali ke khithah sebagai paradigma perjuangannya. Secara teoretis, analisis partisipasi kiai dalam politik akan dibahas melalui beberapa pendekatan teoretis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan fenomena sosial yang dinamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situasi sosial politik masyarakat Banyuwangi dalam Pemilukada 2010 dapat digambarkan sebagai masyarakat yang tidak menyukai kekerasan, meskipun berbeda ideologi, dan menyelesaikan masalah secara damai. Partisipasi kiai NU dalam Pemilukada 2010 bervariasi, antara lain: pemberian suara, keanggotaan partai politik, keterlibatan dalam organisasi sosial, pembinaan organisasi kepemudaan, serta partisipasi dalam pawai, lokakarya, dan multi partai.
Tradisi Ngosek Ponjen: Refleksi Ajaran Islam dan Budaya Lokal pada Masyarakat Osing Banyuwangi: Ngosek Ponjen Tradition: Reflection of Islamic Teachings and Local Culture in the Osing Community of Banyuwangi Syamsudini, M.
Fenomena Vol 10 No 1 (2011): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v10i1.488

Abstract

The Ngosek Ponjen or Perang Bangkat tradition is a marriage ritual of the Osing Banyuwangi community for the youngest child (kemunjilan) who marries another youngest child or one of them is the youngest, with the hope that their married life will be happy. This tradition is filled with advice from the customary elders, reflected in every process of the tradition and the selected offerings. These offerings include peras pikul, peras suwun, pillows, bamboo mats, romesan, kinangan, cigarettes, earthen jugs, scented water, eggs, chickens, petarangan, stones, and a broom (sapu kerek). In terms of timing, this tradition is performed during the meeting (temon) of the bridal procession at dawn after the marriage oath is conducted first. The Ngosek Ponjen or Perang Bangkat cultural tradition is interesting to research because the Osing community uses this tradition as a form of religious understanding combined with local traditions through rituals and offerings (peras/sesojen). Tradisi Ngosek Ponjen atau Perang Bangkat adalah ritual pernikahan masyarakat Osing Banyuwangi untuk anak bungsu (kemunjilan) yang menikah dengan sesama anak bungsu atau salah satunya adalah anak bungsu, dengan harapan kehidupan rumah tangga mereka akan bahagia. Tradisi ini sarat dengan nasihat-nasihat dari para tetua adat yang tercermin dalam setiap prosesi tradisi dan sesajen yang dipilih. Sesajen tersebut meliputi peras pikul, peras suwun, bantal, tikar bambu, romesan, kinangan, rokok, kendi tanah, air wewangian, telur, ayam, petarangan, batu, dan sapu kerek. Dari segi waktu, tradisi ini dilaksanakan saat pertemuan (temon) prosesi pengantin pada subuh hari setelah akad nikah dilakukan terlebih dahulu. Tradisi budaya Ngosek Ponjen atau Perang Bangkat ini menarik untuk diteliti karena masyarakat Osing menggunakan tradisi ini sebagai bentuk pemahaman agama yang mereka gabungkan dengan tradisi lokal melalui ritual dan sesajennya (peras/sesojen).