Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Prediksi Tindakan Pencegahan Rabies untuk Menegakkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) pada SMA di Kota Kendari Tahun 2025 Annisya Syarifuddin; La Ode Muhamad Sety; Mubarak Mubarak
Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober: Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/akhlak.v2i4.1285

Abstract

Rabies is a deadly disease transmitted through animal bites, especially dogs, and is still a serious threat in Indonesia. As of April 2023, more than 31,000 bite cases have been recorded, with Southeast Sulawesi being the region with the highest cases. In Kendari City, data shows that bite cases have fluctuated since 2018. Research objectives: To develop a prediction model for rabies prevention measures to enforce an EWS in high school students in Kendari City. Research methods: Cross-sectional quantitative research, involving 350 students from three sub-districts (Baruga, Poasia, and Kadia) with independent variables in the form of knowledge, attitudes, and beliefs, and the dependent variable in the form of rabies prevention measures. Data were collected in February 2025 through a hybrid/online questionnaire. Research results: Knowledge, attitudes, and beliefs have a significant effect on rabies prevention measures in high school students in Kendari City. Knowledge is the most dominant factor (p = 0.000; Odds Ratio (B) = 8.747), followed by attitude (Odds Ratio (B) = 5.725) and belief (Odds Ratio (B) = 2.545). Students with good knowledge are 8.7 times more likely to take rabies prevention. If the three variables are at a low level, the probability of rabies prevention actions among students is 14.4%, but it increases significantly to 95.6% when all three variables are at a good level. Research Conclusion: There is a significant influence of knowledge, attitude, and belief on rabies prevention behavior to support the EWS among high school students in Kendari City in 2025. The probability of engaging in preventive behavior is 14.4% when all three variables are at a low level, but it increases significantly to 95.6% when all variables are at a high level. Knowledge contributes the most, while attitude and belief synergistically strengthen the overall effect.
Hubungan Pola Makan, Sedentary Lifestyle dan Durasi Tidur Dengan Kejadian Gizi lebih Pada Remaja Di SMA Negeri 9 Kendari Tahun 2024: Hubungan Pola Makan, Sedentary Lifestyle dan Durasi Tidur Dengan Kejadian Gizi lebih Pada Remaja Di SMA Negeri 9 Kendari Tahun 2024 findriyanti, findri; Wa Ode Salma; Devi Savitri Effendy; La Ode Muhamad Sety; Hariati Lestari; Rizki Eka Sakti Octaviani Kohali
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.194

Abstract

Latar belakang: Gizi lebih terjadi karena berbagai hal, tapi yang utama adalah ketidakseimbangan energi. Di Provinsi Sulawesi Tenggara, pada tahun 2023, jumlah remaja berusia 13-15 tahun yang mengalami overweight dan obesitas masing-masing adalah 9,0% dan 2,9%. Tujuan: penelitian ini ingin mencari tahu bagaimana pola makan, gaya hidup tidak aktif, dan waktu tidur berhubungan dengan masalah gizi lebih pada remaja. Metode: penelitian ini menggunakan cara observasional analitik dengan desain cross sectional. Ada 278 responden yang menjadi sampel yang dipilih dengan teknik pemilihan acak sederhana. Untuk analisis datanya, digunakan uji Chi-square. Hasil: menunjukkan bahwa pola makan (nilai p = 0,003), gaya hidup tidak aktif (nilai p = 0,021), dan waktu tidur (nilai p = 0,026) semuanya lebih kecil dari nilai p = 0,05. Kesimpulan: ada hubungan antara pola makan, gaya hidup tidak aktif, dan waktu tidur dengan masalah gizi lebih pada remaja. Sebaiknya, remaja harus menjaga pola makan yang sehat dengan mengurangi makanan yang tinggi kalori, lebih aktif bergerak untuk mengurangi gaya hidup tidak aktif, dan memastikan waktu tidur yang cukup untuk mendukung kesehatan. Dengan menjalani kebiasaan sehat secara teratur, remaja bisa mencegah masalah gizi lebih dan mencapai pertumbuhan yang baik dan berkelanjutan.