Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Deep Ecology Arne Naess terhadap Krisis Iklim dalam Buku Bumi yang Tak Dapat di Huni Wilda Nur Rosyidah; Elma Desi Murohishoh; Siti Anisatul Mardhiah; Tri Utami Oktaviani
Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat Vol. 4 No. 3 (2025): Desember: Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrafi.v4i3.7117

Abstract

The climate crisis is no longer just a concern for environmental activists, but has evolved into a strategic threat affecting global stability. The climate crisis is now worsening into a serious threat to the sustainability of human life and the existing ecosystems on Earth. In his book, "The Uninhabitable Earth," Arne Naess provides deep insights thru the Deep Ecology approach, which emphasizes the intrinsic value of all forms of life. This study explores the relationship between the environment and cosmology and its impact on human policies and behavior toward nature. By analyzing the interaction between humans and the environment, we show that a paradigm shift toward a holistic understanding can offer sustainable solutions to this climate crisis. The impact of the climate crisis is highly complex and widespread, leading to unstable weather patterns. These unstable weather patterns threaten agriculture, food security, and also result in more frequent and severe natural disasters. We need to explore the root causes of the current climate crisis, the impacts that have already occurred and may come, and the efforts that can be made by individuals, communities, and the international community to address such challenges. This research strongly highlights the importance of collective consciousness and moral responsibility in protecting the planet, while also inviting readers to reflect on their position within the broader web of life. Thru this approach, it is hoped that synergy between human development and environmental sustainability can be achieved.
Dari Chaos ke Kosmos: Tafsir Filsafat atas Asal-Usul dan Keteraturan Alam Semesta Agustina Intan Salsabila; Tri Utami oktaviani
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 31 No. 2 (2025): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v31i2.2514

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menelusuri, menafsirkan ulang, dan mengontekstualisasikan gagasan mengenai asal-usul serta keteraturan alam semesta melalui perspektif filsafat ontologi dan kosmologi. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa konsep tentang “chaos” (kekacauan) dan “kosmos” (keteraturan) merupakan dua entitas dialektis yang membentuk fondasi bagi pemikiran manusia tentang realitas dan keberadaan. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka serta pendekatan hermeneutik-filosofis, penelitian ini mengkaji evolusi gagasan tentang penciptaan dan keteraturan alam semesta dari filsafat Yunani klasik hingga diskursus filsafat dan sains modern. Tokoh-tokoh seperti Herakleitos, Plato, Aristoteles, Al-Farabi, Ibn Sina, Stephen Hawking, dan Ilya Prigogine dijadikan rujukan utama untuk menelusuri kontinuitas dan transformasi ide tentang keteraturan kosmos. Hasil analisis menunjukkan bahwa keteraturan kosmos merupakan ekspresi ontologis dari keberadaan yang dinamis dan terus berproses, di mana ketidakteraturan (chaos) justru menjadi elemen yang melahirkan keteraturan baru. Dalam konteks filsafat kontemporer, alam semesta dipahami bukan sebagai sistem tertutup yang statis, melainkan sebagai struktur terbuka yang senantiasa berevolusi menuju keseimbangan dan harmoni baru. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman tentang semesta menuntut integrasi antara filsafat, sains, dan teologi agar mampu menangkap hakikat keberadaan secara utuh dan transendental.