Wijayanti, Christina Wahyu
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Manajemen Fisioterapi pada Reaksi Morbus Hansen Type II "A Case Report" Billa, Azizah Shalsa; Komalasari, Dwi Rosella; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kusta tipe II atau Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi inflamasi akut yang sering ditemukan pada pasien dengan kusta tipe multibasiler. Reaksi ini dapat menyebabkan gejala sistemik seperti nyeri hebat, nodul subkutan, anhidrosis, dan pembengkakan yang berujung pada penurunan kualitas hidup pasien. Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling terhadap nyeri, odema, dan elastisitas kulit pada pasien dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen tipe II. Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di RS Sumber Glagah Mojokerto pada bulan Oktober-November 2024 pada seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen Tipe II. Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi dalam tiga sesi intervensi aktif dengan active assisted exercise, oiling, dan breathing exercise. Pemeriksaan fisioterapi dengan palpasi untuk mengukur elastisitas kulit, lembar POD (Prevention of Disability) untuk mengukur sensitivitas saraf, penilaian nyeri dengan NRS (Numeric Rating Scale) dan pengukuran lingkar odem dengan antropometri. Conclusion: Fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling dapat mengurangi gejala inflamasi dan mempertahankan fungsi ekstremitas pada pasien kusta tipe 2. Penanganan berkelanjutan dibutuhkan untuk memperbaiki disfungsi saraf dan elastisitas kulit secara menyeluruh.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Claw Finger e.c. Morbus Hansen disertai Drop Foot: A Case Report Sari, Etik Yunita; Wahyuni, W; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kusta atau lepra merupakan salah satu penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat menyerang pada area kulit, saraf tepi, saluran pernapasan, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta ditandai dengan gejala berupa lesi kulit yang tidak terasa sakit,atau mati rasa serta penurunan sensitivitas kulit, deformitas pada ekstremitas tubuh akibat kerusakan saraf. Meskipun kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan cacat permanenpada penderita kusta.Case Presentation: Seorang pasien dengan nama TN. A, laki-laki berusia 28 tahun, didiagnosis menderita claw finger bilateral dan drop foot bilateral. Pasien mengeluhkan nyeri di tangan kiri dan mati rasa di telapak tangan kanan, khususnya pada area jari keempat dan kelima. Ia juga kesulitan untuk meluruskan jari-jarinya.Management and Outcome: Diberikan intervensi fisioterapi sebanyak 2 kali pertemuan selama 2 minggu diapatkan hasil pada kekuatan otot yang masi sama , pengukuran lingkup gerak sendi yang meningkat , dan peningkatan kemampuan fungsional yang masi samaDiscussion: Pemberian intervensi fisioterapi dalam dua pertemuan menunjukkan hasil bahwa kekuatan otot tidak berubah, lingkup gerak sendi sedikit meningkat, dan aktivitas fungsional tetap sama. Kerusakan saraf butuh waktu lama untuk sembuh, sehingga diperlukan waktu evaluasi lebih lama. Penelitian yang lebih lama dapat memberikan hasil yang baik untuk evaluasi jangka panjangnConclusion: Intervensi fisioterapi dalam dua pertemuan tidak mengubah peningkatan otot, sedikit peningkatkan lingkup gerak sendi, serta tidak mengubah aktivitas fungsional sehari-hari. Pemulihan saraf butuh waktu lama. Penelitian lebih panjang bisa menghasilkan hasil yang lebih baik.
Penerapan Active Exercise dan Pumping Ankle Exercise untuk Mengurangi Nyeri dan Meningkatkan Fungsional pada Penderita Chronic Ulcers ec Morbus Hansen: Sebuah Studi Kasus Setyawan, Annisa Putri Amalia; Herawati, Isnaini; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic ulcer merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas dengan prevelensi yang terus meningkat yang terjadi karena disfungsi vena, diabeteus mellitus, infeksi, neuropati parifer, tekanan dan aterosklerosis. Bakteri penyebab chronic ucler salah satunya adalah bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini biasanya muncul pada penderita morbus hansen (kusta). Morbus,hansen merupakani infeksii kronis yangi disebabkani olehi bakterii mycobacterium lepraei yang menyerang saraf tepi kemudian mengenai organ-organ tubuh lainnya, yang dapat mengakibatkan hilangnya sensibilitas serta susah melakukan aktivitas sehari-hari karena penurunan kekuatan otot serta penurunan kemampuan fungsional pada penderitanya.Case Presentation: sebuah case report yang dilakukan di RSUD Sumber Glagah Mojokerto dengan diagnose medis Chronic Ulcers ec Morbus Hansen pada seorang ibu yang berusia 59 tahun dengan keluhan luka di kedua kaki yang sudah 2 bulan belum sembuh, luka basah dan terasa nyeri serta melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan kursi roda.Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus ini adalah dengan Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle. Intervensi ini dilakukan untuki meningkatkani lingkupi gerak sendi, meningkatkani kekuatan ototi pada regio ankle, mencegah luka berlubang serta untuk meningkatan activity daily living pasien sehingga pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle dilakukan selama 3 hari dengan dosis 10 menit disetiap intervensinya. Evaluasi latihan dilakukan di setiap hasil latihan untuk mengetahui efektivitasnya. Evaluasi nyeri dengan NRS, LGS dengan goniometer, kekuatan otot dengan MMT dan Kemampuan fungsional dengan index bartelConclusion: setelah meakukan latihan Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle selama 3 hari, didapatkan bahwa nyeri mengalami penurunan akan tetapi Kemampuan fungsionalnya tidak mengalami peningkatan.