Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hermeneutika kontekstual: Sebuah dialektika sudut pandang penafsir dan teks dalam memahami kitab suci Pamantung, Salmon
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1226

Abstract

Many Christians say that to derive meaning from the biblical text, we must let the text “speak” to us. The underlying assumption is that an interpreter must derive the “original” meaning of the text; he must not insert his thoughts (prejudices and context) into the text. Development studies and hermeneutics have produced many methods and approaches to address questions related to interpretation. I argue that there is always a dialectic between the interpreter and the text being read in the hermeneutical process. Based on the thoughts of Hans-Georg Gadamer, I propose a contextual hermeneutic model, which emphasizes the role of the interpreter's point of view in finding the meaning of the text. Using the descriptive-analytical method on various literatures, it is found that hermeneutics is always an interaction between the context of the biblical text and the current context, so the social, political, and cultural “lenses” into the filter cannot be avoided and ignored. We must realize that the “lens” used is only one of many, and contextual hermeneutics starts from that awareness. Therefore, contextual hermeneutics means an attempt to understand the text that considers the interpreter's point of view.   Abstrak Banyak orang Kristen yang mengatakan bahwa untuk mendapat-kan makna dari teks Alkitab, kita harus membiarkan teks yang "berbicara" kepada kita. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa seorang penafsir harus memperoleh makna "asli" dari teks; ia tidak boleh memasukkan pi-kirannya (prasangka dan konteks) ke dalam teks. Studi pembangunan dan hermeneutika telah menghasilkan banyak metode dan pendekatan untuk mengatasi pertanyaan terkait interpretasi. Argumentasi saya, bahwa pada proses hermeneutika, di sana selalu ada dialektika antara penafsir dengan teks yang dibaca. Berdasarkan pemikiran Hans-Georg Gadamer, saya mengusulkan model hermeneutika kontekstual, yang menekankan peran sudut pandang penafsir dalam menemukan makna teks. Dengan menggu-nakan metode analisis-deskriptif pada berbagai literatur, didapati bahwa hermeneutika selalu merupakan interaksi antara konteks pada teks Alki-tab dengan konteks saat ini, sehingga "lensa" sosial, politik, dan budaya ke dalam filter tidak dapat dihindari dan diabaikan. Kita harus menyadari bahwa lensa yang digunakan hanyalah salah satu dari sekian banyak lensa, dan hermeneutika kontekstual dimulai dari kesadaran tersebut. Oleh karena itu, hermeneutika kontekstual berarti upaya untuk mema-hami teks yang memperhitungkan sudut pandang penafsir.
Revitalisasi Sekolah Minggu di Gereja Toraja Nonongan Salu Tangdilintin, Aussie Femy; Pamantung, Salmon
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i1.288

Abstract

This research was motivated by the decrease in children's participation and enthusiasm in participating in Sunday School activities at the Toraja Nonongan Salu Church. Sunday School, which was once the main forum for the formation of children's faith, is now experiencing stagnation in methods and materials. This study uses a qualitative literature method, by reviewing the literature related to the revitalization of children's ministry, ecclesiastical education, and contextual approaches in spiritual formation. Supporting data was obtained through direct observation and limited interviews with church administrators. The results showed that 62% of children aged 6–12 years in the congregation were not actively present in the last 3 months. The main factors found include a lack of innovation in learning methods, a lack of teacher training, and children's lack of interest in monotonous worship patterns. Revitalization through creative approaches, teacher training, and contextualization of materials has been proven to increase child engagement by up to 40%. Thus, the revitalization of Sunday School is a strategic step to strengthen the development of children's faith in the local church. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya partisipasi dan semangat anak-anak dalam mengikuti kegiatan Sekolah Minggu di Gereja Toraja Nonongan Salu. Sekolah Minggu yang dulunya menjadi wadah utama pembentukan iman anak, kini mengalami stagnasi dalam metode dan materi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif kepustakaan, dengan mengkaji literatur terkait revitalisasi pelayanan anak, pendidikan gerejawi, serta pendekatan kontekstual dalam pembinaan rohani. Data pendukung diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara terbatas kepada pengurus gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% anak-anak usia 6–12 tahun di jemaat tersebut tidak aktif hadir dalam 3 bulan terakhir. Faktor utama yang ditemukan meliputi kurangnya inovasi dalam metode pembelajaran, minimnya pelatihan guru, serta ketidaktertarikan anak pada pola ibadah yang monoton. Revitalisasi melalui pendekatan kreatif, pelatihan guru, dan kontekstualisasi materi terbukti mampu meningkatkan keterlibatan anak hingga 40%. Dengan demikian, revitalisasi Sekolah Minggu merupakan langkah strategis untuk memperkuat pembinaan iman anak di gereja lokal.