Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The ANGIOFIBROMA NASOFARING: ANGIOFIBROMA NASOFARING Nurwiyan, Nafila; Cahyadi, Ismi; Purnamasari, Febriyanti; Budiman Saputra Basyir, Pahmi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v11i2.9694

Abstract

ABSTRAK ANGIOFIBROMA NASOFARING Nafila Nurwiyan*, dr. Ismi Cahyadi, Sp.THT-BKL Subsp Onk (K), FICS ** , *Dokter Muda FK UGJ **Konsultan Pembimbing SMF THT-KL RSUD Waled Latar Belakang : Angiofibroma nasofaring atau juvenile nasofaringeal angiofibrama (JNA) merupakan tumor jinak pembuluh darah nasofaring yang secara histopatologi jinak tetapi secara klinis ganas karena sifatnya yang agresif dan merusak tulang serta meluas ke jaringan sekitar, seperti sinus paranasal, pipi, mata, dan tengkorak, serta mudah berdarah dan sulit dihentikan. Ketidakseimbangan hormon diketahui dapat menyebabkan defisiensi androgen atau kelebihan estrogen. Tujuan : Untuk meningkatkan kajian dan pengetahuan mengenai angiofibroma nasofaring. Hasil : Pasien mengeluh hidung sebelah kanan tersumbat, mimisan, dan mengorok saat tidur. Pada pemeriksaan fisik konka inferior di regio cavum nasii dextra tampak hipertrofi, mudah berdarah, tidak ada saluran udara. Kesimpulan : Hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang mendiagnosis angiofibroma dan diberikan penatalaksanaan bedah yaitu ekstirpasi massa dan ligasi arteri karotis. Kata kunci : Angiofibroma nasofaring, hidung tersumbat, hormonal.
Hubungan Tingkat Gangguan Pendengaran dengan Interaksi Sosial pada Pasien Dewasa di RS Gunung Jati Cirebon Mauladani, Muhammad Firqin; Budiman Saputra Basyir, Pahmi; Cahyadi, Ismi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i9.61600

Abstract

Gangguan pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat di seluruh dunia, dengan lebih dari 466 juta orang di dunia, termasuk 15 juta orang di Indonesia, yang mengalami kondisi ini. Pada individu dewasa, gangguan pendengaran dapat berdampak signifikan terhadap kemampuan komunikasi, yang merupakan bagian penting dari interaksi sosial. Faktor penyebab gangguan pendengaran sangat bervariasi, termasuk infeksi telinga, penumpukan kotoran telinga, trauma, paparan suara bising dalam jangka panjang, serta penuaan. Gangguan pendengaran ini tidak hanya mempengaruhi individu lanjut usia, tetapi juga kelompok usia produktif yang terpapar lingkungan bising, seperti pada pekerja di luar ruangan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara tingkat gangguan pendengaran dan interaksi sosial pada pasien dewasa di RSD Gunung Jati Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 48 pasien dewasa di poli THT-KL RSD Gunung Jati Cirebon dan diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner Social Interaction Anxiety Scale (SIAS) dan tes audiometri untuk menilai tingkat penurunan pendengaran pada pasien dewasa. Hasil uji Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan dan kuat antara tingkat gangguan pendengaran dengan interaksi sosial pada orang dewasa (p=<0,001; r=0,606). Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan tingkat gangguan pendengaran berkorelasi dengan semakin tingginya gangguan interaksi sosial. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat gangguan pendengaran dengan interaksi sosial pada pasien dewasa di RSD Gunung Jati Cirebon.