Penelitian ini menguji pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP), keterampilan sosial, dan dukungan keluarga terhadap kreativitas anak di MI Pagerwojo, Buduran, Sidoarjo. Populasi berjumlah 450 siswa; sampel 210 siswa dipilih secara acak dengan desain korelasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk siswa, orang tua, dan guru. Uji prasyarat menunjukkan data layak dianalisis: normalitas Kolmogorov–Smirnov terpenuhi (Asymp. Sig PBP=0,175; keterampilan sosial=0,162; dukungan keluarga=0,155; kreativitas=0,200), tidak ada multikolinearitas (tolerance 0,984–0,993; VIF 1,007–1,017), dan tidak terjadi heteroskedastisitas (p>0,05). Analisis regresi berganda pada SPSS 26 menemukan ketiga prediktor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas: koefisien tak terstandar B untuk PBP=0,026 (p=0,016), keterampilan sosial=0,038 (p=0,002), dan dukungan keluarga=0,081 (p=0,019). Nilai koefisien terstandar β berturut-turut 0,025; 0,036; dan 0,079. Secara simultan model signifikan (F=10,591; p=0,000; df=3,206). Temuan menegaskan PBP memperkaya pengalaman belajar dan pemecahan masalah, keterampilan sosial memperkuat komunikasi serta kerja sama, sementara dukungan keluarga menyediakan motivasi, pendampingan, dan fasilitas yang mendorong eksplorasi kreatif. Rata-rata skor konstruk berkisar 105,63–105,92 dengan simpangan baku 8,62–9,01. Implikasi praktis: (1) sekolah mengintegrasikan PBP secara konsisten; (2) guru merancang aktivitas yang menumbuhkan interaksi sosial sehat; (3) orang tua meningkatkan keterlibatan di rumah melalui bimbingan terstruktur dan penyediaan sumber belajar sederhana. Hasil ini menguatkan pentingnya kolaborasi sekolah–keluarga–teman sebaya untuk memupuk kreativitas sejak dini. Kontribusi penelitian terletak pada pemadanan pendekatan PBP dengan dukungan keluarga dalam konteks madrasah. Keterbatasan penelitian meliputi instrumen self-report dan konteks satu madrasah, sehingga generalisasi perlu kehati-hatian. Penelitian lanjutan disarankan memasukkan desain longitudinal, triangulasi kualitatif, serta pengujian mediator seperti self-efficacy dan iklim kelas untuk memperkuat bukti dan relevansi dengan implementasi Kurikulum Merdeka.