Penelitian ini berfokus pada dinamika komunikasi antar generasi di lingkungan gereja dengan perspektif ilmu komunikasi. Keberadaan berbagai kelompok usia—mulai dari Baby Boomers, Generasi X, Milenial, hingga Generasi Z—menunjukkan pola interaksi yang beragam dan sering kali menimbulkan kesenjangan komunikasi. Jemaat yang lebih tua cenderung mengutamakan tatap muka dengan nuansa formal serta berlandaskan tradisi, sedangkan generasi muda lebih banyak menggunakan media digital, bersikap ekspresif, dan menekankan partisipasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di sebuah gereja di Indonesia. Data diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antar generasi berlangsung dalam bentuk dialektis, seperti keterhubungan dan kemandirian, keterbukaan dan ketertutupan, serta tradisi dan inovasi. Walaupun terdapat tantangan, komunikasi lintas generasi juga berfungsi memperkuat solidaritas jemaat melalui keterlibatan bersama dalam ibadah dan pelayanan sosial. Secara teoritis, penelitian ini memperluas kajian komunikasi lintas generasi dalam konteks keagamaan. Secara praktis, penelitian ini menegaskan pentingnya strategi komunikasi gereja yang inklusif dengan menggabungkan interaksi tatap muka dan pendekatan digital, sehingga kohesi sosial jemaat tetap terjaga di tengah perubahan zaman.