Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : MAJALAH ILMIAH GLOBE

GEOSPATIAL DYNAMIC OF VEGETATION COVER CHANGES ON THE SMALL ISLANDS, SOUTH SULAWESI, INDONESIA AS, M. Akbar; Saleh, Buce; Sofian, Ibnu; Nurdin, Nurjannah
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.823 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.47

Abstract

ABSTRACTAgreement on the extent of mangrove forest in Indonesia has yet existed. The extent of mangrove forest in Indonesia 9 years ago was about 4.13 million ha. Currently, the mangrove has decreased significantly to 2.49 million ha (60%). Remote sensing could play an important and effective role for assessing and monitoring the dynamic of mangrove forest cover. The aim of this study is to measure the changes of the mangrove cover within 20 years period from 1993 to 2013, from 1993 to 2003, and from 2003 to 2013 using multi-temporal Landsat data. The study site was selected in Tanakeke Island, Takalar District, South Sulawesi, Indonesia. Results of the analyses show that the mangrove forest has decreased and it is caused anthropogenic impact.Keywords: geospatial dynamic, mangrove, remote sensing, GISABSTRAKSejauh ini belum ada kesepakatan mengenai luas hutan mangrove di Indonesia. Luas hutan mangrove di Indonesia 9 tahun yang lalu adalah sekitar 4,13 juta ha, akan tetapi sekarang menurun menjadi 2,49 juta ha (60%). Penginderaan jauh memiliki peranan penting dan efektif untuk penilaian dan pemantauan dinamika tutupan hutan mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur perubahan tutupan hutan mangrove selama 20 tahun dari tahun 1993-2013, 1993-2003, dan 2003-2013, dengan menggunakan citra Landsat multi-temporal. Lokasi penelitian dipilih di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas hutan mangrove mengalami penurunan yang disebabkan oleh pengaruh dari manusia.Kata Kunci: dinamika geospasial, mangrove, penginderaan jauh, SIG
DINAMIKA TUTUPAN PERAIRAN DANGKAL PULAU-PULAU KECIL, KEPULAUAN SPERMONDE Nurdin, Nurjannah; Amri, Khairul; Djalil, Abd. Rasyid; AS, M. Akbar; Jaya, Ilham; agus, Agus
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.852 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.221

Abstract

Salah satu wilayah pesisir yang penting secara ekonomi dan ekologi adalah kawasan pesisir Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Pada wilayah ini terdapat kegiatan ekonomi yang berbasiskan sumber daya alam seperti perikanan. Perairan Kepulauan Spermonde menerima dampak dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan sehingga berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem pesisir. Penginderaan jauh memiliki peranan penting dan efektif untuk penilaian dan pemantauan dinamika tutupan perairan dangkal. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan informasi dinamika spasial tutupan dasar ekosistem perairan dangkal di pulau-pulau outer zone Kepulauan Spermonde. Lokasi penelitian adalah pulau Langkai. Data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu citra satelit Landsat dengan tahun perekaman 1972, 1981, 1990, 1996, 2002, 2008, dan 2014. Penelitian ini terdiri dari lima tahapan, yaitu: (1) tahap awal pengolahan citra satelit, (2) tahap survei lapangan, (3) tahap pengolahan citra lanjutan, (4) tahap post classification dan (5) uji ketelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan luas karang hidup menjadi karang mati dan pecahan karang, sedangkan luas pecahan karang dan karang mati ditumbuhi alga meningkat selama 42 tahun (1972 – 2014). Kerusakan habitat terumbu karang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang menangkap ikan dengan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan.Keywords: dinamika spasial, terumbu karang, pulau kecil, LandsatABSTRACTOne of the coastal areas are important economically and ecology are Spermonde islands coastal areas of South Sulawesi. In this region there are economic activities based on natural resources such as fisheries. This region receives the impact of fishing activities which are not environmentally friendly and therefore contributes to damage to coastal ecosystems. Remote sensing has an important and effective role in the assessment and monitoring of the dynamics of shallow water cover. The aim of this study is to produce dynamic geospatial information of shallow water on a small island, Spermonde archipelago. The research location is a Langkai island. The data used in this study is Landsat satellite image with a different acquitision date. This study consists of five main steps including: (1) the stage of satellite image processing, (2) field survey, (3) advanced image processing, (4) post classification, and (5) accuracy assessment. The results showed that there was a large decrease in live coral to dead coral with algae and rubble, while the area of dead coral with algae and rubble is increased for 42 years ( 1972-2014 ). Damage to coral reef habitat largely caused by human activity which catch fish by using fishing gear that is not environmentally friendly.Keywords: spatial dynamic, coral reef, small island, Landsat
HYPERSPECTRAL OBSERVATION FOR OPTICAL PROPERTIES OF COASTAL BENTHIC COMMUNITIES IN THE SMALL ISLAND Nurdin, Nurjannah; Komatsu, Teruhisa; Yamano, Hiroya; Arafat, Gulam; Rani, Chair; Awaludinnoer, Awaludinnoer
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.681 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.128

Abstract

Collecting the spectral library of different bottom types is an important step in mapping shallow water bottom types with of remote sensing. Five small islands in the Spermonde archipelago, South Sulawesi, Indonesia, were selected to measure the reflectance spectral of benthic communities. The objectives of this study are to determine optical properties of the live corals, dead corals covered with algae, coral rubble, broken shell, sand, seagrass and to collect a spectral library of bottom types present around small islands in the Spermonde archipelago. Several benthic communities appear to be highly correlated with one another when the entire spectrum considered, which may lead to classification errors. Porites meyeri,dead corals and coral rubble (>3 months ago) share a high degree of similarity in reflectance. The other coastal benthic communities are readily distinguishable.Keywords : Spectral, Coral Rubble, Living Corals, Dead Corals, Broken Shell ABSTRAKPengumpulan pustaka spektral pada berbagai jenis dasar perairan merupakan langkah yang penting dalam memetakan karakteristik dasar perairan dangkal dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pada penelitian ini, pengukuran reflektansi spektral pada komunitas bentik perairan dangkal dilakukan pada lima pulau-pulau kecil yang terdapat di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah selain menentukan karakteristik optik pada karang hidup, karang mati yang ditumbuhi alga, pecahan karang, pecahan cangkang, pasir dan lamun juga untuk membangun pustaka spektral berbagai jenis obyek dasar perairan dangkal yang terdapat di sekitar pulau-pulau kecil Kepulauan Spermonde. Beberapa komunitas dengan jenis komunitas bentik lainnya menunjukkan korelasi yang kuat yang akan menghasilkan kesalahan klasifikasi jika menggunakan julat spektrum yang lebar seperti antara karang Porites meyeri, karang mati yang ditumbuhi alga dan pecahan karang yang telah berumur lebih dari 3 bulan menunjukkan tingkat kesamaaan reflektansi spektral yang tinggi. Sedangkan pada obyek dasar perairan dangkal lainnya, nilai pantulan spektralnya dapat dipisahkan.Kata kuci : Spektral, Pecahan Karang, Karang Hidup, Karang Mati, Pecahan Cangkang.
ANALISIS KLASIFIKASI OBJEK PENUTUP DASAR PERAIRAN LAUT DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA ALOS AVNIR-2 Nurdin, Nurjannah; Hidayatullah, Taufik; AS, M. Akbar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1891.704 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.333

Abstract

lnformasi mengenai obyek penutup dasar perairan laut dangkal sangat penting untuk diketahui dalam pengelolaan daerah pesisir dan laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan distribusi obyek penutup dasar perairan laut dangkal dengan menggunakan citra Alos AVNIR-2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2008 yang meliputi tahap persiapan, survei dan pengambilan data lapangan, pengolahan awal, pengolahan tanjut dan pengolahan akhir pemrosesan citra. Hasil klasifikasi citra menuniukan Atos AVNIR-2 dapat membedakan 10 tipe obyek perairan laut dangkal, yaitu: l) lamun dan pasir, 2) lamun, 3) pecahan karang dan pasir, 4) karang mati ditumbuhi alga dan pasir, karang mati, 5) karang keras dan karang mati ditumbuhi alga, 6) pecahan karang dan pasir, 7) lamun, alga dan pasir, 8) pecahan karang, 9) pasir dan karang mati ditumbuhi alga, 10) pasir. Jenis obyek penutup dasar perairan dangkal di Pulau Kalukalukuang secara berurut didominasi oleh karang mati, lamun dan pasir bercampur pecahan karang.Kata Kunci: Laut Dangkal, Citra Alos AVNIR-2, Pulau Kalukalukuang ABSTRACTInformation about the bottom object of shallow water is important to know which is ultimately beneficial as the material for the management of coastal and marine areas. The aim of this study is to determine the types and distribution of sea bottom characteristics area in shallow water using satellite imagery Alos AVNIR-2. The study was conducted in June 2008 in Kalukalukuang Island which included the preparation stage, survey and field data acquisition, preprocessing, middle processing and final processing of the image processing. The results of image classification analysis showed that Alos AVNIR-2 was capable to distinguish of 10 types of sea bottom characteristics in the shallow waters. They are 1) sea grass mixed with sand, 2) sea grass, 3) rubbers mixed with sand, 4) dead coral with algae mixed with sand, 5) hard coral and dead coral with algae, 6) rubbers mixed with sand (above the water surface), 7) sea grass, algae mixed with sand, 8) rubbers, 9) sand, and rubbers with algae, 10) sand. Characteristics of sea bottom in the shallow water of Katukalukuang lsland were dominated by dead coral, sea grass and sand with rubbers.Keywords: Shallow Water, Alos AVNIR-2 imagery, Kalukalukuang Island