Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Annelid Biodiversity In Dead Corals Against Pollution In Tarahan Island Baretta Ari Nauli; Zahra Amalia Putri; Rita Arisma Banjarnahor; Habil Hisyam; Bagas Septian Pratama; A'tha Dhafa Bayu Setya; Moch Saad; Prakas Santoso; Afifah Nurazizatul Hasanah
Grouper Vol. 16 No. 2 (2025): Grouper : Jurnal Ilmiah Perikanan
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/grouper.v16i2.324

Abstract

Tarahan Island is one of the small islands located in the waters of Banten Bay, Banten Province. This study aims to determine the cryptic organisms found on dead corals and determine the level of seawater pollution with TSS, BOD, COD parameters used as variables for assessing the status of water pollution in Tarahan Island, Banten. The method used in this research is using Purposive Sampling location determination. Data collection was carried out on March 26, 2025 to May 15, 2025 on Tarahan Island. Based on the results of the study found 42 individuals of the phylum Annelida. The most common species found was Alitta Succinea. The results of TSS research showed an average concentration of 377.77778 mg/L and BOD had an average concentration of 0.616667 mg/L.
Seawater Pollution Level and Biodiversity Diversity in Tarahan Island, Serang, Banten Anita Fanoura; Najmi, Sabilla; Wahdaniyah Pratiwi; Faisal Akbar Munggaran; Muhamad Niam Bastomi; Moch Saad; Prakas Santoso; Afifah Nurazizatul Hanasah; Bagus Syahriil Fahlevi
Grouper Vol. 16 No. 2 (2025): Grouper : Jurnal Ilmiah Perikanan
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/grouper.v16i2.329

Abstract

Coastal ecosystems are transitional areas between land and sea with high biodiversity. However, currently coastal ecosystems are experiencing complex changes, many developments and activities in coastal areas cause indirect damage. One of the impacts is the entry of pollutants from land into the sea, such as heavy metals, pesticides and organic waste, which can disrupt the balance of marine biodiversity. This study aims to analyze the diversity of biodiversity and the level of seawater pollution in Tarahan Island, Serang, Banten. The method used was purposive sampling for water sampling, cryptic biota and seagrass. Biota identification was done visually using scientific references such as the World Register of Marine Species (WoRMS), while the level of water pollution was measured through Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Total Suspended Solid (TSS) analysis.
Analisis Perbandingan Keanekaragaman Crustacea Pada Karang Mati Dan Pesisir Wilayah Timur Pulau Tarahan Rifqi Maulana Waliuddin; Fharikha Indriyawati; Meilisa Maulida; Serlina Candraningtiyas; Devina Sayyida Nafisa; Moch Saad; Afifah Nurazizatul Hasanah; Prakas Santoso
JKP - Jurnal Kelautan dan Pesisir Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Kelautan dan Pesisir
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, FIPAK, Universitas OSO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67240/jkp212025115-123

Abstract

Pulau Tarahan, yang terletak di wilayah timur Kabupaten Serang, Banten, merupakan kawasan pesisir yang masih relatif alami dan kaya akan keanekaragaman biota laut. Crustacea merupakan bagian penting dari rantai makanan laut dan menunjukkan seberapa baik lingkungan perairan. Untuk mengukur kualitas air, parameter Dissolved Oxygen (DO) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) digunakan. Sampel diambil menggunakan tangan (handpick) Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi spesies berbeda di masing-masing habitat. Di pesisir ada 12 spesies dengan lebih banyak individu daripada Pilumnus leach, sedangkan di karang mati ada 8 spesies dengan lebih banyak individu daripada Coenobita spp. Nilai indeks keanekaragaman (H') di kedua lokasi sedang (1,94 di pesisir dan 1,96 di karang), dan indeks dominansi (C') rendah (0,1) menunjukkan komunitas yang stabil tanpa spesies yang mendominasi. Kualitas air di seluruh stasiun berada dalam kategori yang mendukung kehidupan akuatik, berdasarkanengukuran DO dan BOD. Dengan DO tertinggi 6,9 mg/L dan BOD tertinggi 1,1 mg/L, keduanya berada di bawah batas wajar. Hasil ini menunjukkan bahwa distribusi dan kelimpahan spesies Crustacea dipengaruhi oleh perbedaan habitat dan kualitas air. Keanekaragaman hayati di daerah pesisir dan karang mati sangat didukung oleh substrat kompleks, bahan organik, dan oksigen terlarut.  
Keanekaragaman Arthopoda pada Ekosistem Lamun di bagian Timur Pulau Tarahan, Kabupaten Serang, Banten Mujadida Fa; Nazmi Safina; Tito Setiawan; Retno Purnamasari; Kayla Shalsabila; Afifah Hasanah; Prakas Santoso; Moch Saad
JKP - Jurnal Kelautan dan Pesisir Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Kelautan dan Pesisir
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, FIPAK, Universitas OSO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67240/jkp212025124-134

Abstract

Pulau Tarahan, Banten, memiliki potensi kekayaan ekosistem pesisir, termasuk padang lamun dan berbagai keanekaragaman hayati lainnya. Tetapi informasi ilmiah tentang keanekaragaman Arthropoda dan kondisi lamun di sana masih minim, sehingga peneliti melakukan penelitian tentang informasi keanekaragaman Arthropoda dan kondisi lamun di Pulau Tarahan. Melalui teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan kerapatan dan distribusi lamun di area penelitian, hasil penelitian menunjukkan adanya spesies lamun dominan Thalassia Hemprichii dengan skor indeks kesehatan ekosistem lamun (IKEL) sebesar 0,25 yang menunjukkan kondisi sangat buruk akibat rendahnya tutupan dan kepadatan lamun. Indeks keanekaragaman arthropoda Shannon-Wiener (H') sebesar 3,07 menunjukkan keanekaragaman yang tinggi dengan dominasi kelas Gastropoda (15 jenis). Namun, indeks keseragaman (E = 0,11) menunjukkan keanekaragaman spesies yang tidak seragam, berbanding dengan indeks dominansi (D) yang membenarkan dominansi Gastropoda atas kelas lainnya.
Keanekaragaman, Keseragaman, Dan Dominansi Biota Karang Pada Sisi Timur dan Barat Pulau Tarahan, Kecamatan Bojonegara, Banten Adelia Futri; Ahmad Riza Rabbani; Dini Fat Zhara Nuari; Cahyo Sandy Nugroho; Christian Firdotua Pangihutan Sinaga; Aditya Putra Firdaus; Afifah Nurazizatul Hasanah; Prakas Santoso; Moch Saad
JKP - Jurnal Kelautan dan Pesisir Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Kelautan dan Pesisir
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, FIPAK, Universitas OSO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67240/jkp222025162-171

Abstract

Pulau Tarahan merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di Utara provinsi Banten. Letak dari Pulau Tarahan tidak terlalu jauh dari kawasan industri yang berada di sekitar Bojonegara, Banten. Karena letaknya yang dekat dengan kawasan industri itu membuatnya rentan terdampak pencemaran yang mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi biota yang hidup di karang mati di Pulau Tarahan, Banten. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi biota pada karang mati yang ada di Pulau Tarahan, Banten. Penelitian ini berfokus pada 2 titik stasiun yaitu sisi Barat dan sisi Timur Pulau Tarahan. Metode yang digunakan adalah metode random sampling. Penelitian ini menemukan pada sisi Barat dan Timur pulau terdapat beberapa persamaan dan perbedaan spesies dari sampel karang mati yang diambil. Pada stasiun Barat ditemukan 4 filum dengan total 24 spesies dan pada stasiun Timur ditemukan 4 filum dengan total 21 spesies. Berdasarkan hasil penghitungan nilai indeks keanekaragaman stasiun Barat adalah 2,83 sedangkan untuk stasiun Timur adalah 2,55. Untuk indeks keseragaman stasiun Barat adalah 0,90 sedangkan untuk stasiun Timur adalah 0,84. Nilai indeks dominansi tertinggi ditemukan pada stasiun Timur dengan nilai 0,12 sedangkan untuk stasiun Barat adalah 0,08. Setelah mengetahui nilai dari indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi pada stasiun Barat dan stasiun Timur dapat dikaitkan dengan kondisi perairan pada Pulau Tarahan untuk diambil kesimpulan apakah biota pada karang mati tersebut terbilang stabil atau tidak.