Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Solusi Terkait Turnover Intantion Yang Dipengaruhi Oleh Stres Kerja Dan Lingkungan Kerja Dengan Metode Root Cause Analysis (RCA) Di PT. XYZ Gustiyan Taufik Mahardika; Dionisius Sundoro; Nuraeni Febriana P.
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i6.11261

Abstract

Turnover Intention merupakan tantangan utama industri yang memengaruhi stabilitas tenaga kerja dan produktivitas. Di Departemen Produksi Stamping, tingginya beban kerja dan lingkungan yang dinamis memicu stres kerja dan kondisi kerja yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh stres kerja dan lingkungan kerja terhadap Turnover Intention serta mengidentifikasi solusinya. Sampel berjumlah 93 karyawan dengan teknik sampling jenuh. Analisis menggunakan regresi linier berganda melalui SPSS versi 27 dan metode Root Cause Analysis (RCA) untuk identifikasi solusi. Hasil dari penelitian ini ialah hasil uji t menunjukkan stres kerja berpengaruh signifikan terhadap Turnover Intention dengan thitung 5,925 > ttabel 1,986; sig. 0,000 < 0,05, dan lingkungan kerja dengan thitung 3,089 > ttabel 1,986; sig. 0,003 < 0,05. Secara simultan, stres kerja dan lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap Turnover Intention dengan Fhitung 52,185 > Ftabel 3,097; sig. 0,001 < 0,05. Solusi RCA untuk stres kerja meliputi evaluasi beban kerja tiap 3 bulan, forum komunikasi, dan penerapan prinsip Heijunka. Untuk lingkungan kerja, disarankan pembuatan SOP penggunaan dan penyimpanan alat, jadwal pengecekan rutin, pelatihan 5R, serta penambahan rak/tray sesuai kategori.
STRATEGI PEMILIHAN SUPPLIER BESI & BAJA DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. X (JASA PERBAIKAN KAPAL) Arif Dzulfikar; Rama Dhani Pratama; Fitra Aprilindo Sase; Yulius Jatmiko Nuryatno; Gustiyan Taufik Mahardika
Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA) Vol 9 No 3 (2025): Edisi September - Desember 2025
Publisher : LPPM STIE Muhammadiah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31955/mea.v9i3.6335

Abstract

Pemilihan supplier yang akurat memegang peran penting dalam menjaga kelancaran proses produksi, khususnya di sektor manufaktur dan perkapalan.penelitian ini dilakukan di PT X. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prioritas pemilihan supplier besi dan baja dengan menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik perusahaan. Tiga supplier yang menjadi objek penelitian adalah PT TK, PT TAM, dan CV MTF, Kriteria penilaian meliputi harga, kualitas, layanan, pengiriman, lokasi, dan fleksibilitas. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh tiga responden dari divisi pengadaan barang & jasa di PT X. Teknik pemilihan pakar atau responden dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan purposive sampling. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Analytical Hierarchy Process yang menjadi alat yang efektif untuk mendukung pengambilan keputusan strategis dalam pemilihan supplier yang diolah dengan microsoft excel, hasil dari perhitungan tingkat kepentingan kriteria pemilihan supplier menghasilkan prioritas sebagai berikut : Prioritas pertama Harga, Prioritas kedua Lokasi, Prioritas ketiga Kualitas, Prioritas keempat Layanan, Prioritas kelima Fleksibilitas, dan Prioritas terakhir Pengiriman. Dari skala kepentingan alternatif dalam pemilihan supplier menghasilkan prioritas sebagai berikut : Prioritas pertama PT TAM, prioritas kedua PT TK dan terakhir CV MTF. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis diatas, saran yang dapat diberikan untuk perusahaan yaitu dari ketiga alternatif tersebut, perusahaan yang dapat diutamakan sebagai pemasok besi dan baja adalah PT TAM karena berdasarkan hasil perhitungan memiliki nilai keseluruhan tertinggi. Dengan begitu perusahaan dapat mencari pengganti CV. MTF untuk alternatif yang memiliki bobot skala penilaian terendah.