Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak hanya berperan dalam pembinaan akhlak dan ilmu agama, tetapi juga dituntut untuk mandiri secara ekonomi melalui pengelolaan unit usaha. Salah satu unit bisnis yang berkembang adalah laundry, yang sangat dibutuhkan oleh santriwati dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, pengelolaan unit laundry kerap menghadapi kendala, seperti keterlambatan penyelesaian cucian dan keterbatasan fasilitas. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis persepsi komunitas pondok terhadap layanan dan manajemen unit bisnis laundry di Pondok Pesantren Imam Syafi’i Putri Brebes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert, wawancara mendalam dengan santriwati, pengelola, serta pihak manajemen pesantren, dan dokumentasi operasional laundry. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan laundry dipersepsikan positif oleh komunitas pondok. Sebanyak 90% responden menilai kualitas hasil cucian sangat baik, 92% menilai tarif layanan terjangkau, dan 88% menilai pelayanan karyawan ramah serta cepat tanggap. Kendati demikian, terdapat kelemahan pada aspek ketepatan waktu, di mana 15% responden menilai masih terjadi keterlambatan, terutama saat musim hujan atau ketika jumlah cucian meningkat. Selain itu, keterbatasan mesin dan sumber daya manusia menjadi faktor penyebab penumpukan cucian. Secara umum, unit bisnis laundry dinilai mampu memberikan manfaat praktis sekaligus berpotensi menjadi sarana penguatan kemandirian ekonomi pesantren dan pendidikan kewirausahaan santriwati.