Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kecerdasan Buatan dalam Konteks Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Bahasa Lindriana Safitri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEGURUAN DAN PENDIDIKAN (SNKP) Vol. 2 (2024): Prosiding Seminar Keguruan dan Pendidikan (SNKP) 2024
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Dalam dunia pendidikan integrasi AI dalam kurikulum merdeka dapat menciptakan pengalaman pembelajaran bahasa yang lebih menarik, relevan, dan berdaya guna bagi setiap siswa, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran bahasa di masa depan di mana kurikulum merdeka menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. subjek dalam penelitian ini yaitu studi Pustaka dengan mencari jurnal yang terindex sinta dengan judul yang relevan dengan penelitian ini. Pendekatan studi pustaka melibatkan pengumpulan data dan informasi dari berbagai sumber perpustakaan, seperti buku referensi, artikel, catatan, dan berbagai jurnal yang terkait dengan permasalahan yang sedang diselidikimetode yang digunakan yaitu penelitian kualitatif penelitian ini berfokus pada kecerdasan buatan ChatGPT dalam konteks kurikulum merdeka pada pembelajaran Bahasa. ChatGPT  dalam hal ini digunakan dalam pembelajaran di era kurikulum merdeka, kurikulum yang berpusat pada siswa. Pengunaan ChatGPT bisa dijadikan sebagai salat satu media yang dapat digunakan siswa dalam pembelajaran menulis, memudahkan siswa menemukan ide-ide atau pokok permasalahan namun dalam hal ini peran guru harus tetap ada untuk mengecek kebenaran data yang diberikan karena keterbatasan dan akurasi dalam ChatGPT juga harus dipertimbangkan. Kecerdasan buatan ChatGPT dalam konteks kurikulum merdeka dapat dijadikan salah satu inovasi dalam pembelajaran. Kurikulum merdeka bertujuan untuk meningkatkan literasi, pengetahuan, keterampilan, perspektif, dan penguasaan teknologi.  Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan siswa yang paham akan teknologi akan lebih mudah dalam menemukan ide atau topik permasalahan namun hal ini haruslah diiringin dengan pemikiran yang kritis sehingga siswa dan guru tidak menerima secara gamblang dari informasi yang diberikan oleh kecerdasan buatan. Dengan adanya kecerdasan buatan bisa memudahkan siswa dalam menulis namun tetap harus dalam pengawasan guru.
Analisis Kemampuan Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal AKM Kelas Konten Literasi Teks Sastra melalui Platform Merdeka Mengajar Lindriana Safitri; Irma Suryani; Mukhlash Abrar
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i2.3542

Abstract

Pemerintah Indonesia mengubah ujian nasional menjadi asesmen nasional pada tahun 2021. Ujian nasional tidak lagi menjadi sumber informasi yang digunakan untuk memetakan dan mengevaluasi kualitas sistem pendidikan. Menunjukkan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan mengarahkan siswa ke asesmen kompetensi minimum, yang sekarang dapat diakses melalui alat pengajaran platform merdeka. AKM kelas dapat diakses oleh guru di mana pun. Sama halnya dengan AKM Nasional, AKM Kelas mengacu pada dua teks literasi: teks sastra dan teks informasi. AKM Kelas memiliki fungsi formatif untuk memahami hasil belajar individu siswa. Pada peneliti ini berkonsentrasi pada literasi teks sastra. Asesmen kemampuan literasi minimum terdiri dari tiga tingkat kognitif, yaitu menemukan informasi, memahami, dan evaluasi dan refleksi, dengan empat level kemampuan yaitu: perlu intervensi khusus, memiliki pemahaman dasar, termasuk cakap, dan sudah mahir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII SMP Satu Atap Talang Kerinci. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara tes tulis. Teknik analisis data menggunakan Milles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini siswa yang mencapai level kognitif menemukan informasi dengan level kemampuan memiliki pemahaman dasar dengan persentase 50%, siswa yang mencapai level kognitif menemukan informasi dan memahami dengan level kemampuan termasuk cakap dengan persentase 33% dan siswa yang tidak mencapai level kognitif dengan level kemampuan perlu intervensi khusus dengan persentase 17% dan tidak ada siswa yang mencapai tiga level kognitif dengan level kemampuan sudah mahir.