Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSPLORASI DESAIN RUANG MENGGUNAKAN TEKNIK FOLDING PAPER PADA WORKSHOP MAKET ARSITEKTUR Agustin, Laura Tri; Christian Adam, Jason; Edeline, Keira
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i2.34698

Abstract

The COVID-19 pandemic drastically transformed the education system, forcing teaching and learning activities to shift to online platforms. This transition brought new challenges, particularly a decrease in direct interaction between educators and students, as well as a decline in learning motivation among the younger generation. To reignite students' interest in learning and foster creativity in the post-pandemic era, the Architecture Study Program at Tarumanagara University held a workshop titled “Folding Paper” for 12th-grade students from Karangturi High School in Semarang. This workshop employed a hands-on learning approach based on folding architecture techniques, emphasizing spatial form exploration using paper as a medium. Participants were guided to design and build shelter models in groups, while also being given the opportunity to present their projects. The activity aimed to introduce students to the fundamentals of architectural thinking in an engaging way, while enhancing their visual, communication, and teamwork skills. The outcomes demonstrated that exploratory, practice-based learning effectively increases students’ interest in architecture and deepens their spatial understanding and creative potential. It is expected that through workshops accompanied by hands-on practice, the younger generation's interest in learning will increase significantly.   ABSTRAK Pandemi COVID-19 telah mengubah secara drastis sistem pendidikan, memaksa proses belajar mengajar beralih ke platform daring. Perubahan ini menimbulkan tantangan baru, terutama dalam menurunnya interaksi langsung antara pengajar dan siswa serta merosotnya minat belajar generasi muda. Dalam rangka menumbuhkan kembali minat belajar dan meningkatkan kreativitas siswa pasca pandemi, Program Studi Arsitektur Universitas Tarumanagara menyelenggarakan workshop bertema folding paper untuk siswa kelas 12 SMA Karangturi Semarang. Workshop ini mengusung pendekatan pembelajaran berbasis praktik dengan teknik folding architecture, yang menitikberatkan pada eksplorasi bentuk spasial melalui media kertas. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan laporan kegiatan dimana terbagi menjadi dua tahap yaitu kegiatan persiapan dan kegiatan pelaksanaan. Para peserta diajak membuat maket naungan dalam kelompok, sekaligus dilatih untuk mempresentasikan hasil karya mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan dasar-dasar berpikir arsitektural secara menyenangkan, serta melatih kemampuan visual, komunikasi, dan kerja sama tim. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran praktik berbasis eksplorasi mampu menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap dunia arsitektur serta mengasah kreativitas dan pemahaman ruang secara lebih mendalam. Diharapkan bahwa melalui kegiatan workshop yang disertai dengan praktik langsung, minat belajar generasi muda dapat meningkat.  
WORKSHOP MAKET 15 MENIT DI SMA PERMAI: KOREK API DAN KETERBANGUNAN Carina, Nina; Edeline, Keira; Christian Adam, Jason
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 4 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i4.37239

Abstract

Public knowledge regarding the Architecture study program remains limited. As a discipline predominantly housed under the Faculty of Engineering, Architecture is often perceived as a field strongly associated with technical calculations, while at the same time requiring creativity and drawing skills. Consequently, many high school students assume that proficiency in mathematics and manual drawing is a prerequisite for entering an architecture program. However, recent developments in architectural education in Indonesia—where the discipline is no longer dominated by engineering approaches and where computational design tools increasingly reduce the reliance on manual drawing—remain largely unfamiliar to the wider public, particularly to grade X and XI students at SMA Permai, North Jakarta. In response, the Community Service Team of Universitas Tarumanagara designed an outreach activity to introduce students to basic architectural thinking and practice. Considering the characteristics of Generation Z and the limited time available, the team implemented a “15-Minute Model Workshop.” Using simple wooden matchsticks as the primary material, students were encouraged to collaborate in groups, an essential skill for succeeding in higher architectural education. The workshop further provided opportunities to quickly search for precedents, experiment under time and resource constraints, and make design decisions to produce multiple creative alternatives. Each group concluded with a brief presentation of their work. Through this process, participants gained valuable experiences in teamwork, information seeking, experimentation, creative production, and public presentation—skills that constitute key success factors in architectural education. Ultimately, the 15-Minute Workshop broadened students’ understanding of architecture as a dynamic field of higher education. Pengetahuan Masyarakat mengenai Program Studi Arsitektur masih terbatas. Arsitektur sebagai program studi yang sebagian besar berada di bawah naungan Fakultas Teknik masih dikonotasikan dalam ilmu teknik yang penuh dengan pelajaran hitungan namun disatu sisi dituntut untuk kreatif dan berbakat menggambar. Hal ini membuat banyak siswa SMA mengira bahwa untuk menjadi mahasiswa arsitektur, keahlian menghitung dan menggambar menjadi syarat mutlak. Perubahan dunia pendidikan arsitektur Indonesia yang saat ini tidak lagi didominasi ilmu Teknik serta hadirnya beragam program komputasi desain yang membuat keahlian menggambar manual tidak lagi mutlak, belum banyak diketahui masyarakat luas, khususnya siswa kelas X dan XI di SMA Permai, Jakarta Utara. Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Untar berusaha menghadirkan pengetahuan dan pengalaman singkat berarsitektur kepada siswa-siswi SMA Permai. Melalui pemahaman mengenai karakter generasi Z serta adanya batasan waktu yang diberikan, Tim merencanakan dan melaksanakan workshop maket 15 menit. Melalui Workshop 15 menit dengan bahan dasar korek api kayu, siswa-siswi peserta workshop mendapatkan pengalaman bekerjasama dalam kelompok. Bekerjasama dalam kelompok merupakan salah satu syarat keberhasilan dalam menempuh pendidikan tinggi arsitektur. Peserta workshop juga mendapatkan pengalaman mencari preseden secara cepat, bereksperimen dalam keterbatasan waktu dan alat hingga membuat keputusan desain guna menghasilkan beberapa alternatif karya kreatif yang dapat terbangun. Workshop diakhiri dengan presentasi singkat setiap kelompok. Pada akhir workshop peserta mendapatkan pengalaman bekerjasama, mencari informasi, bereksperimen, berkreasi kreatif serta keberanian berpresentasi yang kesemuanya merupakan kunci keberhasilan menjalankan pendidikan tinggi arsitektur. Melalui workshop 15 menit siswa-siswi SMA Permai memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai pendidikan tinggi Arsitektur.