Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Tingkat Stres, Cemas, dan Depresi Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi: Studi Komparasi Exsa, Priya; Mardhiah, Ainun; Raihan, Gebrina; Luthfiya, Nura; Maqfira, Nurul; Azkiya, Nyak Dara; Qarar, Wan Miftahul; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34438

Abstract

A thesis is a scientific paper that is one of the requirements for graduation at the bachelors degree level (S1), which requires students to think critically, work independently, and manage academic pressure well. Writing a thesis often triggers stress, anxiety, and depression, which can affect students' psychological conditions. Gender differences also affect individual responses to academic pressure. The purpose of this study was to determine the level of stress, anxiety, and depression in students who are writing a thesis based on gender using a quantitative approach with a comparative design. 60 students were involved as research samples obtained through accidental sampling techniques, and data were collected online and offline using the DASS-21 instrument, which was then analyzed using the non-parametric independent sample t-test. The results of the study showed differences in the levels of stress, anxiety, and depression between male and female students who are writing a thesis. These findings indicate that students' psychological conditions are influenced by gender factors. The implications of this study can be used as a basis for developing psychological interventions that are more targeted and responsive to gender differences in the university environment.Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang menjadi salah satu syarat kelulusan pada jenjang Sarjana Strata Satu (S1), yang menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, bekerja mandiri, dan mengelola tekanan akademik dengan baik. Proses penyusunan skripsi sering kali memicu stres, kecemasan, dan depresi, yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Perbedaan jenis kelamin juga memengaruhi respons individu terhadap tekanan akademik tersebut. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi berdasarkan jenis kelamin dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sebanyak 60 mahasiswa terlibat sebagai sampel penelitian yang diperoleh melalui teknik accidental sampling, dan data dikumpulkan secara daring dan luring menggunakan instrumen DASS-21, yang kemudian dianalisis menggunakan uji non-parametrik Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat stres, kecemasan, dan depresi antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menyusun skripsi. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis mahasiswa dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan intervensi psikologis yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap perbedaan gender di lingkungan perguruan tinggi.
RELIGIOSITY DOES NOT MODERATE THE RELATIONSHIP BETWEEN FORGIVENESS AND MENTAL HEALTH OF SURVIVORS OF THE 2004 TSUNAMI INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Exsa, Priya; Amna, Zaujatul; Dahlia; Riady , Muhamad Antos
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.312

Abstract

Background: The tsunami that struck Aceh in 2004 had widespread negative impacts, including material losses, physical health problems, and psychological stress experienced by survivors. Twenty years after the event, various mental disorders such as anxiety, depression, and other emotional disorders are still found among the affected communities. In the religious culture of Aceh, religiosity is seen as a form of coping that can aid in psychological recovery. Purpose: This study aims to examine the role of religiosity as a moderate variable in the relationship between forgiveness and mental health among Aceh tsunami survivors. Method: The study used a quantitative approach with multiple regression analysis technique, involving 464 survivors selected through purposive sampling. Participants completed three research instruments, namely the Mental Health Inventory-18, Heartland Forgiveness Scale, and The Centrality of Religiosity Scale. Results: Data analysis used Hayes PROCESS moderation model 1, which showed that religiosity did not act as a moderator variable in the relationship between forgiveness and mental health. Moreover, no significant direct relationship was found between forgiveness and mental health. Conclusion: These findings indicate that forgiveness does not directly influence the level of mental health among tsunami survivors, and that religiosity does not strengthen this relationship in this context. Abstrak Latar Belakang: Tsunami Aceh 2004 menimbulkan dampak negatif luas, termasuk kerugian materiil, gangguan kesehatan fisik, dan tekanan psikologis pada penyintas. Dua puluh tahun setelah kejadian, gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan emosi masih ditemukan di masyarakat terdampak. Dalam budaya Aceh yang religius, religiusitas dipandang sebagai bentuk koping yang dapat membantu pemulihan psikologis. Tujuan: Penelitian ini menguji peran religiusitas sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pemaafan dan kesehatan mental pada penyintas tsunami Aceh. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda, melibatkan 464 penyintas yang dipilih melalui purposive sampling. Partisipan mengisi tiga instrumen: Mental Health Inventory-18, Heartland Forgiveness Scale, dan The Centrality of Religiosity Scale. Hasil: Analisis data menggunakan model moderasi PROCESS Hayes model 1 menunjukkan religiusitas tidak berperan sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pemaafan dan kesehatan mental. Tidak ditemukan hubungan langsung signifikan antara pemaafan dan kesehatan mental. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan pemaafan tidak secara langsung memengaruhi kesehatan mental penyintas tsunami, dan religiusitas tidak memperkuat hubungan tersebut.