Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Upaya Pelestarian Bahasa Daerah Suku Bolango Memanfaatkan Tekologi Kamus Digital Tiga Bahasa Salma P Nua; Citra Yustitya Gobel; Santawali, Santawali
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i1.4906

Abstract

Bahasa daerah merupakan bahasa etnis yang harus di lestarikan sebagai kearifan lokal yang menjadi pemersatu dalam etnis itu sendiri dan dapat menjadi ikon pariwisata daerah. Penelitian ini mengambil study kasus pada bahasa daerah suku bolango yang berlokasi di kabupaten bolaang mongondow selatan dan Daerah Tapa Gorontalo. Urgensi Penelitian ini adalah Penurunan jumlah penutur dan adanya invasi bahasa asing merupakan indikator utama tergesernya eksistensi bahasa dan sastra daerah, dimana era perkembangan media komunikasi moderen yang mengancam keberadaan dan pelestarian bahasa daerah sehingga mulai terancam punah. Tujuan Penelitian ini untuk Menganalisis Upaya Strategi Pelestarian Bahasa Daerah suku bolango dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dalam membangun Kamus Digital tiga Bahasa yaitu Bahasa Bolango, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode Kualiatatif, dimana peneliti mencoba memahami, mengeksplorasi, dan berinteraksi dengan orang-orang yang terkait dengan fokus penelitian untuk mempelajari informasi dan data Terkait Pelestarian bahasa Bolango . Hasil perancangan kamus digital Bolango – Bahasa Indonesia – Inggris ini menjadi media penting dalam mendukung pelestarian bahasa Bolango. Kamus ini tidak hanya memfasilitasi pembelajaran dan konservasi bahasa, tetapi juga membuka jalan bagi generasi muda dan masyarakat internasional untuk mengenal dan menghargai kekayaan budaya dan bahasa lokal Bolango
Optimalisasi Pelestarian Budaya Lokal menggunakan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran Inovatif Generasi Muda Salma P Nua; Muhammad Isla; Citra Yustitya Gobel; Risti P. Sari Hunowu
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7722

Abstract

Daerah Gorontalo memiliki kekayaan budaya lokal yang terbentuk dari perpaduan adat istiadat, nilai keislaman, dan warisan leluhur. Budaya ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari bahasa, kesenian, pakaian adat, arsitektur rumah tradisional, hingga upacara adat. Urgensi Penelitian ini adalah Pelestarian budaya lokal sedang menghadapi tantangan terutama dikalangan generasi digital yang mulai kehilangan minat dan keterikatan terhadap nilai budaya Lokal karena dipengaruhi oleh Budaya Asing. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan pudarnya identitas budaya daerah yang menjadi bagian penting dari kekayaan bangsa. Tujuan Penelitian adalah melakukan Optimalisasi Pelestarian Budaya Lokal menggunakan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran Inovatif  untuk Mendorong integrasi teknologi dalam pelestarian budaya melalui pendekatan edukatif, sesuai dengan karakteristik generasi digital dan Memberikan rekomendasi pengembangan pembelajaran dalam konteks pendidikan formal dan informal.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menggukur pengetahuan generasi muda terhadap respon pemanfaatan tekologi AR untuk pelestarian budaya lokal. Sedangkan Metode kualitatif sebagai pemahaman mendalam untuk mengeksplor pemanfaatan Desain Augmented Reality sebagai media pembelajaran. Hasil perhitungan mnggunakan skala Likert terhadap 121 responden, diperoleh nilai mean sebesar 4,33 termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Interpretasi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki sikap sangat positif terhadap pelestarian budaya lokal menggunakan Augmented Reality. Hasil perancangan Augmented Reality dilakukan pada Rumah Adat Dulohupa, Bantayo Poboide, dan budaya lokal lainnya dengan hasil validasi visualisasi objek budaya dalam bentuk model tiga dimensi (3D) yang dipadukan dengan informasi tambahan berupa teks dan audio mampu meningkatkan pemahaman pengguna terhadap nilai sejarah, filosofi, arsitektur, dan makna budaya yang terkandung di dalam setiap objek. Teknologi AR terbukti mempermudah proses penyampaian informasi budaya yang sebelumnya bersifat statis menjadi lebih dinamis, kontekstual, dan mudah dipahami oleh generasi muda. Hal ini memvalidasi bahwa pemanfaatan Augmented Reality tidak hanya berfungsi sebagai media visualisasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi inovatif yang efektif dalam mendukung upaya pelestarian budaya lokal.