Tangdilintin, Aussie Femy
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Revitalisasi Sekolah Minggu di Gereja Toraja Nonongan Salu Tangdilintin, Aussie Femy; Pamantung, Salmon
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i1.288

Abstract

This research was motivated by the decrease in children's participation and enthusiasm in participating in Sunday School activities at the Toraja Nonongan Salu Church. Sunday School, which was once the main forum for the formation of children's faith, is now experiencing stagnation in methods and materials. This study uses a qualitative literature method, by reviewing the literature related to the revitalization of children's ministry, ecclesiastical education, and contextual approaches in spiritual formation. Supporting data was obtained through direct observation and limited interviews with church administrators. The results showed that 62% of children aged 6–12 years in the congregation were not actively present in the last 3 months. The main factors found include a lack of innovation in learning methods, a lack of teacher training, and children's lack of interest in monotonous worship patterns. Revitalization through creative approaches, teacher training, and contextualization of materials has been proven to increase child engagement by up to 40%. Thus, the revitalization of Sunday School is a strategic step to strengthen the development of children's faith in the local church. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya partisipasi dan semangat anak-anak dalam mengikuti kegiatan Sekolah Minggu di Gereja Toraja Nonongan Salu. Sekolah Minggu yang dulunya menjadi wadah utama pembentukan iman anak, kini mengalami stagnasi dalam metode dan materi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif kepustakaan, dengan mengkaji literatur terkait revitalisasi pelayanan anak, pendidikan gerejawi, serta pendekatan kontekstual dalam pembinaan rohani. Data pendukung diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara terbatas kepada pengurus gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% anak-anak usia 6–12 tahun di jemaat tersebut tidak aktif hadir dalam 3 bulan terakhir. Faktor utama yang ditemukan meliputi kurangnya inovasi dalam metode pembelajaran, minimnya pelatihan guru, serta ketidaktertarikan anak pada pola ibadah yang monoton. Revitalisasi melalui pendekatan kreatif, pelatihan guru, dan kontekstualisasi materi terbukti mampu meningkatkan keterlibatan anak hingga 40%. Dengan demikian, revitalisasi Sekolah Minggu merupakan langkah strategis untuk memperkuat pembinaan iman anak di gereja lokal.
Integrasi Teologi Garam dan Terang, Budaya Tongkonan, dan Sosialisasi Digital dalam Pembinaan Generasi Z di Gereja Toraja Tangdilintin, Aussie Femy
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.294

Abstract

The formation of Christian character among Generation Z has become an urgent concern for the Toraja Church amid rapid digital advancement, cultural transformation, and moral pluralism. Generation Z lives within a hyperconnected digital ecosystem that reshapes moral reasoning, religious identity, and patterns of faith formation, while traditional church-based discipleship often struggles to respond effectively. This study examines how the Toraja Church embodies its vocation as “salt and light” (Matt. 5:13–16) in shaping the Christian character of Generation Z within the Torajan socio-cultural and digital context. This research employs a systematic literature review of theological, educational, and sociological studies published between 2018 and 2025, analyzed through a thematic-critical approach. The theoretical framework integrates the theology of salt and light, adolescent moral development theory, contextual ecclesiology, and digital faith formation. The findings reveal three core insights. First, Christian character formation among Generation Z is most effective when faith education moves beyond doctrinal transmission toward holistic formation integrating cognitive, affective, and practical dimensions. Second, the interaction between Torajan cultural values and digital media creates moral ambiguity, requiring the church to cultivate ethical digital literacy as part of discipleship. Third, experiential and community-based approaches—such as small groups, social engagement, and participatory digital ministry—significantly strengthen character formation. The novelty of this study lies in proposing an integrative conceptual model that combines Torajan contextual theology, ethical digital literacy, and experience-based community formation, contributing to contextual practical theology and contemporary Christian education. AbstrakPembentukan karakter Kristiani Generasi Z menjadi isu yang semakin mendesak bagi Gereja Toraja di tengah pesatnya kemajuan digital, transformasi budaya, dan pluralisme moral. Generasi Z hidup dalam ekosistem digital yang hiperterhubung, yang membentuk cara berpikir moral, identitas keagamaan, dan pola pembinaan iman, sementara model pembinaan iman gereja yang konvensional kerap menghadapi keterbatasan dalam merespons realitas tersebut. Penelitian ini mengkaji bagaimana Gereja Toraja menjalankan panggilannya sebagai “garam dan terang” (Mat. 5:13–16) dalam membentuk karakter Kristiani Generasi Z di tengah konteks sosial, budaya, dan digital Toraja. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur sistematis terhadap kajian teologi, pendidikan iman, dan sosiologi agama yang dipublikasikan pada periode 2018–2025, dengan pendekatan analisis tematik-kritis. Kerangka teoretis yang digunakan meliputi teologi garam dan terang, teori perkembangan moral remaja, eklesiologi kontekstual, dan konsep pembinaan iman digital. Hasil kajian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pembentukan karakter Kristiani Generasi Z paling efektif ketika pembinaan iman tidak berhenti pada transfer doktrin, tetapi dilakukan secara holistik dengan mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan praksis. Kedua, interaksi antara nilai budaya Toraja dan media digital menciptakan ruang ambiguitas moral yang menuntut gereja mengembangkan literasi digital etis sebagai bagian integral dari pemuridan. Ketiga, pendekatan pembinaan berbasis pengalaman dan komunitas—melalui persekutuan kecil, pelayanan sosial, dan pelayanan digital partisipatif—secara signifikan memperkuat pembentukan karakter Kristiani. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan model konseptual integratif yang menggabungkan teologi kontekstual Toraja, literasi digital etis, dan pembinaan komunitas berbasis pengalaman, yang berkontribusi bagi pengembangan teologi praktis kontekstual dan pendidikan iman di era digital.