Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

QUALITATIVE STUDY : COPING OF THE MOTHERS AFTER SPONTANEOUS ABORTIONS Dwy Kartika, Enthyn Anaway Bintang; Pratiwi, Cesa Septiana; Mamnu’ah, Mamnu’ah
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 4: Desember 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v8i4.2372

Abstract

Background: The incidence of spontaneous abortion reaches 226 people per 100,000 live births.  Mothers with a history of spontaneous abortion have short- to long-term psychological vulnerabilities and comorbidities. Psychological disorders can persist for up to 1 year after spontaneous abortion and can affect the social impact on the affected mother. Objective:  This study aimed to explore in depth the coping of spontaneous post-abortion womens. Method: This qualitative research uses a phenomenological approach. Participants were taken using Purposive Sampling technique with 8 mothers who had a history of spontaneous abortion for a maximum of 3 months and were recorded as patients at Pratama Gemilang Medika Piyungan Bantul Clinic Yogyakarta. In this study, data analysis uses Thematic analysis. Result: Formed in 8 main themes, namely physical (total rest at home), accepting (determined to heal), spiritual (surrendering to God and sincere, listening to tausiah in the surrounding environment, listening to da'wah through social media, praying a lot and strengthening prayers and increasing Quran reading), refreshing (walking with husband), distraction (busying yourself), hobby (me time or healing), positive thinking and preparing carefully for the next pregnancy program. The theme has been identified in reference to a general purpose. Conclusion: The coping strategy chosen for each post-abortion mother is adjusted to the emotional condition experienced, chosen by herself without interference from other parties, by letting the post-abortion mother determine which strategy is more appropriate and can make her take a positive meaning of the situation she is experiencing. It is hoped that there will be Continuity Of Care (COC) and spiritual support provided by midwives as health workers, especially to spontaneous abortion mothers.
Academic Stress And Mental Health Among Medical Students: A Cross-Sectional Study Nurfadilah, Rika Putri; Sutejo, Sutejo; Mamnu’ah, Mamnu’ah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.665

Abstract

Mahasiswa kedokteran berada pada fase dewasa muda yang rentan terhadap tekanan perkembangan dan tuntutan akademik. Beban pendidikan kedokteran yang padat meningkatkan risiko stres akademik, dengan prevalensi global dilaporkan sebesar 30–94%, sementara di Indonesia 22,2% mahasiswa kedokteran mengalami gejala depresi dan 48,1% mengalami kecemasan. penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara stres akademik dan kesehatan mental pada mahasiswa kedokteran. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif korelasional menggunakan metode pendekatan studi cross-sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang berjumlah sebanyak 99 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui kuesioner Google Form yang dibagikan kepada grup mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2024 dan 2025. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kuesioner penilaian stress akademik dengan menggunakan instrumen Perceived Sources of Academic Stress dan Kuesioner Kesehatan Mental dengan menggunakan instrumen Mental Health Continuum–Short Form (MHC-SF). Penelitian dilaksanakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 99 mahasiswa Fakultas Kedokteran, mayoritas mengalami stres akademik dalam kategori sedang, sedangkan sebagian kecil berada pada kategori berat. Pada variabel kesehatan mental, sebagian besar mahasiswa berada dalam kategori baik dan hanya sebagian kecil yang termasuk dalam kategori buruk. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara stres akademik dan kesehatan mental dengan nilai p < 0.001 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0.40–0.59. Nilai koefisien tersebut menunjukkan hubungan negatif dengan kekuatan sedang, yang berarti semakin tinggi tingkat stres akademik mahasiswa, maka semakin rendah tingkat kesehatan mentalnya. Temuan ini menegaskan bahwa stres akademik memiliki peran yang bermakna terhadap kondisi kesehatan mental mahasiswa kedokteran. Disarankan institusi memperkuat skrining dan program manajemen stres, serta mengoptimalkan layanan konseling. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan desain longitudinal untuk hasil yang lebih komprehensif.