Indriani, Fuzi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Rumah Tahfidz Qur’an dalam Membina Akhlak Anak Harahap, Darwin; Indriani, Fuzi
Jurnal Al-Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol 5, No 2 (2023): AL-IRSYAD: JURNAL BIMBINGAN KONSELING ISLAM
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/bki.v5i2.9572

Abstract

Penelitian ini membahas tentang peran Rumah Tahfidz Qur’an dalam membina akhlak anak di Desa Sidomulyo Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Rumah Tahfidz Qur’an memiliki visi dan misi menjadikan generasi penghafal Al-Qur’an dan berakhlak Al-Qur’an, namun dalam  kegiatan pembelajaran lebih cenderung kepada pembinaan tahfidz daripada pembinaan akhlak sehingga ditemukan anak penghafal Al-Qur’an yang masih berakhlak buruk seperti anak yang masih berkata kasar dan kotor, berkelahi dan berujung tidak saling berbicara serta menghina temannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi. Teknik analisa data berupa mengumpulkan data, penyajian data dan kesimpulan dari hasil catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran Rumah Tahfidz Qur’an yang paling dominan adalah sebagai fasilitator yang melengkapi kebutuhan sarana dan prasarana dalam proses pelaksanaan pembinaan tahfidz dan pembinaan akhlak dengan menyediakan tenaga pengajar, bangunan Rumah Tahfidz Qur’an, papan tulis, meja belajar, Al-Qur’an dan buku-buku yang berisi tentang pengetahuan Agama Islam. Faktor pendukungnya yaitu kapasitas ruangan yang cukup memadai dan mendapat dukungan dari masyarakat berbentuk sumbangan material. Faktor penghambatnya yaitu kurangnya waktu pembinaan yang hanya 3 jam setiap hari senin sampai dengan sabtu ditambah mondok sehari semalam setiap sekali dalam seminggu serta tidak adanya ruangan khusus Bimbingan Konseling untuk menangani akhlak buruk anak. Permasalahan ini perlu adanya pembimbing yang menjadi fasilitator untuk lebih menyeimbangkan antara pembinaan tahfidz dan pembinaan akhlak pada anak.