Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Informasi Anatomi Pemeriksaan Pedis Pada Kasus Trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal Rosita Adiniyah; Widya Mufida; Redha Okta Silfina
Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Akademi Kebidanan Bunga Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54100/bemj.v8i2.492

Abstract

Pemeriksaan pedis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal umumnya menggunakan proyeksi AP dan obliq, namun pada kasus trauma sering kali disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada kasus TN.R, hanya menggunakan proyeksi AP dengan penyudutan antara kaset dan objek sebesar 35º. Menurut Lampignano (2018) dan penelitian Wahyuni et al. (2018), pemeriksaan pedis menggunakan proyeksi AP Axial 10º cephalad dan oblik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui informasi anatomi pemeriksaan pedis pada kasus trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal. Metode penelitian ini berupa observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan pada bulan September 2024- Mei 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini yaitu tiga orang Radiografer, satu orang Dokter Radiologi dan 1 orang Dokter Pengirim sedangkan objek penelitian ini yaitu teknik pemeriksaan pedis pada kasus trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal. Teknik pemeriksaan pedis pada kasus trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal hanya menggunakan proyeksi anteroposterior dengan penyudutan antara kaset dengan objek sebesar 35º. Informasi anatomi belum cukup karena hanya menampilkan anatomi phalang dan metatarsal, sedangkan anatomi tarsal tidak terlihat jelas. Penyudutan ini juga menyebabkan distorsi elongation yang dapat menghilangkan detail anatomi penting pada radiograf.. Kelebihan pada pemeriksaan ini yaitu pasien tidak merasa sakit selama dilakukan pemeriksaan namun kekurangannya adalah terdapat distorsi pada hasil radiograf. Proyeksi AP dengan penyudutan antara kaset dengan objek sebesar 35º digunakan karena pasien nonkooperatif dan keterbatasan alat fiksasi. Hasil citra belum optimal karena struktur ossa tarsal tidak terlihat jelas. Kelebihannya, pasien tidak merasa sakit selama pemeriksaan, namun terdapat distorsi pada radiografi. Oleh karena itu, teknik ini kurang sesuai untuk digunakan terutama pada kasus trauma.
EDUKASI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) SEBAGAI PENDETEKSIAN AWAL KANKER PAYUDARA BAGI KARYAWATI DAN MAHASISWI Nugraheny, Dwi; Asih Pujiastuti; Esa Rengganis; Yuliani Indrianingsih; Anton Setiawan H; Redha Okta Silfina
Jurnal Edukasi Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : FIP UNIRA MALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36636/eduabdimas.v5i1.8381

Abstract

At present, breast cancer is commonly found among women under 50 years old. This situation may occur due to lifestyle changes, limited knowledge about how to care for breast health, and the lack of early detection habits. One of the easiest methods to detect breast cancer symptoms early is SADARI, or Self-Breast Examination. So far, SADARI education has never been conducted at the Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto. Therefore, this community service activity aims to educate female students and staff at Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto about breast cancer using the SADARI method. This education was carried out through health counseling by medical experts experienced in breast cancer, as well as sharing sessions with breast cancer survivors. Based on the pre-test and post-test results, participants’ knowledge improved from an average of 79.97% to 84.89%. Through this SADARI breast cancer education, it is expected that female students and staff at Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto will become more aware, develop early detection habits, and help prevent future risks, thereby improving recovery chances and reducing disease severity.