Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi secara holistik budaya sekolah terkait Bimbingan dan Konseling (BK), termasuk pandangan, harapan, dan perilaku siswa terhadap keberadaan dan peran Guru BK di lingkungan SMK N. 1 Mazo, Nias Selatan. Konteks Nias Selatan yang kental dengan budaya komunal dan hierarki otoritas tradisional (terutama kepemimpinan Guru/Kepala Sekolah) sangat memengaruhi penerimaan terhadap layanan BK modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografis kualitatif, di mana peneliti berupaya menjadi partisipan-pengamat untuk memahami emic perspective (sudut pandang dalam) siswa. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan intensif di ruang kelas, lingkungan sekolah, dan ruang BK, serta wawancara mendalam dengan siswa (fokus: pengguna layanan, non-pengguna, peer group), Guru BK, dan perwakilan manajemen sekolah. Analisis data dilakukan melalui analisis domain dan taksonomi untuk merumuskan struktur budaya BK di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan adanya dualitas persepsi: siswa memandang BK sebagai "Polisi Sekolah" (penegak disiplin/hukuman) dan secara simultan sebagai "Tempat Curhat/Penolong" (untuk masalah personal/karir). Pemanfaatan layanan sangat dipengaruhi oleh budaya siri (malu) dan ketakutan akan stigma sosial. Disimpulkan bahwa Guru BK di SMK N. 1 Mazo perlu menyeimbangkan peran kedisiplinan dan pengembangan personal-karir, serta secara proaktif menciptakan budaya trust (kepercayaan) untuk memaksimalkan pemanfaatan layanan.