Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Demokrasi Langsung Munisipalisme Libertarian Sebagai Substansi Gerakan Agraria Lubis, Ahmad Sayyidulhaq Arrobbani; Nasution, Faiz Albar
Jurnal Kajian Agraria dan Kedaulatan Pangan (JKAKP) Vol. 3 No. 1 (2024): Kebijakan agraria
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jkakp.v3i1.15310

Abstract

Munisipalisme libertarian mendekati masalah lingkungan dan masyarakat dari perspektif ekologi sosial, dengan berargumen bahwa masalah lingkungan yang ada merupakan hasil dari kurangnya partisipasi politik masyarakat lokal dalam kebijakan dan manajemen. Akibatnya, bagaimana paradigma demokrasi langsung dalam munisipalisme libertarian dapat menjadi landasan bagi perjuangan gerakan pertanian. Penelitian ini berusaha untuk memahami paradigma pemikiran munisipalisme libertarian dalam menjawab tantangan lingkungan dan masyarakat melalui demokrasi langsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan studi literatur. Teknik pengumpulan data yang digunakan melibatkan pemahaman dan mempelajari teori dari berbagai sumber literatur. Menggunakan metode analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data dan pengambilan keputusan. Studi ini menyoroti pentingnya memahami isu-isu pertanian karena kurangnya demokrasi lokal dengan melibatkan partisipasi politik masyarakat dalam menentukan kebijakan. Munisipalisme libertarian bertujuan untuk menciptakan ruang publik untuk pemerintahan yang otonom, mengatasi parlementerisme dan mekanisme partai. Gerakan agraria dengan berprinsip demokrasi langsung munisipalisme libertarian harus melibatkan masyarakat luas, memberikan pendidikan publik, dan membuka diri terhadap partisipan. Gerakan ini harus mampu mengatasi kapitalisme, konsumsi yang berlebihan, dan manipulasi lingkungan yang terjadi. Hal ini menekankan pada demokrasi lokal, desentralisasi, dan kekuatan masyarakat lokal. Prinsip-prinsipnya meliputi pembangunan ekonomi, demokratisasi, proses pengambilan keputusan, komunitas sosial dan ekologi, dan partisipasi warga.
Memobilisasi Modal untuk Melawan Perampasan Tanah oleh Negara di Persil IV, Sumatera Utara, Indonesia Elida, Linda; Lubis, Ahmad Sayyidulhaq Arrobbani; Damanik, Ahmad Taufan
Society Vol 13 No 3 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i3.964

Abstract

Agrarian conflicts in Indonesia are shaped by persistent inequalities in land access and control, where the state, through legal frameworks and state-owned enterprises, plays a central role in legitimizing dispossession. This study examines how rural communities mobilize different forms of capital to resist state-led land grabbing in Persil IV, North Sumatra. Drawing on Pierre Bourdieu’s theory of capital, the analysis focuses on how economic, social, cultural, and symbolic resources are strategically deployed to sustain collective resistance. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews  with community members, local leaders, and activists involved in the conflict, complemented by field observations and analysis of legal and historical documents, and analyzed through an iterative thematic coding process.  The study draws on empirical material generated from prolonged engagement in the field to identify three interrelated dynamics of resistance. First, economic capital supports the financing of legal action and collective mobilization,  as reflected in community practices of pooling resources and personal asset sacrifice to sustain litigation and reclaiming activities. Second, social capital expressed through internal solidarity and external alliances strengthens organizational capacity and expands advocacy networks,  including collaboration with student groups and non-governmental organizations. Third, cultural and symbolic capital articulated through historical narratives, legal documents, and moral claims generate legitimacy and reinforce community claims to land, particularly through the continued use of cultivation permits and everyday land occupation practices.  However, the findings also show that these forms of capital operate within a structurally unequal field, where legal uncertainty, coercive pressure, and institutional bias limit their effectiveness. While communities are able to sustain resistance over time, their capacity to secure definitive land rights remains constrained by the dominance of state and corporate actors.  This study contributes to agrarian political economy and rural sociology by providing an empirically grounded account of how capital is mobilized, combined, and constrained in a prolonged agrarian conflict, showing that resistance is sustained not only through material resources but through socially embedded practices shaped by unequal power relations.