Dede Zubaidah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSEP PEMBELAJARAN CODING DAN IMPLIKASINYA DALAM KURIKULUM NASIONAL: The Concept of Coding Learning and its Implications in the National Curriculum Dede Zubaidah; Syamsul Aripin
TA'LIMUNA: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/09sw4x62

Abstract

The development of information and communication technology has brought major changes in various aspects of life, including in the field of education. One of the skills that is increasingly important in this digital era is programming (coding). This article discusses the urgency of including coding subjects into the education curriculum in Indonesia, the benefits that students can get, and the challenges in its implementation. Through literature studies and education policy analysis, this article shows that coding not only improves technical skills but also critical thinking, problem solving, and creativity of students. This policy has benefits that are much needed in the current era 4.0 and society 5.0. For educational, social, business and innovation needs in various fields. In addition to the benefits, there are challenges that must be faced by the government and society in implementing this policy, developing human resources, completing infrastructure, collaborating with the technology industry and others. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Salah satu keterampilan yang semakin penting di era digital ini adalah pemrograman (coding). Artikel ini membahas tentang integrasi pembelajaran coding ke dalam kurikulum nasional, manfaat yang bisa didapatkan murid, dan tantangan dalam implementasinya. Melalui studi literatur dan analisis kebijakan pendidikan, artikel ini menunjukkan bahwa coding tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis tetapi juga berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas. Kebijakan ini memiliki manfaat yang sangat dibutuhkan di era 4.0 dan masyarakat 5.0 saat ini. Untuk kebutuhan pendidikan, sosial, bisnis, dan inovasi di berbagai bidang. Selain manfaat, ada tantangan yang harus dihadapi pemerintah dan masyarakat dalam mengimplementasikan kebijakan ini, antara lain mengembangkan kualitas sumber daya manusia, melengkapi infrastruktur, berkolaborasi dengan industri teknologi dan lainnya. Kata Kunci :  Integrasi; Kurikulum Nasional; Pembelajaran Coding.
PERSEPSI ORANG TUA MENGENAI PENDIDIKAN AGAMA SEBAGAI LANDASAN PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK Eva Amelia; Huwaiza Faqiha Maulida Hidayat; Nabila Syahir; Dede Zubaidah
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2243

Abstract

Pendidikan agama sangat penting dalam pembentukan akhlak anak sejak usia dini. Salah satu faktor yang memengaruhi dalam pembentukan akhlak anak adalah orang tua. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam menanamkan pendidikan agama untuk pembentukan akhlak anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi orang tua mengenai pentingnya pendidikan agama Islam untuk anak, dengan fokus pada implementasi nilai-nilai agama Islam yang dilakukan orang tua di rumah, dan pentingnya menjadi teladan yang baik bagi anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada beberapa orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua menjadi pengaruh bagi anak dalam mengenalkan dan mengajarkan ajaran agama Islam pada anak, seperti salat berjamaah, membaca Quran, dan menghafal surat pendek. Dengan demikian, orang tua memiliki peran strategis dalam membentuk fondasi agama yang kuat pada anak, yang kelak akan menjadi landasan di masa yang akan datang.
PERBANDINGAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP FUNGSI SOSIAL MASJID DI WILAYAH PERUMAHAN DAN PEDESAAN Himmayatul Muthmainnah; Julia Rahma Safira; Naurah Ayesha Maheswari; Dede Zubaidah
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2244

Abstract

Masjid memiliki kedudukan strategis dalam kehidupan umat Islam, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, masjid berfungsi sebagai pusat pembinaan umat dan penguatan peradaban Islam. Namun, dalam praktik kontemporer, fungsi sosial masjid belum sepenuhnya berjalan optimal. Berbagai tantangan masih dihadapi, seperti keterbatasan dana dan sumber daya, serta rendahnya partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda. Perbedaan persepsi masyarakat terhadap fungsi masjid sebagai pusat aktivitas sosial turut memengaruhi tingkat keterlibatan jamaah dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan persepsi masyarakat di wilayah perumahan dan pedesaan mengenai fungsi masjid sebagai pusat aktivitas sosial, mengidentifikasi bentuk aktivitas sosial yang dominan, serta mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan persepsi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, kuesioner terbuka, serta studi literatur. Lokasi penelitian meliputi Masjid Jami’ Darul Hikmah yang berada di wilayah perumahan dan Masjid Jami’ Taufiqillah yang berada di wilayah pedesaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jami’ Darul Hikmah memiliki peran yang relatif seimbang antara fungsi sosial dan keagamaan dengan keterlibatan masyarakat yang cukup aktif, meskipun partisipasi remaja masih terbatas. Sementara itu, Masjid Jami’ Taufiqillah lebih menonjol dalam kegiatan keagamaan dengan jangkauan jamaah yang lebih luas, namun aktivitas sosialnya cenderung terbatas akibat faktor lokasi dan hambatan psikologis remaja. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan peran masjid sebagai pusat aktivitas sosial melalui peningkatan partisipasi generasi muda dan dukungan masyarakat sekitar.