Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran budaya komunikasi interpersonal dalam penerapan program pemberdayaan BUMDes Talafu di Kecamatan Botomuzoi. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi tantangan komunikasi antara pengelola BUMDes dan masyarakat serta mencari solusi untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola BUMDes, masyarakat setempat, dan observasi lapangan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa salah satu hambatan utama adalah keterlambatan informasi, yang berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan BUMDes. Misalnya, perubahan jadwal atau lokasi kegiatan yang tidak diinformasikan tepat waktu menyebabkan kebingungan dan ketidakhadiran warga. Selain itu, media komunikasi seperti papan pengumuman atau surat resmi tidak selalu efektif karena tidak semua warga mengaksesnya. Pola komunikasi formal yang dimulai dari rapat internal pengurus dan diteruskan melalui perangkat desa atau tokoh masyarakat juga belum sepenuhnya efektif. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai-nilai budaya setempat seperti gotong royong dan norma adat mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap program BUMDes. Program yang sesuai dengan adat lebih mudah diterima, sementara yang berbasis teknologi cenderung mendapat respons lambat. Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pemberdayaan adalah peran tokoh adat, kredibilitas sumber informasi, dan penggunaan saluran komunikasi yang sesuai. Hambatan-hambatan ini dapat menghambat keberhasilan program, sehingga peningkatan komunikasi dan penyesuaian dengan adat lokal sangat penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.Kata Kunci: Budaya, Komunikasi, Interpersonal, Pemberdayaan BUMDes.