Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Amerta

PERTIMBANGAN PEMILIHAN LOKASI KOMPLEKS CANDI DIENG Harriyadi
AMERTA Vol. 37 No. 2 (2019)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract, The Consideration of Dieng Temple Compounds Site Selection. Dieng Plateau is a highland area with an elevation between 2.000-2.100 meters above sea levels and has been used by people since the Hindu Buddhist period to carry out religious rituals. Its location has extreme weather conditions, complicated accessibility, and the threat of eruption from its volcanic mountains. Nevertheless, the conditions do not deter people to build temple compounds in Dieng Plateau. This research conduct to determine the factors underlying the Dieng Plateau as an area to build temple compounds. This research uses locational analysis which emphasizes two aspects are physical landscape and religious conceptual data. Both data are analyzed and synthesized to get factors regarding sacred and profane spaces that have considered in site selection. The results showed that although the Dieng Plateau provides a variety of natural resources that can be used to people’s needs. The physical landscape of the Dieng plateau is an embodiment of the concept of tirtha or the journey from profane to sacred space. A journey that has the meaning of self-purification to achieve moksha. Elevation of location is a symbol of the axis mundi or intersection between the human world and the world of god. Religious factors seem to be quite dominant in the consideration of choosing the location of the Dieng Temple Complex. Keywords: Dieng temple Compounds, Site Selection, Locational Analysis   Abstrak, Dataran tinggi Dieng merupakan kawasan dataran tinggi dengan elevasi antara 2.000-2100 m.dpl. dan telah digunakan oleh masyarakat sejak masa Hindu Buddha untuk melakukan ritual keagamaan. Kawasan ini memiliki kondisi cuaca ekstrim, aksesbilitas rumit, dan ancaman bencana erupsi dari pegunungan api Dieng. Meskipun demikian, kondisi alam tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk mendirikan kompleks bangunan suci di dataran tinggi Dieng. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor–faktor yang melatarbelakangi dipilihnya dataran tinggi Dieng sebagai tempat untuk melakukan ritual keagamaan. pendekatan yang dipakai adalah analisis lokasional yang menekankan pada dua variabel, yaitu lanskap fisik dan konsep keagamaan. Kedua data dari variabel kemudian dianalisis dan disintesiskan untuk mendapat faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari konsep lokasi, ruang, dan tempat sakral dalam agama Hindu. Lanskap fisik dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari konsep tirtha atau perjalanan dari dunia profan menuju dunia sakral. Perjalanan yang memiliki makna penyucian diri untuk mencapai moksha. Lokasinya yang tinggi merupakan lambang dari axis mundi atau persinggungan antara dunia manusia dan dunia kedewataan. Faktor keagamaan nampaknya menjadi faktor yang cukup dominan dalam pertimbangan pemilihan lokasi Kompleks Candi Dieng. Kata Kunci: Kompleks Candi Dieng, Pemilihan Lokasi, Analisis Lokasional
Variasi dan Kronologi Bentuk Logo Kamer VOC pada Meriam Kuno: Perbandingan pada Koleksi Mueum-Museum di Jawa, Malaysia, dan Australia Syofiadisna, Panji; Cahyaningtyas, Yuka Nurtanti; Nugroho, Dimas; Harriyadi; Mahardian, Dewangga Eka; Tjan, Indah Permatasarie; Nurhayati, Eny
AMERTA Vol. 43 No. 2 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.7043

Abstract

Abstract, VOC Chamber Logo on Ancient Cannons, the identity in Spice Route. Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) as a giant company over a periode of two centuries has six trade chambers across continental business activities as a trading company. The six chambers are in Amsterdam, Zeeland, Hoorn, Delft, Enkhuizen, and Rotterdam. The chamber logos found were not in the same shape but had variations in shape and attribute. There is even a chamber that has a different logo at certain times. This variation can be considered as visual communication. The problem raised in this article is to reveal the variations of the VOC trade chambers logo from both iron and bronze cannons and try to explain the comparison of each logo variation. This article aims to provide an initial overview of the study of ancient VOC cannons, especially during the VOC era in Indonesia. The data collections was conducted observation techniques of ancient cannon that feature the VOC chamber logo at the Jakarta Historical Museum, Bahari Museum, Mpu Tantular Museum, Vredeburg Museum, Cakraningrat Museum, Western Australia Musueum, and few States of Malaysia Kingdom. The next step is to process the data for classification and typology. The presence of these six logos serves as both an identity and evidence that the chamber’s role was crucial in VOC activities in the archipelago during that time. Keywords: Trade chamber, logo, ancient cannon, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)   Abstrak, VOC sebagai perusahaan raksasa dalam kurun waktu dua abad memiliki enam logo kamer dagang dalam kegiatan perniagaan lintas benua. Enam kamer tersebut adalah Amsterdam, Zeeland, Hoorn, Delft, Enkhuizen, dan Rotterdam. Logo kamer yang ditemukan ternyata tidak dalam bentuk yang sama namun ada variasi bentuk. Bahkan ada kamer yang memiliki logo yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Variasi ini dapat dianggap sebagai identitas visual. Persoalan yang disajikan dalam tulisan ini adalah mengungkap variasi logo kamer VOC baik dari meriam besi maupun meriam perunggu serta menjelaskan perbandingan dari setiap variasi logo. Tujuan dari tulisan ini memberikan rona awal dari kajian meriam kuno, terutama pada masa VOC di Indonesia. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi (pengamatan) terhadap meriam kuno yang memiliki logo kamer VOC di Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Mpu Tantular, Museum Vredeburg, Museum Cakraningrat, Museum Western Australia, dan beberapa negara bagian Malaysia. Selanjutnya adalah melakukan pengolahan data untuk klasifikasi dan tipologi. Keberadaan enam logo ini menjadi identitas dan bukti bahwa peran kamer sangat krusial dalam aktifitas VOC di Nusantara kala itu.    Kata kunci: Kamer, logo, meriam kuno, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)