Saputra, Ilman Hendrawan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Sound Horeg di Jawa Timur: Perspektif Hadis dan Implikasi Medis terhadap Kebisingan dan Etika Sosial Saputra, Ilman Hendrawan
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/quhas.v14i1.42872

Abstract

Sound horeg merupakan tradisi budaya di Jawa Timur yang kerap dimanfaatkan dalam berbagai perayaan hiburan. Namun, penggunaan yang melibatkan suara tinggi dan bass berlebihan dapat menyebabkan dampak medis dan sosial. Dari sudut pandang medis, eksposur terhadap suara dengan tingkat intensitas di atas 85 desibel dapat mengakibatkan masalah pendengaran, stres, hipertensi, serta gangguan tidur. Studi hadis menunjukkan bahwa perilaku yang mengganggu orang lain, campurnya pria dan wanita tanpa batas, berpakaian ketat, serta mengabaikan ibadah dilarang dalam Islam. Suara bising tidak diizinkan jika dilakukan di tempat umum dengan keadaan yang melanggar norma agama dan kesehatan. Sebaliknya, sound horeg diizinkan jika dilaksanakan di area terbuka dengan pemisahan jenis kelamin, berpakaian sopan, menghentikan sementara untuk beribadah, serta mengatur volume sesuai batas kesehatan. Pendekatan ini menggabungkan nilai-nilai agama dan kesehatan untuk mendukung tradisi yang aman serta bertanggung jawab.
HADITH AND THE ETHICS OF PUBLIC SPACE: the Case of the Sea Fence Conflict in Tangerang Saputra, Ilman Hendrawan
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31921

Abstract

The construction of a sea fence along the coast of Tangerang Regency has sparked complex legal, social, and religious controversies. This study critically examines the legal status of the project and its socio-economic implications for coastal communities through the lens of prophetic hadiths and Indonesian agrarian law. Employing a multidisciplinary methodology, the research integrates spatial analysis using historical Google Earth imagery (1985–2024), linear regression modeling for shoreline change estimation, normative analysis of regulations such as Government Regulation No. 24/1997 and Ministry of Agrarian and Spatial Planning Regulation No. 17/2021, and a textual analysis of relevant ṣaḥīḥ hadiths. The findings reveal systemic administrative irregularities involving land document falsification and abuse of authority, which contravene both Indonesian law and prophetic ethical teachings. Key hadiths—such as "Whoever cheats is not one of us" (Muslim No. 102), the warning against untrustworthy leadership (Bukhari No. 7150), and severe eschatological consequences for land usurpation (Bukhari No. 2454)—underscore the moral gravity of such practices. Beyond legal transgressions, the sea fence has resulted in the marginalization of local fishermen, economic dispossession, and rising communal tensions. This study contributes to the scholarship on Islamic environmental ethics, legal anthropology, and hadith application in contemporary governance by demonstrating how prophetic teachings can serve as normative frameworks for assessing development policies and protecting vulnerable communities.[Pembangunan tanggul laut di pesisir Kabupaten Tangerang telah memicu kontroversi hukum, sosial, dan keagamaan yang kompleks. Studi ini secara kritis menelaah status hukum proyek tersebut serta implikasi sosial-ekonominya terhadap masyarakat pesisir melalui perspektif hadis Nabi dan hukum agraria Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner, penelitian ini mengintegrasikan analisis spasial menggunakan citra historis Google Earth (1985–2024), pemodelan regresi linear untuk estimasi perubahan garis pantai, analisis normatif terhadap regulasi seperti PP No. 24 Tahun 1997 dan Permen ATR/BPN No. 17 Tahun 2021, serta telaah tekstual terhadap hadis-hadis ṣaḥīḥ yang relevan. Temuan menunjukkan adanya penyimpangan administratif sistemik berupa pemalsuan dokumen tanah dan penyalahgunaan kewenangan, yang melanggar hukum positif maupun nilai-nilai etika kenabian. Hadis-hadis kunci—seperti “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku” (HR Muslim No. 102), peringatan terhadap pemimpin yang tidak amanah (HR Bukhari No. 7150), serta ancaman keras terhadap perampas tanah (HR Bukhari No. 2454)—menegaskan beratnya pelanggaran moral tersebut. Di luar aspek hukum, pembangunan tanggul laut ini telah menyebabkan marjinalisasi nelayan lokal, kerugian ekonomi, dan meningkatnya konflik horizontal. Studi ini memberikan kontribusi terhadap kajian etika lingkungan Islam, antropologi hukum, dan penerapan hadis dalam kebijakan kontemporer, dengan menunjukkan bagaimana ajaran Nabi dapat menjadi kerangka normatif dalam menilai proyek pembangunan serta melindungi komunitas yang rentan.]